Baper Berujung Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: iLikeSticker.com

 

APA dampak terburuk yang bisa terbayangkan dari baper—bawa-bawa perasaan? Tercederainya perkawanan? Kehilangan pekerjaan? Ataukah, seperti yang dialami Jay Gatsby, tokoh dalam novel F. Scott Fitzgerald, terbunuh dalam keadaan jomblo kendati semua yang diperjuangkannya dalam hidup ialah untuk menanggalkan kejombloannya?

Satu kisah dampak baper yang saya tahu cukup menakjubkan—setidaknya, lebih menakjubkan dibanding contoh-contoh barusan—adalah yang dialami Simon Hendrik Spoor, Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di kurun paling berkecamuk sejarah Indonesia, revolusi kemerdekaan.

Dan dampak bapernya?

Kurang-lebih semua kenyataan politik Indonesia modern sejauh mata memandang. Indonesia yang tak lagi berada di bawah penjajahan Belanda. Indonesia yang tak lagi melanggengkan supremasi kulit putih-sekurangnya di permukaan. Pun tentu saja, Indonesia di mana kesenjangan kekayaan tak dipermasalahkan sepanjang ia terkepul di kantung jahanam dari kelompok agama dan etnisitas yang sama. Dan Indonesia yang membuktikan kelaliman dan kekejaman spektakular tak membutuhkan perbedaan warna kulit.

Hemat kata, ekses dari kebaperan Spoor cukup kolosal: tamatnya kolonialisme Belanda. Belanda, Daud yang menaklukkan Goliat, akhirnya takluk. Mereka tak punya pilihan selain merelakan zamrud dari timurnya, Hindia Belanda.

Tentu saja, sebelum saya disambit saya juga perlu menyinggung, para pelaku revolusi Indonesia punya andil yang tak bisa ditampik dalam melesatkan hantaman-hantaman terakhir ke usaha Belanda mempertahankan rezim kolonialnya. Indonesia selepas 1945 bukan lagi Indonesia yang ditinggal Belanda pada 1942. Insan-insan yang selama ini dianggap jinak dan kanak-kanak akan mengenyakkan Belanda yang kembali karena mereka, di mata Belanda, sudah menjadi para “ekstremis” yang “haus darah.”

Namun, Spoor bertanggung jawab untuk operasi-operasi militer KNIL yang mengandaskan reputasi Belanda di panggung internasional. Ia adalah sang penggali kubur untuk rezim kolonial yang mengira dirinya tengah melanggengkannya. Pada hari-hari revolusi kemerdekaan, Belanda, berkatnya, tak bisa dilepaskan dari sejumlah kekejaman mengerikan. Pertama-tama, pembantaian Westerling yang merenggut empat puluh ribu jiwa di Sulawesi Selatan tentu. Lantas, eksekusi semua lelaki di Rawah Gedeh, pembakaran hidup-hidup rakyat di Bandung, serta kecerobohan yang mengakibatkan 46 tawanan perang Indonesia meninggal kehabisan napas dalam gerbong kereta di Bondowoso.

Apa kata Spoor menanggapi kecaman-kecaman pihak Republik? “Wajar saja!” tegasnya. “Kami bukan malaikat!”

Dan kesalahkaprahan sang panglima paling paripurna tak lain adalah Operasi Gagak, yang juga menyandang sebutan Agresi Militer Belanda II. Operasi militer ini sukses meringkus para pemimpin Republik. Akan tetapi, kemenangan taktis ini tak dengan sendirinya menjadi kemenangan politik. Sebaliknya malah, negara-negara kehilangan simpatinya terhadap Belanda. Belanda sudah melanggar batas. Dan batas terakhir ialah ketika pemerintah Amerika Serikat kecipratan tuduhan turut mendanai aksi imperialisme tersebut yang diresponsnya dengan ancaman akan menghentikan Marshall Aid untuk Belanda.

George Kennan, pejabat Departemen Luar Negeri AS berpengaruh saat itu, menyebut manuver tersebut “kedunguan Belanda yang keterlaluan.”

Pertanyaannya kini, apa yang sebenarnya mendorong manuver-manuver gegabah KNIL? Perhitungan politik yang keliru belaka? Ketidakcermatan menangkap ke mana arah simpati kekuatan-kekuatan besar dunia melenting?

Saya lebih sreg untuk mengatakan, mungkin kebaperan belaka.

Dan salah satu bukti kebaperan Spoor yang paling gamblang bisa kita temukan dari laporan rahasia yang disusunnya pada 13 September 1948.[1] Dalam memorandum yang lantas diterjemahkan Kedutaan Besar Belanda di Amerika Serikat untuk Kemenlu AS tersebut, Spoor mengandaikan Indonesia sebagai calon mempelai wanita yang bermasalah kejiwaannya. Belanda, sementara itu, diumpamakannya sebagai sang calon mempelai pria yang berakal sehat, menghendaki yang terbaik, serta—sebagaimana sebuah lirik lagu mendayu-dayu—“selalu yang mengalah.”

“Sang calon mempelai wanita,” lanjut Spoor, “bukan saja menolak untuk hadir di gereja [pada hari pernikahan].” Calon mempelai wanita juga memprovokasi teman-temannya untuk berkomplot melawan calon mempelai pria di pengadilan, bermain hati dengan pria-pria lain, bahkan membiarkan dirinya terjerat oleh sang paman besar yang hanya menghendaki harta dan keluguannya. Pernikahan semestinya dibatalkan, ujar Spoor, dan calon mempelai wanita dirawat di rumah sakit jiwa. Namun, keluarga besar menuntut agar pernikahan tetap dilangsungkan. Tak heran, ujarnya, bila sang calon pengantin pria kian hari kian merasa tidak nyaman.

Maksud dari perumpamaan berbelit-belit tersebut akan segera terang bila kita menengok kemelut politik yang dihadapi Spoor waktu itu. Spoor merasa Amerika Serikat dan PBB memaksa Belanda hidup berdampingan dengan Republik Indonesia kendati, menurut dia, Republik tak pernah menghormati mereka. Republik, tentara, serta laskarnya sedari awal tak menjunjung ketentuan bahwa Belanda masih mempunyai hak atas Indonesia. KNIL tak putus-putusnya digusarkan dengan perlawanan tentara nasional dan para laskar. Republik terus menggalang dukungan dari sesama “teman-teman rumpinya”—negara-negara bekas jajahan yang juga tengah berjuang memperoleh pengakuan kemerdekaan. Republik, bahkan, menunjukkan gelagat-gelagat meminta Uni Soviet, sang paman besar, berpihak padanya.

Percayalah, laporan sarat drama ini bukan saja laporan resmi. Ia disusun oleh pejabat militer paling berpengaruh dari pihak Belanda pada waktunya.

Mau apa Spoor dengan gelagat pasif agresifnya tersebut? Berharap dunia membenarkan bahwa Belanda adalah pihak yang dizalimi dan patut menuai belas kasihan? Apa yang menjadi terang justru adalah semua siasat Republik wajar adanya. Dan Belanda, kalaupun perumpamaan Spoor benar, pastilah mempelai pria yang ringan tangan, posesif, dan cuma mementingkan perasaannya sendiri.

Bergeming menanti Belanda kembali selepas kekalahan Jepang adalah pilihan konyol, terlebih untuk mereka yang hidup lama di bawah rezim ekonomi maupun politiknya yang rasis. Tak menggalang dukungan dari negara-negara senasib sepenanggungan adalah menjadikan diri sasaran terbuka kesewenangan negara kuat. Dan berdiam kala menjadi bidikan operasi militer angkatan bersenjata perkasa dibekingi sekutu, tentu saja, bahkan bukan pilihan yang waras. Tetapi, apa pandangan Spoor, panglima tertinggi angkatan bersenjata perkasa yang perasaannya tersakiti oleh semut-semut Republik yang semata tak ingin diinjak? Ia ingin Indonesia menjadi mempelai wanita yang serba menurut saja—tak melakukan semua hal yang bahkan dapat menolong dan memberdayakan dirinya.

Hanya dengan demikian, menurut Spoor, Indonesia ada pada tempatnya.

Baper? Pasti. Saya tak tahu sebutan lain untuk obsesi tak sehat semacam yang diidap Spoor ini.

Dan dengan keposesifan tak masuk akal tersebut, lumrah saja ia tidak mengindahkan apa pun dalam memastikan Indonesia kembali ke pangkuan Londo. Pada Mei 1949, Spoor meninggal dunia. Siaran pers menyebutkan, ia mengalami serangan jantung. Akan tetapi, sebelum itu ia nampaknya dilanda gangguan saraf. Kewajiban melepaskan Indonesia menghancurkannya. Ia merasa ditusuk dari belakang oleh para politisi di Hague. Nyawa prajuritnya terbuang sia-sia di medan perang. Bukan tidak mungkin, mimpi buruk ini punya andil dalam kematiannya.

Kini, tujuh puluh tahun berselang, Anda boleh berpikir peyorasi-peyorasi yang melekati Indonesia di hari-hari revolusi sudah menjadi kenangan masa silam nan jauh. Namun, terka apa? Plot twist: Indonesia kini mewarisi obsesi beracun Spoor. Dia, Indonesia kita tercinta, hari-hari ini acap menggunjingkan korban penggusuran, pembangunan pabrik dan tambang, perampasan lahan, serta eksploitasi dan penindasan bertahun-tahun sebagai para pengacau yang sebenarnya sudah dikompensasi sebaik-baiknya. Perasaannya yang halus terluka ketika orang-orang ini melawan semata karena tak ingin lumat tergilas. Dan, selanjutnya, ia akan melekatkan mereka dengan identitas-identitas nista yang membuat dirinya sendiri tak sabaran, begitu menggebu-gebu menumpas mereka.

Tujuh puluh tahun sepeninggal Spoor, kebaperan otoriternya hidup dan berdenyut kencang. Di antara mereka yang dulu terjajah dan kini menjadi penjajah, lucunya.

Dirgahayu Republik Indonesia.***

 

Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi, Universitas Heidelberg, Jerman

 

———-

[1] Laporan Spoor termuat dalam tulisan Frances Gouda, “Languages of Gender and Neurosis in the Indonesian Struggle for Independence”, Indonesia, Vol. 64, Oktober 1997, hal 45-76. Tautan https://ecommons.cornell.edu/handle/1813/54129. Data untuk tulisan ini diambil dari tulisan tersebut selain juga dari Frances Gouda, American Visions of the Netherlands East Indies/Indonesia: US Foreign Policy and Indonesian Nationalism, 1920 -1949, Amsterdam: Amsterdam University Press, 2002; George McT. Kahin, Southeast Asia: A Testament, London, New York: Routledge, 2003; Theodore Friend, Indonesian Destinies, Cambridge: The Belknap Press of Harvard University Press, 2003.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus