
Brengseknya Pendidikan Hukum di Indonesia
Undang-undang apakah yang kalian praktekkan? Tuan jaksa jawab tuan jaksa Undang-undang mana bikinan siapa Yang mengijinkan pejabat negara Menganiaya rakyat Dan menginjak hak-haknya Tuan jaksa

Undang-undang apakah yang kalian praktekkan? Tuan jaksa jawab tuan jaksa Undang-undang mana bikinan siapa Yang mengijinkan pejabat negara Menganiaya rakyat Dan menginjak hak-haknya Tuan jaksa

Kunci kemenangan Soviet di berbagai gelanggang: pelatihan yang sistematis, terencana, efektif, dan ilmiah

Seneca Muda. Kredit gambar: steemkr.com POLITIK lebih tua dari filsafat, karena sebelum ada filsafat masyarakat telah mengatur kelompoknya dengan sebuah aturan untuk kepentingan bersama. Namun,

ENTAH ulamnya tiba atau tidak, pembaca pasti pernah mencintai pucuk. Syukur kalau pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalaupun tidak, pernah mengalaminya saja bisa jadi suatu

Artikel ini memberikan kita cerita sekaligus petunjuk bagaimana proses persatuan diupayakan oleh elemen sosialis. Kita di Indonesia, yang masih mempercayai jalan sosialisme, perlu secara saksama mempelajari dinamika sejarah gerakan sosialis sebagaimana yang disampaikan oleh artikel ini.

Mempelajari studi HI adalah belajar tentang kontestasi ragam kekuatan politik yang selalu bertarung untuk mendefinisikan realitas politik internasional hari ini. Pun, sebagian dari realitas itu juga menentukan apa yang kita alami di Indonesia hari ini.
PERSOALAN yang sepele: mana bertahan dan mana tersungkur. Sedikit nostalgia. Tahun 1999, dua partai dari ideologi berbeda bertarung dalam Pemilu. Partai Rakyat Demokratik (PRD) berada

“Aku tundukan kepala yang sedalam-dalamnya untuk para Martir, pejuang Pro-demokrasi, pejuang anti kediktatoran Orba baik yang dikenal maupun yang sama sekali tidak dikenal oleh publik,
Kredit foto pada VersoBooks.com BENEDICT Anderson, yang meninggal dunia pada 13 Desember tahun lalu, terkenal sebagai pengarang buku Imagined Communities (1983), yang sampai sekarang

Tanggapan untuk Muhammad Ridha TULISAN ini ditujukan untuk menanggapi tulisan Muhammad Ridha mengenai Tiongkok dan kekuatan imperialisme baru. Dalam tulisannya, bung Ridha mengangkat pertanyaan kunci
Bila boleh diresume dalam beberapa paragraf saja–meskipun hal ini perlu diuji dengan referensi tekstual yang ketat atas konstelasi teks-teks Marx sendiri–visi kritik (atau lebih tepatnya, ‘metakritik’) dalam kritik agama Marx adalah eksteriorisasi dan depersonalisasi agama ini, yaitu dorongan untuk menunjukkan bahwa agama adalah suatu fenomena eksternal yang objektif, yang melampaui gambaran agama sebagaimana diyakini oleh individu-individu pemeluk agama itu sendiri. Bahwa agama, dengan kata lain, bukan sebagaimana yang ‘aku’ atau ‘engkau’ yakini, tetapi adalah yang ‘kita’ dan ‘mereka’ lakukan, sebagai suatu fenomena sosial yang objektif, yang dapat diamati, sebagai rangkaian praktik yang membentuk suatu ‘totalitas’ bernama agama. Agama sebagai fenomena eksternal yang objektif ini–terlepas dari framing akademis yang dilakukan sesudahnya oleh sosiologi agama–menerjemahkan visi Marx, yang merentang dari teks Pendahuluan Kontribusi bagi Kritik Filsafat Hak Hegel sampai Ideologi Jerman, tentang perlunya memperlihatkan, terutama bagi pemeluk agama, sifat keduniaan dari agama: bahwa agama, begitu menjadi fenomena sosial–terlepas dari asal-usul keilahian atau profetiknya, yang nyaris tidak pernah disinggung Marx–mesti diperlakukan sebagai suatu kenyataan sosial yang sama objektif dan dapat diamati sebagaimana fenomena-fenomena sosial yang lain.

Kredit ilustrasi: selphinflicted.wordpress.com Alkitab seringkali dipandang sekadar mengurus hal-hal sorgawi dan persoalan moral pribadi yang tidak ada kaitannya dengan persoalan ekonomi-politik. Sehingga tidak jarang mendengar
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.