Kemitraan Kapitalisme/Rasisme

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: www.mondobio.de

 

Kawan-kawan,

DALAM surat pertama ini, saya ingin bercerita tentang hubungan saling menguatkan antara kapitalisme dan rasisme, dengan contoh kasus Amerika Serikat (AS) melalui lensa W.E.B. DuBois[1].

Menyusul perayaan ulang tahun ke-150 DuBois, karya-karyanya menawarkan lensa untuk menilai hubungan kapitalisme Amerika Serikat (AS) dengan rasisme saat ini. Dia terkenal menulis: “Kapitalisme tidak bisa mereformasi dirinya sendiri; kapitalisme ditakdirkan untuk menghancurkan dirinya sendiri (self-destruction),” sembari menambahkan bahwa di AS, ras akan menjadi masalah utama dalam proses penghancuran diri-sendiri itu. Dengan demikian, ia memiliki banyak hal untuk dikatakan ketika dalam perayaan Memorial Day lalu, Donald Trump menyatakan bahwa para pemain NFL (The National Football League) yang secara damai memprotes pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam bukanlah bagian dari “negara ini.”

Saat ini, agenda ekstrim kapitalis sayap-kanan sedang bersimaharajalela. Hal ini menyebabkan tujuan-tujuan kapitalis swasta – privatisasi dan deregulasi; pemotongan pajak untuk perusahaan-perusahaan dan orang-orang kaya, dan subsidi-subsidi kepada mereka — menjadi terealisir setelah sekian lamanya hanya berupa opini. Eforia gila kapitalis ini tidak membuatnya belajar untuk mawas diri dari bencana dahsyat terkait krisis tahun 1929 dan 2008.

Percepatan menuju kehancuran kapitalisme itu secara logis disimbolkan dan dipimpin oleh Trump. Namun apa yang membuatnya mungkin, di atas semuanya, adalah absennya oposisi yang serius dan terorganisir seperti yang sangat sukses terjadi selama Depresi Besar oleh koalisi New Deal dari serikat pekerja industrial, dua partai sosialis, dan satu partai komunis. Setelah 1945, akibat serangan Partai Republik dan persekongkolan yang dilakukan partai Demokrat, Koalisi New Deal itu kemudian bubar dan upaya-upaya selanjutnya untuk membangunnya kembali selalu berakhir dengan kegagalan. Hal ini memberikan peluang pada kebangkitan kapitalis dan konsekuensinya adalah kembalinya lagi dorongan lain menuju krisis. Ketika krisis meledak pada tahun 2008-2009, ketiadaan oposisi kiri yang serius menghalangi munculnya koalisi baru seperti New Deal. Setelah 2008, kita hanya bisa menyaksikan dilaksanakannya kebijakan dana talangan (yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang dilakukan FDR pada 1930-an) untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang diambang kebangkrutan. Karena abai pada sejarah kapitalisme ini, kepemimpinan Partai Demokrat moderat hari ini hanya menunggu kejatuhan Trump dan kemudian melanjutkan warisan Clinton: jalan lain menuju krisis.

Meskipun tidak ada oposisi luas berbasis nasional yang eksis di AS, sudah ada tanda-tanda kelahirannya. Guru sekolah negeri — sebagian dengan dan sebagiannya lagi tanpa dukungan serikat — pada akhirnya menjadi aktif melawan pemotongan anggaran sekolah negeri yang dipercepat di bawah menteri pendidikan Betsy DeVos yang mengerikan. Sukses besar dari aksi para guru di West Virginia menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh oposisi serius dan terorganisasi. Demikian juga anak-anak sekolah menengah dari Parkland, Florida, yang mengorganisir perlawanan terhadap organisasi pembela hak individu untuk memiliki senjata (gun lobby), menghina para munafikun dan para pemberi janji-janji palsu. Pertimbangkan juga organisasi yang berkembang biak dari dan untuk koperasi pekerja sebagai alternatif demokratis dari perusahaan kapitalis yang diorganisir secara tidak demokratis.

Masih ada lebih banyak contoh, tetapi yang secara mendasar penting adalah ini: perubahan sosial membutuhkan oposisi yang terorganisir dan serius terhadap kemapanan (status quo). Semakin jauh perubahan sosial bergerak maju, semakin dibutuhkan dukungan yang terorganisir dalam oposisi yang serius. Mengalahkan politisi tertentu membutuhkan lebih sedikit pengorganisasian dibandingkan untuk mengalahkan partai politik dan, pada gilirannya, dibutuhkan pembentukan sebuah transisi menuju ekonomi yang lebih baik dan berbeda.

DuBois memahami bahwa dorongan kapitalisme pada penghancuran dirinya sendiri itu pada akhirnya akan mendorong upaya terakhir bagi penyelamatan sistem tersebut. Inilah yang kini kita saksikan dalam bentuk deregulasi ekstrim, pemotongan pajak untuk bisnis dan orang kaya, dll. yang dilakukan oleh rezim Trump. Gelembung dan resesi berikutnya yang sedang mereka bangun, ditambah pendapatan ekstrim dan ketidaksetaraan kekayaan yang semakin buruk adalah tanda-tanda akan munculnya oposisi yang serius. Demikian juga upaya untuk mengalihkan perhatian dari kritik-sistem dan terhadap kambing hitam terpilih, terutama imigran non-kulit putih. Kebencian yang dibangun melalui tabir kemunafikan, rasisme, dan nasionalisme nyaris menutupi kegagalan abadi kapitalisme dalam menyediakan pekerjaan dan pendapatan yang dibutuhkan orang.

DuBois membagi kerja-kerja politiknya antara menyeru kepada orang-orang Afrika-Amerika (warga kulit hitam) untuk melawan kapitalisme (anti-kapitalisme) dan kepada kaum sosialis untuk melawan rasisme (anti-rasisme). Dalam pandangannya, tidak ada program untuk membangun sosialisme di AS yang dapat berhasil atau bertahan selama warga kulit hitam tetap menjadi buruh atau sebagai pengangguran. Demikian juga, tidak ada program yang mungkin untuk menghapus rasisme dalam sistem kapitalis AS.

Rasisme di AS telah merembes jauh ke dalam sistem ekonomi, politik, dan budaya AS sejak permulaannya. Ia telah menyesuaikan diri dengan kapitalisme dan demikian sebaliknya. Saling ketergantungan atau kemitraan keduanya sangat terstruktur. Jadi, misalnya, kapitalisme AS dapat menggunakan rasisme sebagai solusi atas dua fitur terburuknya: ketidakstabilan dan ketidaksetaraan. Siklus-siklus bisnis yang membayangi kapitalisme mengancam seluruh kelas pekerja dengan pengangguran, kemiskinan, dan lain-lain secara berkala. Ancaman konstan itu – juga kekalahan berulangkali kelas pekerja – beresiko memprovokasi perlawanan kelas pekerja terhadap kapitalisme sebagai sebuah sistem. Rasisme memfasilitasi percepatan risiko dan biaya ketidakstabilan ke komunitas kulit hitam. Mereka menjadi yang terakhir kali dipekerjakan, tetapi menjadi yang pertama kali dipecat. Sebagian besar warga kulit putih bisa keluar dari ketidakstabilan kapitalisme atau menderita lebih sedikit darinya. Argumen rasis kemudian menyalahkan warga kulit hitam atas pengangguran dan kemiskinan mereka dengan membandingkannya dengan kebanyakan orang kulit putih. Dengan cara ini, rasisme dan kapitalisme saling memperkuat.

Secara paralel, makin lebarnya jurang ketimpangan akibat kapitalisme tak henti-hentinya mengancam seluruh kelas pekerja dengan kemiskinan relatif dan sering juga absolut. Rasisme menempatkan warga kulit hitam ke tempat terbawah distribusi pendapatan dan kekayaan (melalui perekrutan rasis, perumahan, sekolah, kebijakan publik, dan perilaku). Banyak orang kulit putih merasa kurang terancam oleh dorongan kapitalisme ke ketidaksetaraan yang semakin besar karena bagian yang tidak proporsional dari ketidaksetaraan itu dibuang ke komunitas kulit hitam. Orang kulit putih memiliki penjelasan yang ajek bahwa “ketimpangan itu bisa menjadi lebih buruk” karena bersumber dari kondisi kehidupan komunitas kulit hitam itu sendiri.

Kemitraan antara anti-kapitalisme dan anti-rasisme dalam gerakan sosial dan dalam wacana publik bisa menghancurkan kerjasama saling menguatkan antara rasisme dan kapitalisme dan karenanya mempercepat perubahan sosial yang progresif. Kapitalisme hari ini mencakup kontradiksi yang mendorong ke arah penghancurannya. Stagnasi upah jangka panjang dan perubahan teknis yang digerakkan oleh perburuan laba kian menyasar semakin banyak warga kulit putih, sebuah kondisi yang sebelumnya terbatas pada mayoritas warga kulit hitam. Tidak heran jika kehancuran rumah tangga, ketergantungan obat, dll yang selama ini menimpa warga kulit hitam, kini juga semakin mewabah di kalangan warga kulit putih.

Kebangkitan supremasi kulit putih melambangkan kecemasan tentang memburuknya kondisi-kondisi kapitalisme dan rasisme yang sebelumnya tidak berpengaruh bagi warga kulit putih.. Ini adalah sisi lain dimana warga kulit putih harus mengakui posisi dasar mereka sebagai buruh di dalam kapitalisme seperti halnya warga kulit hitam. Perkembangan terbaru kapitalisme (terburu-buru untuk memprivatisasi, memotong pajak, mengekspor pekerjaan, mengotomatiskan, dll.) mendorong kaum konservatif (tidak hanya Trump) untuk memupuk supremasi kulit putih melawan solidaritas kelas pekerja yang diciptakan oleh sistem itu sendiri. Dalam terang konsep DuBois tentang “penghancuran diri-sendiri” kapitalisme, mungkinkah polarisasi politik (Trump), ideologi, budaya, dan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan serangkaian tanda?***

 

Richard D. Wolff adalah pensiunan professor ilmu ekonomi di Universitas Massachusetts, Amherst, dimana ia mengajar ilmu ekonomi dari tahun 1973 hingga 2008. Saat ini adalah profesor tamu di program pasca sarjana hubungan internasional di Universitas New School, New York City. Richard juga secara regular mengajar kelas-kelas di Brecht Forum di Manhattan. Bukunya antara lain: Capitalism’s Crisis Deepens: Essays on the Global Economic Meltdown( 2016); Democracy at Work: A Cure for Capitalism (2012); Occupy the Economy: Challenging Capitalism (2012); Contending Economic Theories: Neoclassical, Keynesian, and Marxian (2012); dan Capitalism Hits the Fan: The Global Economic Meltdown and What to Do About It (2009). Arsip penuh dari karya Richard, termasuk video-video dan podcast-podcast bisa diperoleh di websitenya . Follow Richard di Twitternya: @profwolff

 

———–

[1] William Edward Burghardt “W. E. B.” Du Bois, adalah (23February, 1868 – 27 Augustus, 1963) adalah sosiolog Amerika dan warga kulit hitam (African-America) pertama yang meraih gelar doktor dan menjadi profesor sejarah, sosiologi, dan ekonomi di Atlanta University. DuBois adalah salah satu pendiri dari the National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) pada 1909. Selanjutnya lihat https://en.wikipedia.org/wiki/W._E._B._Du_Bois (catatan kaki dari penerjemah).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus