50 Kencan Pertama Bersama Tragedi 1965

SABTU, 27 Agustus 1988. Nano Riantiarno mesti menghadapi interogasi di kantor Badan Koordinasi Intelijen Negara selama tiga jam, dari pukul 1 siang hingga 4 sore. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan dengan sopan, walau terkadang menggelikan.

“Mengapa saudara berniat menyulap Gedung Kesenian Jakarta menjadi bersuasana Cina?”

“Mengapa properti panggung dan spanduk di depan gedung teater ditulis dalam huruf-huruf Cina?”

“Apa ada anggota Teater Koma yang berasal dari Cina?”

Pangkal masalahnya sederhana. Nano dan kawan-kawan dari Teater Koma bermaksud mementaskan Sampek Engtay untuk pertama kalinya di GKJ. Lakon itu memang berasal dari Cina, tapi Nano telah menyadurnya ke dalam latar Sunda dan Betawi. Walau begitu, atmosfer Cina tetap penting untuk dihadirkan sebagai ciri lakon. Maka, tari barongsai dan liong pun muncul dalam adegan pernikahan dalam pentas tersebut.

Namun, para petugas intel tak peduli akan kebutuhan artistik dan masuk akalnya dunia cerita. Izin pentas turun pada hari yang sama pada pukul 19.30 WIB dengan syarat: huruf-huruf Cina serta tari barongsai dan liong tidak boleh muncul selama pementasan berlangsung.

“Pak, itu huruf Latin yang ditulis dengan kaligrafi Cina,” kata Nano ngeyel lewat sambungan telepon.

“Pokoknya tidak ada huruf Cina. Kalau dilanggar, pentas akan langsung kami batalkan.”

Nano mengalah. Penyesuaian kilat di dalam maupun luar panggung segera dilakukan. Pentas pun berlangsung meriah. Sayang, hal sama tak terulang kala Sampek Engtay akan dimainkan di Medan, Mei 1989. Pertunjukan dilarang pentas tanpa alasan jelas. Semua pihak yang berwenang bungkam dan saling melempar tanggung jawab.

“Saya tiba-tiba merasa bahwa kita sudah terbiasa menghadapi kesewenang-wenangan, sehingga kezaliman bisa dipandang sebagai kelaziman,” tulis Nano dalam buku pentas Sampek Engtay, yang dimainkan ulang untuk kesekian kalinya pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2015 di Indonesia Convention Exhibition, BSD, Tangerang Selatan.

Paranoid. Rasa takut dan waspada berlebihan memang menyelimuti benak mayoritas masyarakat Indonesia. Semua karena tragedi yang terjadi pada 30 September 1965. Setelahnya bagaikan neraka. Seluruh pihak yang dianggap sebagai simpatisan komunis dibantai atau diasingkan. Jumlah korban jiwa tak pernah bisa dipastikan.

“Perkiraan moderat memang menyebutkan angka 500.000 jiwa. Perhitungan lain berkisar antara satu juta sampai dua juta jiwa. Tetapi Sarwo Edhie, yang berada di lapangan pasca-peristiwa tersebut, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Bali, suatu ketika pernah menyebut angka tiga juta jiwa,” kata Rum Aly, redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia, dalam buku Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2006).

Kebijakan negara bekerja bahu-membahu dengan doktrin lewat media untuk melanggengkan paranoia tersebut. Komunisme diharamkan keberadaannya di Indonesia. Segala bentuk kebudayaan yang berbau Cina dilarang untuk ditampilkan di depan umum.

Film Pengkhianatan G 30 S PKI menjadi tontonan wajib bagi para siswa sekolah. Berbagai kisah yang beredar menegaskan bahwa PKI tak bermoral dan tak ber-Tuhan. Hal ini sempat dibahas Budiawan dalam bukunya, Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto (2004).

…seorang guru mengajarkan para murid-muridnya untuk minta kembang gula kepada Tuhan. Mengikuti apa yang diucapkan gurunya, anak-anak itu mengucapkan bersama-sama sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka, “Ya Tuhan, berilah kami bonbon.”  Kemudian guru bertanya, “Sekarang buka matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?”  Anak-anak itu menjawab, “Tidak, Bu.” Ibu Guru menyahut. “Tentu saja tidak. Itu berarti Tuhan itu tidak ada.” Kemudian katanya lagi kepada anak-anak, “Sekarang, mintalah kepada gurumu!” Sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka, anak-anak itu berkata, “Ya, Guru, berilah kami kembang gula.” Ketika anak-anak itu “berdoa”, Ibu Guru menaruh kembang gula di telapak tangan anak-anak, dan kemudian berkata, “Baiklah, anak-anak. Sekarang bukalah matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?” Mereka semua serempak menyahut, “Ya, Bu.”  Ibu Guru menyahut, “Tentu saja! Mengapa? Karena gurumu memang benar-benar ada, di sini, di depan kamu semua. Tapi Tuhan? Tidak! Jadi, kamu semua tidak perlu percaya pada apa yang tidak ada.

Itulah salah satu dari beberapa kisah yang kerap didengar Budiawan di sekolah dari para gurunya, sejak ia menginjak bangku SD pada 1970-an hingga SMA bertahun-tahun kemudian. Biasanya, guru agama dan guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang menanamkan kisah-kisah tersebut. Selain di kelas, para guru juga kerap menceritakannya saat upacara bendera, hari besar agama, ataupun hari raya nasional; khususnya hari peringatan “kesaktian” Pancasila setiap 1 Oktober.

Kisah-kisah semacam itu datang bukan dari pengalaman historis, melainkan penanaman pemikiran secara politik dan sosial. Kita diajak untuk membayangkan diri sebagai anggota komunitas besar yang disebut “bangsa” dan diminta untuk mengenali siapa saja “musuh bangsa”. PKI dianggap berusaha mencabut (khususnya) sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga bertentangan dengan watak bangsa Indonesia. Alhasil, cerita yang beredar mengatakan, kegagalan PKI terjadi karena mereka tidak mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan doktrin semacam itu selama puluhan tahun, wajar jika masih banyak “barisan salah kaprah” yang terjebak dalam prasangka dan menaruh dendam membara pada PKI saat ini. Hal-hal seperti itulah yang membuat Forum Muslim Yogyakarta rajin membubarkan acara pemutaran film dokumenter Senyap di Yogyakarta. Itu pula yang membuat Sakban Rosidi, dosen budaya populer Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengkritik keras film dokumenter Samin Vs Semen. Menurutnya,

“Film ini jelas membawa pesan, pesannya adalah pesan sosialisme, pesan komunisme, itu jelas gitu, lho, kalau pembaca yang paling bodoh pun juga mengerti.”

Lalu kalau benar film itu membawa pesan sosialisme dan komunisme, memangnya kenapa?

Kini, selewat setengah abad setelah terjadinya G30S, nyatanya bangsa kita masih naif. Sudah 50 kali tahun berganti, sejarah dan pikiran kita belum juga diluruskan.

Lantas, apa bedanya bangsa ini dengan Lucy Whitmore dalam film 50 First Dates? Diceritakan, Lucy sempat mengalami kecelakaan mobil parah hingga ia terkena amnesia anterograde. Singkat kata, tidak ada memori baru yang bisa masuk ke dalam otak Lucy. Ingatan di kepalanya hanya berkisar pada hidup sebelum kecelakan itu terjadi. Dalam sehari, ia bisa bertemu siapa saja dan melakukan apa saja. Namun, esoknya ia akan lupa.

Henry Roth yang jatuh cinta pada Lucy pun berusaha sekuat tenaga menyembuhkan penyakit itu. Bahkan, ia rela membuat Lucy jatuh cinta lagi dan lagi tiap harinya. Dari sanalah judul film ini berasal. Butuh setidaknya 50 kencan pertama sebelum akhirnya keluarga merestui dan Lucy menikah dengan Henry. Namun, hingga Lucy tua pun, Henry mesti terus mengingatkan kembali tiap pagi soal apa yang telah terjadi, tentang kecelakaan itu dan asmara mereka.

Sudah 50 kali tahun berganti, nyatanya bangsa Indonesia masih perlu diingatkan kembali tiap pagi, bahwa apa yang terjadi pada 30 September 1965 bukanlah parade kemenangan, melainkan tragedi besar yang harus dibayar dengan tumpukan nyawa.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus