
Rezim Legalisme Otokrasi dan Hukum Represif di Indonesia
Oligark dengan kepentingan ekonominya menjadi latar utama menguatnya rezim legalisme otokrasi dan sistem hukum represif di Indonesia

Oligark dengan kepentingan ekonominya menjadi latar utama menguatnya rezim legalisme otokrasi dan sistem hukum represif di Indonesia

Selama dekade 1970-an dan 1980-an, pesepak bola asal Brasil, Sócrates, menggunakan olahraga untuk menantang kediktatoran militer dan memperjuangkan demokrasi. Kita butuh pesepak bola seperti itu sekarang.

Kuliah Mao tentang kontradiksi ditujukan untuk menghalau cara berpikir idealis yang empiris dan dogmatis di dalam partai kala itu.

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) “RADIKALISME”, “fundamentalisme”, “fanatisme”, “konservatisme”…; istilah-istilah ini belakangan begitu lekat dengan “agama” dan “keberagamaan”. Penyematan “fanatisme” pada “fanatisme beragama” berada

Perempuan Korowai (sumber: Survival International) SIAPA yang tidak kenal dengan nama suku Korowai? Pasti sebagian besar tahu karena rumah tradisional orang Korowai yang dibangun

Jika hanya menunggu reforma agraria dari atas, menanti kebaikan hati penguasa, sampai kapan pun hak atas tanah dan kehidupan yang layak tidak akan pernah terpenuhi

Rizal Assalam, mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI Angkatan 2010 dan Anggota SEMAR UI. Judul Buku : Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni Penulis :
Gambar diambil dari https://lh5.googleusercontent.com KETIKA Suharto turun dari tampuk kekuasaan, medan seni lukis di Indonesia sama sekali lain bila dibandingkan dengan sewaktu ia merebut

PEMAPARAN tentang kondisi mahasiswa hari ini oleh kawan Oki Alex Sartono dan Yoga Prayoga menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. Dalam tulisannya, Oki menjabarkan realitas yang
Resensi Buku Judul Buku : Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer Penulis : Martin Suryajaya Penerbit : Resist Book, Yogyakarta Tahun :

Ilustrasi: Jonpey Tulisan ini adalah bagian ketiga dari serial esai bertema pendidikan demokrasi radikal. Bagian pertama dapat dibaca di sini, dan bagian kedua di sini.

Kapitalisme terus berevolusi. Sekarang mereka tampak kian ramah terhadap lingkungan. Tapi itu cuma tipu-tipu.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.