Marxisme dan Blockchain

Print Friendly, PDF & Email

Illustrasi: Jonpey


JIKA kawan-kawan membaca Marxisme dan Money Heist, di akhir tulisan pasti Anda menemukan kalimat berikut: Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya (dalam dunia dengan corak produksi kapitalisme) butuh uang. Kok bisa? Tentu saja, uang adalah penyetara universal yang dalam bentuk masyarakat kapitalisme menjadi media bertumpu nilai lebih dan pelumas dalam akumulasi kapital.

Lewat analisisnya, Marx mengungkap cikal bakal dari benda sederhana yang sanggup mengendalikan hidup kita. Suatu benda yang di satu sisi membebaskan kita dari belenggu feodalisme dan di sisi lain menghantarkan kita ke kapitalisme. Dari dunia milik bangsawan dan agamawan ke dunia milik para bankir dan spekulan. Dari kehidupan hamba sahaya yang hidupnya dari upah bagi hasil dan kemurahan hati tuan tanah ke proletariat yang hidup dari upah berbentuk uang dan kerasionalan pemilik modal.

Di bawah kapitalisme, uang menaklukkan mereka yang hidup dengan menjual untuk membeli (M-C-M) alias pekerja, sedangkan uang dijinakkan dan dimanfaatkan oleh mereka yang hidup dengan membeli untuk menjual (M-C-M) alias kapitalis. Salah satu kapitalis penguasa uang yang eksis sejak kejayaan Venesia dan Genoa abad ke-15 hingga kini adalah bankir. Berdampingan dengan kapitalis industrialis, para kapitalis finansial menentukan jalannya sejarah sampai hari ini.

Namun setelah gegernya Wall Street akibat krisis finansial 2007-2008, muncul sebuah alternatif untuk mencoba beralih dari dominasi para bankir. Satoshi Nakamoto lewat White Paper pada 2008 memperkenalkan sebuah terobosan untuk keluar dari drama finansial yang melibatkan para kekuatan terpusat bank. Menggunakan kerangka kerja Blockchain, ia memperkenalkan sistem pembayaran elektronik berdasarkan bukti kriptografi sehingga tidak memungkinkan pihak ketiga ikut campur tangan dalam sebuah transaksi. Sistem ini terbilang aman, transparan dan terdesentralisasi. Dari sinilah ia menggagas mata uang digital yang dikenal sebagai Bitcoin.

Hampir menyaingi ketenaran investasi reksa dana dan saham, akhir-akhir ini Bitcoin beserta Altcoin menjadi topik perbincangan dan platform jual-belinya ada di hampir semua smartphone anak muda ibukota. Tentu saja Cryptocurrency ini menimbulkan perdebatan, apalagi di kalangan kawan-kawan persimpangan kiri jalan. Namun kiranya sudah banyak betul ulasan soal Bitcoin, jadi di tulisan kali ini saya akan membahas lebih kepada basis dari uang digital itu sendiri yaitu Blockchain.

Secara singkat, Blockchain atau rantai kotak merupakan sebuah teknologi menyerupai buku besar digital yang mencatat semua data transaksi dari jumlah banyak komputer yang saling terhubung. Bagaikan kotak-kotak yang berisi data dan saling terhubung lewat rantai-rantai. Sederhananya cara kerja Blockchain bisa diibaratkan sebagai sebuah kelas matematika dengan lima orang murid. Tiap murid punya buku yang sudah mencatat angka 3 dari pertanyaan ibu guru yang sebelumnya yaitu 1+2=3, lalu ibu guru memberikan lagi pertanyaan 2+2 dan dijawab 7 oleh murid A. Setelah itu pertanyaan ibu guru selanjutnya yaitu 1+3, murid A menjawab lagi 10.

Nah lho, kok 7 dan 10 ya? Inilah peraturan Hash Chains, bahwa informasi yang baru mesti meliputi informasi yang sebelumnya. Selain itu hasil penjumlahan yang dijawab oleh murid A tersebut selanjutnya akan dicatat pula oleh murid B, C, D dan E sehingga inilah yang menjadi prinsip desentralisasi Blockchain. Sehingga di buku setiap murid tertulis jawaban 3, 7 dan 10 yang disetujui bersama sebagai konsensus.

Lantas bagaimana kalau murid C mengganti jawaban jadi 3, 7 dan 12? Murid lain akan saling memeriksa buku dan menyamakan jawabannya. Karena jawaban si C berbeda dari A, B, D dan E, maka ia harus menyamakan catatan di bukunya. Semua jawaban yang ada di dalam setiap buku setiap murid diketahui satu sama lain dan apabila ada murid baru misalnya murid F dan G, mereka akan segera mengetahui semua jawaban yang ada di di setiap buku para murid. Sehingga ini juga yang merupakan sifat dari teknologi ini yaitu tetap, transparan, tervalidasi dan bersifat umum.

Selain menjadi basis dari Bitcoin atau mata uang kripto, Melanie Swan dalam bukunya Blockchain: Blueprint for a New Economy (2015) menjelaskan bahwa Blockchain kelak juga akan menjadi sebuah sistem registrasi dan inventarisasi berbagai aset atau data mulai dari yang berbentuk fisik hingga non-fisik. Kok bisa? Melanie memberikan perumpamaan bahwa Blockchain bagaikan kumpulan lapisan protokol web yang mana dapat dimanfaatkan oleh berbagai layanan mulai dari Google, Tokopedia, Shopee, Netflix dan lain-lain. Sehingga prinsip teknologi ini bisa dimanfaatkan dalam berbagai bidang mulai dari web 3.0, birokrasi pemerintahan, penyediaan pangan, kesehatan masyarakat hingga industri hiburan.

Dalam birokrasi pemerintahan misalnya, Blockchain dapat mendukung sistem pemilu yang praktis dan aman, lalu juga dapat digunakan dalam proses pengumpulan pajak barang dan jasa. Dalam bidang kesehatan masyarakat, Blockchain dapat menyediakan manajemen data rekam medis personal pasien yang terintegrasi dan menjamin ketersediaan serta keamanan rantai pasokan dalam industri farmasi. Jika teknologi ini bermanfaat bagi berbagai bidang, lalu bagaimana untuk Marxisme?

Bicara soal ini terdapat dua posisi yang seringkali ditemukan, khususnya di antara kawan-kawan persimpangan kiri jalan. Posisi pertama yaitu menentang, karena berasalan bahwa Blockchain beserta produk turunannya merupakan akal-akalan borjuasi dalam mengaplikasikan ide-ide kebebasan ala libertarian. Posisi kedua yaitu argumen mendukung yang berasalan bahwa Blockchain melawan kapitalisme karena sifatnya demokratis dan terdesentralisasi. Lalu bagaimana kiranya proletariat menyikapi hal ini?

Mari kita menelaahnya melalui materialisme dialektis dan historis. Blockchain beserta produk turunannya dapat diasumsikan sebagai bagian dari kategori teknologi. Soal bagaimana Marxisme menyikapi teknologi pernah saya bahas dalam tulisan Marxisme dan Pisau Dapur lalu dalam tulisan Sophia. Menurut Sang Begawan Antropologi Indonesia, Koentjaraningrat, teknologi merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan. Artinya teknologi merupakan produk yang keberadaannya dimungkinkan hanya lewat kebudayaan manusia. Lantas untuk apa manusia menciptakan teknologi?

Teknologi adalah produk perpanjangan tangan dari manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka mempertahankan hidupnya. Seiring waktu, teknologi bukan hanya jadi sarana untuk memudahkan kehidupan manusia namun juga menjadi sarana untuk mengondisikan alam seturut kebutuhannya. Mulai dari sistem pertanian, sistem medis, sistem arsitektur, sistem manajemen dan perencanaan hingga sistem informasi dan komunikasi. Dengan bantuannya, manusia dapat melampaui alam di dalam batas-batas tertentu.

Proses perkembangan teknologi merupakan konsekuensi dari kontradiksi tiada henti antara manusia dengan lingkungannya dan juga merupakan produk dari relasi sosial masyarakatnya. Oleh sebab itu wujudnya beragam dalam setiap fase perkembangan sejarah manusia. Sistem penulisan aksara ditemukan untuk mengatasi keterbatasan ingatan manusia merekam kata-kata atau kejadian-kejadian penting yang tak mampu diingat, contohnya cuneiform dalam tablet-tablet di Sumeria abad ke-5 sebelum masehi. Sedangkan keberadaan sistem penulisan aksara itu sendiri mensyaratkan sebuah masyarakat dengan struktur pembagian kerja yang spesifik dan strata sosial beragam seperti yang ada di Sumeria masa itu.

Begitu juga Blockchain, keberadaannya hanya dimungkinkan oleh hadirnya komputer beserta internet yang merebak di akhir abad ke-20, sedangkan komputer pun hanya mungkin hadir dari tiga kali revolusi industri. Dengan kata lain, Blockchain lahir dari rahim masyarakat kapitalisme dan kehadirannya merupakan upaya untuk melampaui salah satu permasalahan dalam kapitalisme itu sendiri yaitu keterpusatan kapital finansial misalnya.

Oleh karena itu dalam menelaah teknologi kita mesti mengingat bahwa ia tak pernah terlepas dari mana asal usul kemunculannya, lalu yang penting juga yaitu siapa yang menggunakan dan untuk apa memanfaatkannya. Sebab, sejarah sampai hari ini adalah sejarah tentang pertentangan kelas, antara siapa yang menaklukkan dan ditaklukkan, yang menindas dan ditindas. Teknologi yang merupakan bagian dari kehidupan manusia yang punya andil cukup besar di dalamnya.

Penemuan teknik metalurgi menghasilkan perkakas logam yang digunakan sebagai perhiasan, peralatan sehari-hari, alat ritual bahkan senjata. Sebagai contoh yaitu Spartakus yang menginisiasi pemberontakan para budak sepanjang 73-71 SM melawan Republik Roma menggunakan persenjataan yang sama dengan musuhnya yaitu dari produk pandai besi Romawi. Namun yang membedakannya jika pasukan Romawi berusaha memperluas taklukkan, Spartacus berusaha membebaskan kawan-kawannya dari perbudakan.

Dari penjelasan di atas saya akan merangkum tiga simpulan. Pertama, bahwa perkembangan teknologi sejatinya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan teknologi merupakan sarana untuk membantu kehidupan kita. Sehingga posisi kelas pekerja dalam menyikapinya mestilah bagaikan gelas kosong yang siap diisi oleh pengetahuan dengan cara mempelajarinya. Jika sudah mengenalnya kita bisa mengkritisinya dan menyimpulkan apakah itu menguntungkan bagi perjuangan kelas pekerja atau malah tak berguna.

Kedua, dengan mengenal perkembangan teknologi kita dapat menguasainya lalu memanfaatkannya bagi kepentingan kelas pekerja sebelum jatuh ke tangan borjuasi. Tak hanya di lapisan penggunaannya saja, namun juga di lapisan mekanisme atau cara kerja teknologinya. Sebab teknologi dapat memiliki dua sifat tergantung kepada siapa yang menggunakannya dan untuk apa memanfaatkannya.

Ketiga, dengan kedua poin sebelumnya maka sementara ini Blockchain penting untuk dipelajari oleh kawan-kawan di kiri jalan, sebab bisa jadi ini adalah masa depan. Supaya ketika tiba masanya, kelas pekerja telah mengenal dekat teknologi ini dan dapat menguasainya kelak lalu memanfaatkannya untuk kepentingan proletariat. Sebab jika tidak, Blockchain akan jatuh ke tangan borjuasi dan mereka akan menggunakannya untuk membangun dunia seturut panggilan eksploitasi.

Meski terlihat menjanjikan, faktanya Blockchain masih menghadapi banyak tantangan. Antara lain persoalan ongkos penyediaan listrik yang tinggi, peralatan komputer yang harganya tidak murah dan konsumsi sumber daya energi yang besar. Belum lagi aspek keamanan yang membuka peluang  untuk serangan siber dan juga soal privasi yang nampaknya masih harus menyesuaikan dengan kondisi kultural dalam masyarakat tertentu.

Uang juga merupakan teknologi. Ia mulanya hanya eksis sebagai komoditas penyetara universal pertukaran komoditas akhirnya bisa menjadi media penyimpan nilai-lebih dalam akumulasi kapital dan lebih jauhnya sanggup melahirkan bentuk masrayakat kapitalisme yang pedih namun mesti tetap kita jalani. Apa saja yang mungkin hanya terbayangkan di dunia kini mungkin saja bisa terjadi jika diupayakan. Seperti apa yang disampaikan Marx dalam Manifesto satu setengah abad yang lalu: Semua yang padat melebur menjadi udara, semua yang sakral menjadi profan, dan manusia pada akhirnya harus menghadapi dengan akal sehat kenyataan hidup yang sebenarnya dan juga hubungan dirinya dengan sesama. Dan semua senjata yang digunakan borjuasi unuk menjatuhkan feodalisme sekarang berbalik melawan borjuasi. Bisakah Blockchain menjadi senjata proletariat?***

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.