
Tesis September: Perihal Kekaburan Kaum Intelektual Kiri Dalam Pilpres 2019
Kartu pos dari seberang istana. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) 1. TANPA dukungan massa rakyat yang besar dan ketersediaan logistik yang cukup, semua agenda

Kartu pos dari seberang istana. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) 1. TANPA dukungan massa rakyat yang besar dan ketersediaan logistik yang cukup, semua agenda

TOPIK ini, didedikasikan Marx untuk mendiskusikan tentang asal-usul munculnya uang (money). Tetapi, di sini ia tidak berbicara sejarah kemunculan uang, misalnya dari sistem barter, uang metal atau koin, emas, uang kertas, hingga uang elektronik seperti yang kita kenal sekarang ini. Apa yang ingin dijelaskannya adalah sejarah perkembangan dalam kaitannya dengan perkembangan hubungan konseptual dalam sistem kapitalisme. Misalnya, hubungan antara ‘bentuk sederhana dari nilai/simple form of value’ dan ‘bentuk uang/money form’ yang dominan dalam sistem kapitalisme (Heinrich, 2012:56). Karena itu, ia tidak memaksudkan penjabarannya ini untuk meyakinkan kita bahwa uang merupakan alat yang paling mumpuni untuk mengatasi keterbatasan dari pertukaran dalam bentuk barter, sebagaimana yang diajarkan kepada kita selama ini.
Sumber foto: www.klikaktifis.com Pendahuluan Pelarangan dan pembubaran kegiatan diskusi Festival Belok Kiri bukan pertama kalinya terjadi. Peristiwa serupa telah berulangkali terjadi, dan sepertinya peristiwa-peristiwa

Kredit ilustrasi: iluminasi.com (1) Dalam Surah Al-Kahfi, Allah menceritakan para pemuda Kahfi yang tidur dalam jangka waktu yang sangat lama. Cerita ini cukup terkenal, dan
SAYA lahir dan dibesarkan di kampung Buli, Kecamatan Maba, Kebupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara—tempat bermacam-macam perusahaan tambang mendaratkan eksafator dan buldozer untuk mencukur habis pulau-pulau kecil, gunung dan tanjung yang ada di sini. Saya tak bisa menarik diri dari keterlibatan emosional dengan krisis sosial-ekologi di kampung saya. Singkatnya, saya tidak bisa memposisikan diri sebagai pengamat. Yang hanya bisa saya lakukan: menceritakan apa yang saya dengar, saya lihat, dan saya rasakan.

URUSAN melobi (lobbying) yang dilakukan oleh Pereira International menjelang kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat bulan lalu, menjadi isu hangat dalam politik Indonesia. Usaha melobi

Kredit ilustrasi: Caravan Magazine PERCAKAPAN politik kita selama ini, ada semacam bangkitnya insinuasi politik antara setiap orang. Saling menuding, saling klaim paling benar, hingga berimplikasi
PASCA tumbangnya rejim orde baru (orba) Soeharto, salah satu diskursus yang paling mengemuka adalah tentang keutamaan pasar bebas dalam pengelolaan ekonomi. Di bawah terpaan krisis
Jika mahasiswa adalah ‘buruh masa-depan,’ maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi yang inheren dengan gerakan buruh. ‘Subjek’ mahasiswa saat ini, dalam relasi produksi kapitalisme kontemporer, adalah buruh-di-masa-depan; Ia harus mengidentifikasikan dirinya dengan melihat ‘buruh’ sebagai cermin -jika menggunakan terminologi Lacanian- dan menjadikan buruh sebagai penanda-utamanya. Subjek mahasiswa adalah subjek yang berkekurangan, dan ketika ia berhadapan dengan ganasnya alam kapitalisme, ia harus menutup lubang tersebut dengan hasratnya. ‘Hasrat’ tersebut kemudian melahirkan sistem penandaan -bahasa- yang dijangkarkan oleh sebuah penanda-utama tertentu. Jika logika ini dipakai, dengan menjadikan ‘buruh’ sebagai penanda-utama, seluruh bahasa gerakan mahasiswa akan berorientasi pada relasi produksi kapitalisme yang menyertakan buruh sebagai penanda utamanya, mengintegrasikan gerakannya dengan ‘gerakan buruh’ saat ini.

Kredit ilustrasi: The Daily Beast KAUM Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), telah lama menghadapi berbagai kekerasan diskriminatif sebagai penolakan dari berbagai kalangan yang
Ilustrasi oleh Alit Ambara (nobodycorp) Pengantar IBRAHIM (70 tahun), menggarap lahan seluas 9600 meter. Lelaki asal Desa Sukamantri, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi itu dapat

Di Tano Batak, kehadiran Toba Pulp Lestari mengubah tanah dari basis hidup komunal menjadi medan akumulasi, sementara hukum dan adat bekerja sebagai perangkat seleksi yang menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus disingkirkan. Dari proses inilah lahir Subjek Kriminal, bukan sebagai pelaku kejahatan moral, melainkan sebagai posisi sosial yang dilekatkan pada mereka yang mengganggu ritme produksi kapital. Ketika identitas adat terfragmentasi oleh diferensiasi kelas, penjara dan kontrak menjadi dua wajah pendisiplinan yang sama, menegaskan bahwa dalam konflik agraria, kelas berbicara lebih keras daripada sekadar perkara asal-usul.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.