Hari-hari Operasi Cigugur
LIPUTAN KHUSUS Kisah tentang petani dan aktivis menghadapi kesewenang-wenangan polisi SABTU, 14 JUNI 2008. Jarum jam menunjuk pukul tiga sore. Matahari bergerak perlahan menuju pembaringannya.
LIPUTAN KHUSUS Kisah tentang petani dan aktivis menghadapi kesewenang-wenangan polisi SABTU, 14 JUNI 2008. Jarum jam menunjuk pukul tiga sore. Matahari bergerak perlahan menuju pembaringannya.
‘Membayangkan dunia tanpa petani/pertanian sama seperti membayangkan hidup tanpa pangan. Demikian pula, membayangkan negara yang abai pada rakyat sama seperti membayangkan negara tanpa kedaulatan. Saat ini, angan-angan (imajinasi) gelap itu justru hendak diwujudkan oleh penyelenggara negara, dengan cara menjadi budak/antek-antek korporasi.’
Demikian bunyi paragraf pertama dari ‘Pernyataan Sikap Kongres Petani Otonom II, Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA).’ Sekitar pukul 14.00 WIB, pernyataan sikap itu dibacakan oleh Sumanto, petani dari Kulon Progo, di salah satu ruang milik Pondok Pemuda Ambarbinangun, Yogyakarta.
Seperti yang dipahami masyarakat adat Molo di pulau Timor, bagi mereka alam bagai tubuh manusia. Tanah adalah daging, air adalah darah, gunung batu adalah tulang, sementara hutan dan dan rambut adalah kulit dan paru-paru. Filosofi inilah yang mendasari lahirnya bentuk-bentuk relasi sosial politik, ekonomi dan budaya orang Molo dengan lingkungannya turun temurun sejak nenek moyang mereka. Pun masyarakat adat lainnya, yang biasanya memahami tanah sebagai ibu (mother earth).
Jika meminjam filosofi orang Molo, maka komodifikasi hutan yang kini digalakkan masa pemerintahan SBY ini adalah puncak dari keganasan dan kegilaan manusia. Sebab memperdagagangkan fungsi-fungsi hutan, atau fungsi-fungsi alam sama saja dengan memperdagangkan tubuh kita sendiri.
SEJARAH menunjukkan, dari Komune Paris hingga Musim Semi Arab, dari Gerakan Chartist di Inggris hingga Protes Solidarność di Polandia, hal-hal abstrak yang kita labeli sebagai ‘demokrasi’ dan ‘emansipasi’ hingga hal-hal riil yang seringkali kita sepelekan, seperti pembatasan kerja delapan jam per hari, hari libur, kebebasan berserikat, dan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan lainnya, tidak akan mungkin terwujud tanpa gerakan buruh yang kuat, tanpa sejarah perjuangan kelas.
Prolog IDE penyelenggaraan Pentas Budaya Rakyat untuk memperingati tiga tahun tragedi penembakaran petani Urutsewu oleh TNI di Lapangan Setrojenar, lahir dari pertemuan tak sengaja antara
ANALISA EKONOMI POLITIK KONFLIK politik yang terjadi di Thailand, saat ini sedang memasuki masa-masa yang panas membara. Ribuan demonstran yang menamakan dirinya “Kaus Merah,” yang

MENELUSURI kotaku dengan kacamata orang lain: itulah yang hari ini kulakukan bersama Irwan. Aneh rasanya. Seolah aku menjadi asing di kota kelahiran sendiri, pun pula kota tempat kudibesarkan. Irwan punya cara sendiri untuk menjelajahi Amsterdam; sebuah cara yang pastinya tak akan aku pilih jika sendirian. Namun, sekarang memang boleh jadi aku tak bisa dengan leluasa melewati jalan-jalan kesukaanku. Setahun setelah Rotterdam hancur, Amsterdam yang sebenarnya tidak sebegitu parah menjelma kota mati. Di balik warna warni musim rontok, hawa yang makin dingin seolah menghalangi warganya untuk keluar. Sepi terasa mencekam. Belanda makin tak berkutik dalam cengkeraman Nazi.

Coen Pontoh dan Sari Safitri Mohan mewawancarai Andreas Harsono (wartawan, aktivis HAM) seputar masalah HAM di Indonesia serta kaitannya dengan Pemilu 2014.

KISAH berikut adalah penyambung lidah seorang pemuda freelance yang paham bahwa Karl Marx adalah senjatanya di jalan ilmu pengetahuan; lebih jauh kehidupan. Sebut saja namanya

SABTU, 27 Agustus 1988. Nano Riantiarno mesti menghadapi interogasi di kantor Badan Koordinasi Intelijen Negara selama tiga jam, dari pukul 1 siang hingga 4 sore.

DALAM tulisan sebelumnya, via Lassalle, saya mengatakan penyajian atau uraian logis (dialektis) dalam Kapital, mengandaikan penyelidikan materialis. Dengan kata lain tulisan tersebut hendak menyatakan bahwa

BEBERAPA opini terakhir di harian IndoPROGRESS memperlihatkan tumbuhnya hasrat politik baru untuk membentuk partai politik progresif berbasis kelas pekerja, kaum miskin kota, petani, dan kekuatan-kekuatan
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.