Inneke

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: news.detik.com

 

INNEKE Koesherawati: Saya mengenal namanya pertama kali di sebuah bioskop kumuh di daerah Shopping Center di Jogja. Ketika itu, saya ikut mengasuh sebuah program pelatihan. Pesertanya adalah penerima beasiswa dari sebuah lembaga. Kami hanyalah sub-kontraktor untuk memberikan ‘pembekalan.’

Pesertanya adalah para mahasiswa. Sebagian besar kelompok mahasiswa S-1. Namun beberapa kali mahasiswa S-2 juga ikut di dalamnya. Program kami ingin memadukan antara sisi intelektual dan sisi sosial.

Kami ingin peserta program ini, para penerima beasiswa itu, selama beberapa hari merenungkan apa hubungan antara keterampilan akademis yang didukung oleh pemberi beasiswa dengan fungsi sosial. Untuk itu, kami memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat hidup sehari-hari. Bukan hidup sehari-hari sebagaimana yang mereka alami. Tapi hidup sehari-hari orang-orang kebanyakan yang seringkali mangkir dari penglihatan mereka.

Pendeknya, kami ingin mereka mengenal apa yang mereka hilangkan dari pandangan mereka.

Salah satu bagian dari program itu adalah menonton pertunjukan. Kalau kebetulan ada Sekatenan, maka dangdut adalah tontonan mereka. Namun yang paling sering adalah mereka diharuskan menonton film Indonesia. Tempat menonton pun bukan bioskop yang mewah. Namun bioskop sekelas Bioskop Yogya atau Senopati di Shopping Center.

Saya kadang menjadi pembimbing diskusi usai mereka menonton. Kadang saya harus mendahului menonton kalau saya tidak bisa menemani peserta pelatihan.

Bioskop itu memang untuk apa yang sering kita sebut ‘golongan bawah.’ Penonton hampir 100 persen laki-laki. Dan film yang diputar selalu film dengan nuansa erotis. Kalau tidak tentang pergaulan bebas anak-anak orang kaya metropolitan, maka film-film dengan bau mistis. Ujung-ujungnya kedua-duanya selalu penuh dengan adegan-adegan ranjang setengah telanjang. Kalau sudah begitu, penonton akan riuh tepuk tangan dan ribut berkomentar.

Di sanalah saya pertama kali berkenalan dengan Inneke Koesherawati. Tentu masih ada artis lain seperti Suzanna atau Eva Arnaz. Karena seringnya ada pelatihan, saya menonton beberapa film yang dibintangi Inneke. Salah satu ciri khas dari Inneke adalah bahwa di filmnya dia sedikit sekali melakukan dialog. Yang kebanyakan di ambil adalah gambar dia tersenyum dengan tubuhnya yang setengah telanjang.

Saya pun mahfum. Kemampuan akting dia terbatas. Lagipula orang datang ke gedung bioskop untuk melihat tubuhnya. Bukan aktingnya. Film-film seperti ini juga tidak memiliki alur cerita yang jelas. Sekali lagi, siapa yang peduli? Setiap ada kesempatan, yang ditampilkan adalah adegan dimana perempuan bisa berpakaian seminim mungkin.

Lama saya tidak mendengar nama Inneke Koesherawati. Saya memang ada mendengar suaminya menjadi salah satu pesakitan dalam kasus korupsi pengadaan alat komunikasi Bakamla. Suaminya menjadi terpidana kasus korupsi.

Baru minggu kemarin, nama Inneke muncul lagi. Kali ini, bukan hanya suaminya, namun dia juga tertangkap dalam operasi KPK di LP Sukamiskin. Hingga saat ini belum terlalu jelas apa yang menjadi sebab dia tertangkap. Hanya saja muncul dugaan bahwa dia terlibat dalam konspirasi penyuapan Kepala LP Sukamiskin.

Namun ada persoalan lain di balik tertangkapnya Inneke. Orang (terutama laki-laki) mulai membongkar film-film lama Inneke. Orang membicarakannya. Mereka membuat lelucon. Beberapa melontarkan sinismenya sekalipun Inneke sudah merubah image-nya dari seorang artis yang mengeksploitasi tubuh ke kecantikan. Dia pun sekarang tampak relijius.

Di sisi lain, ada banyak juga laki-laki yang mencereweti kehadiran Inneke di LP Sukamiskin adalah untuk memberi ‘nafkah batin’ suaminya. Ini adalah kata lain dari memenuhi kebutuhan seksual suaminya. Pendeknya, di mata laki-laki, segala sesuatu tentang Inneke adalah soal seksual. Sesuai dengan imajinasi laki-laki tersebut.

Sementara, di sisi lain, saya menangkap banyak keluhan kaum perempuan terhadap tingkah laku para lelaki yang seakan-akan merendahkan Inneke. Mengapa para lelaki ini tidak melakukan hal yang sama jika pelakunya laki-laki? Mengapa harus mengeksploitasi seksualitas Inneke yang sudah ditinggalkannya?

Terus terang, sekalipun perdebatan ini menarik, tidak mudah bagi saya untuk mengambil posisi. Saya bukan ahli dalam soal gender dan perempuan. Ini adalah bidang yang saya amat lemah. Namun, di sisi yang lain, saya juga tidak merasa nyaman jika orang hanya menggali sisi seksual Inneke.

Saya teringat pada pelatihan-pelatihan yang pernah saya berikan lebih dari 25 tahun silam itu. Peserta pelatihan diberi pertanyaan yang kira-kira bunyinya: Siapa yang menonton film itu? Kira-kira untuk apa mereka menonton? Apa kira-kira yang mereka bayangkan kalau menonton? Apa adegan yang paling menarik perhatian Anda dan penonton lainnya? Apa reaksi mereka? Apa kira-kira yang membuat mereka bereaksi demikian?

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Ketika diskusi selalu muncul perbedaan antara lelaki dan perempuan. Situasi akan bertambah panas jika ada perempuan yang sudah belajar tentang gender di antara peserta (di antara pendamping pun selalu ada mereka yang ahli gender dan perempuan).

Reaksi yang seringkali muncul adalah perempuan seperti Inneke mengalami eksploitasi oleh industri perfilman – yang memang saat itu mati suri akibat monopoli gedung bioskop oleh keluarga Suharto lewat Sudwikatmono (Group 21). Baik laki-laki maupun perempuan menerima jawaban bahwa perempuan seperti Inneke adalah korban sistem kapitalis. Dalam hal ini kapitalisme dunia hiburan.

Sebenarnya, demikian selalu kesimpulan kami, korban adalah juga mereka yang menonton. Mereka dibukakan pintu selebar-lebarnya menyalurkan nafsu rendah kelaki-lakian mereka.

Pandangan saya agak goyah ketika saya menjadi mahasiswa Pasca Sarjana. Ketika itu, saya mendapat ruangan kantor di sebuah gedung tua yang cantik, The Kahin Center, Universitas Cornell. Di sana saya berteman dengan sesama mahasiswa Pasca. Teman saya itu, Nina (nama belakangnya tidak saya sebutkan), adalah seorang feminis sekaligus lesbi. Kami banyak berdiskusi tentang berbagai macam isu. Kerapkali disela makan siang atau di dapur ketika rehat bikin kopi.

Suatu saat, diskusi berbelok ke arah feminisme. Satu-satunya yang saya ingat adalah bahwa Nina mengatakan dia sangat menentang konsep perempuan adalah ‘korban’ (victim). Sementara, di mana-mana saya selalu mendengar bahwa perempuan adalah korban dari patriarki (kekuasaan dari kaum lelaki).

Perempuan bukan sebuah ‘agency’ atau seorang individu yang mampu bertindak secara merdeka dan memiliki kekuasaan untuk mengambil putusan secara bebas. Perempuan adalah korban karena dia lemah. Dia tidak berdaya di hadapan kekuasaan patriarki yang demikian hegemonik. Dia tidak punya kekuatan – baik fisik maupun mental.

Lawannya adalah perempuan yang benar-benar berdiri sebagai ‘agency,’ yang merebut kuasa khususnya dalam sistem patriarki. Dalam konsep ini, secara sederhana, perempuan berjuang untuk kesetaraan karena perempuan memang memiliki kekuatan untuk menjadi setara dengan pria. Perjuangan ini tidak mudah. Konsep ini dikenal dengan sebutan ‘power feminism.’ Perempuan akan selalu berusaha ‘shattered the glass ceilings’ memecahkan langit-langit kaca dari sistem patriarki.

Sekali lagi, saya tidak ahli feminisme dan tidak pernah belajar gender secara serius. Namun, saya bersimpati pada feminisme dan perjuangan untuk menyetarakan perempuan. Dengan perangkat ini, kita kembali ke kasus Inneke. Bagaimanakah kita harus memandang Inneke dalam hal ini? Adakah dia adalah ‘korban’? Ataukah dia sebenarnya bertindak sebagai ‘agency’ sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘power feminism’?

Saya cenderung melihatnya dalam kacamata yang kedua. Taruhlah misalnya, dalam kasus-kasus filmnya di tahun, 1990an, saya cenderung mengatakan bahwa Inneke bertindak sebagai ‘agency’ ketika memutuskan untuk terjun ke dalam industri ini. Saya tidak meragukan sedikit pun bahwa dia berpartisipasi dalam keputusan itu. Dia bertindak sebagai ‘consenting adults’ (setuju sebagai orang dewasa yang cakap untuk membuat keputusan).

Saya di sini tidak hendak memberikan penghakiman moral. Bagi saya ini sah-sah saja. Apapun motifnya, entah ekonomis, entah popularitas (yang ujung-ujungnya ekonomis juga), atau entah akses ke kekuasaan politik. Dia dengan sadar memilih apa yang sudah dia pilih. Tentu dia juga sadar akan konsekuensi dan tanggungjawabnya.

Bahwa kemudian Inneke menjalani hidup yang lain, itu juga pilihan yang sadar. Dia menjadi semakin relijius dengan busana yang dia pakai. Namun, salahkah jika orang menafsir bahwa busana yang dia pakai sebenarnya adalah juga pernyataan yang pada dasarnya berhubungan dengan keputusan yang diambilnya ketika memilih untuk menjadi artis jenis film yang ia bintangi?

Demikian pula ketika dia tertangkap tangan bersama suaminya di LP Sukamiskin. Inneke sesungguhnya mengadili dirinya sendiri dengan ukuran yang dia buat sendiri. Dia memilih untuk tampil relijius. Sama seperti dia melakukan monetisasi terhadap tubuhnya pada tahun 1990an, kini dia pun melakukan monetisasi dengan religiositasnya.

Sekali lagi, saya tekankan, tidak ada yang salah dari itu. Banyak orang melakukan monetisasi atas keyakinan agamanya. Banyak artis, atlet, politisi, atau selebriti dan sosialita lainnya melakukan itu. Faktanya, monetisasi religiositas adalah yang paling menguntungkan di Indonesia pada saat ini. “Captive market”-nya sedemikian besar.

Ketika dia tertangkap, orang dengan segera menangkap kontradiksi antara penampilannya yang religious dengan noda korupsi. Orang kemudian mengukurnya dari citra yang dia bikin. Dan, menurut saya, dalam peradilan opini publik (the court of public opinion), hal-hal seperti itu tidak bisa dihindarkan.

Apakah semua tindakan Inneke ini menjustifikasikan ‘social media bullying’ yang dilakukan sebagian laki-laki terhadap Inneke? Sama sekali tidak. Bullying adalah soal kekerasan.

Isu ini memiliki dimensi yang cukup rumit. Saya percaya bahwa Inneke memiliki kekuasaan (power) sebagai individu. Dia cakap membuat keputusan dan cakap bertanggungjawab atasnya. Saya tidak terlalu yakin bahwa dia adalah ‘korban’ karena dia perempuan.

Sama seperti orang-orang dengan identitas tertentu (kulit hitam di Amerika, misalnya) menentang aksi afirmatif (affirmative action) karena aksi afirmatif hanya mendudukkan mereka sebagai orang lemah. “Oh, pantas kamu diterima di Ivy League, karena kulit hitam dapat jatah di sana.” Aksi afirmatif adalah pengakuan terhadap kelemahan. Aksi afirmatif adalah pemberian privilese (hak istimewa) atas kelemahan. Di sinilah cacat moralnya.

Dengan tidak mendudukkan Inneke sebagai korban, saya kira, kita berbuat adil kepada jutaan perempuan yang dengan kekuatannya menjadi setara atau melebihi laki-laki. Mereka yang kuat dan berani berhadapan dengan tirani kekuasaan.

Tiba-tiba, saya teringat pada ibu-ibu berhijab di Kulonprogo, yang berdiri menantang bulldozer dan aparat kepolisian. Dia, ibu-ibu ini, tidak saja menentang bulldozer namun juga menentang penguasa, lokal dan nasional. Inilah perempuan yang tidak butuh privilese. Kepada dialah seharusnya solidaritas kita arahkan. Kepada dialah perjuangan akan kesetaraan seharusnya kita jalani. ***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus