
Umi Sardjono: Feminis Marxis Yang Menakhodai Gerwani
APABILA kita mendengar nama “Gerwani/Gerakan Wanita Indonesia”, segera saja fantasi kita melayang pada sebuah film fiksi yang wajib ditonton anak-anak sekolah antara dekade 1970-1980an, film

APABILA kita mendengar nama “Gerwani/Gerakan Wanita Indonesia”, segera saja fantasi kita melayang pada sebuah film fiksi yang wajib ditonton anak-anak sekolah antara dekade 1970-1980an, film

Gotong royong selama ini dimaknai sebagai hal yang positif, dan diterima begitu saja. Padahal, dalam sejarah, ia adalah alat kelas penguasa untuk mengontrol masyarakat.

Di masa Hindia Belanda ada tiga masalah polisi: korup, sewenang-wenang, serta menjadi alat politik penguasa. Tak banyak yang berubah setelahnya.

Soeharto berhasil menemukan jalan bedilnya sebelum berusia 20 tahun. Perang dan revolusi lalu membuat derajatnya melesat tinggi.

SAYA akan mengawali pemaparan saya tentang agama dan ideologi ini dengan cerita tentang dua peristiwa. Yang pertama, reaksi seorang teman, mahasiswa teologi, ketika mendengar cerita

Banyak buruh migran dilanggar haknya, bahkan meninggal dunia, saat mempersiapkan Piala Dunia Qatar 2022

Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno Pemilihan Umum Legislatif 9 April 2014 kemarin adalah acara perhelatan di mana saya didaulat menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan

Bisa dikatakan bahwa ulasan Mughis tentang state of disorder adalah salah satu karya terbaik dari varian analisis politik yang cenderung menyesatkan dalam memahami sejarah ekonomi-politik Indonesia.

DOB sesungguhnya tidak inklusif dan partisipatif karena bias kepentingan elite. Bagi orang Papua, pemekaran tak ubahnya siasat Jakarta untuk memecah belah.

Generalisasi atas ekspresi politik kelas menengah yang didasarkan pada kondisi-kondisi objektif historis berpijak pada bukti-bukti empiris yang meragukan

Kerja-kerja penelitian masyarakat agraria berbasis kelas (ekonomi-politik) ini perlu digencarkan untuk menandingi wacana dominan tentang kelembagaan dan populisme agraria saat ini

“Tanggapan saya tidak bertujuan untuk membantah kesimpulan Mughis terkait ekspresi politik dari kelas menengah, alih-alih mengajak pembaca untuk masuk lebih dalam ke pertanyaan, “mengapa kelas menengah reformis melahirkan ekspresi politik seperti itu?”
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.