
Anarkisme dalam Narasi Perlawanan Global
Daya Sudrajat, alumni S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Judul : Di Bawah Tiga Bendera Penulis : Benedict Anderson Penerjemah : Ronny Agustinus Penerbit :

Daya Sudrajat, alumni S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Judul : Di Bawah Tiga Bendera Penulis : Benedict Anderson Penerjemah : Ronny Agustinus Penerbit :

Artikel ini memberikan kita cerita sekaligus petunjuk bagaimana proses persatuan diupayakan oleh elemen sosialis. Kita di Indonesia, yang masih mempercayai jalan sosialisme, perlu secara saksama mempelajari dinamika sejarah gerakan sosialis sebagaimana yang disampaikan oleh artikel ini.

Undang-undang apakah yang kalian praktekkan? Tuan jaksa jawab tuan jaksa Undang-undang mana bikinan siapa Yang mengijinkan pejabat negara Menganiaya rakyat Dan menginjak hak-haknya Tuan jaksa
PERSOALAN yang sepele: mana bertahan dan mana tersungkur. Sedikit nostalgia. Tahun 1999, dua partai dari ideologi berbeda bertarung dalam Pemilu. Partai Rakyat Demokratik (PRD) berada

Marx sama sekali bukan eurosentris, tidak pula hanya terpaku pada konflik kelas. Ia juga selalu memihak kaum tertindas untuk melawan penindas mereka.

Kredit ilustrasi: selphinflicted.wordpress.com Alkitab seringkali dipandang sekadar mengurus hal-hal sorgawi dan persoalan moral pribadi yang tidak ada kaitannya dengan persoalan ekonomi-politik. Sehingga tidak jarang mendengar

ENTAH ulamnya tiba atau tidak, pembaca pasti pernah mencintai pucuk. Syukur kalau pucuk dicinta ulam pun tiba. Kalaupun tidak, pernah mengalaminya saja bisa jadi suatu

Tanggapan untuk Muhammad Ridha TULISAN ini ditujukan untuk menanggapi tulisan Muhammad Ridha mengenai Tiongkok dan kekuatan imperialisme baru. Dalam tulisannya, bung Ridha mengangkat pertanyaan kunci

Keajaiban teknologi sekarang sangat terkonsentrasi di tangan segelintir orang dan perusahaan. Alat-alat seperti ini–betapa pun ajaibnya–akan menjadi musuh kita. Mencari alternatif dari jalur dominan pengembangan teknis merupakan hal yang mendesak.
Bila boleh diresume dalam beberapa paragraf saja–meskipun hal ini perlu diuji dengan referensi tekstual yang ketat atas konstelasi teks-teks Marx sendiri–visi kritik (atau lebih tepatnya, ‘metakritik’) dalam kritik agama Marx adalah eksteriorisasi dan depersonalisasi agama ini, yaitu dorongan untuk menunjukkan bahwa agama adalah suatu fenomena eksternal yang objektif, yang melampaui gambaran agama sebagaimana diyakini oleh individu-individu pemeluk agama itu sendiri. Bahwa agama, dengan kata lain, bukan sebagaimana yang ‘aku’ atau ‘engkau’ yakini, tetapi adalah yang ‘kita’ dan ‘mereka’ lakukan, sebagai suatu fenomena sosial yang objektif, yang dapat diamati, sebagai rangkaian praktik yang membentuk suatu ‘totalitas’ bernama agama. Agama sebagai fenomena eksternal yang objektif ini–terlepas dari framing akademis yang dilakukan sesudahnya oleh sosiologi agama–menerjemahkan visi Marx, yang merentang dari teks Pendahuluan Kontribusi bagi Kritik Filsafat Hak Hegel sampai Ideologi Jerman, tentang perlunya memperlihatkan, terutama bagi pemeluk agama, sifat keduniaan dari agama: bahwa agama, begitu menjadi fenomena sosial–terlepas dari asal-usul keilahian atau profetiknya, yang nyaris tidak pernah disinggung Marx–mesti diperlakukan sebagai suatu kenyataan sosial yang sama objektif dan dapat diamati sebagaimana fenomena-fenomena sosial yang lain.

“Aku tundukan kepala yang sedalam-dalamnya untuk para Martir, pejuang Pro-demokrasi, pejuang anti kediktatoran Orba baik yang dikenal maupun yang sama sekali tidak dikenal oleh publik,
Kredit foto pada VersoBooks.com BENEDICT Anderson, yang meninggal dunia pada 13 Desember tahun lalu, terkenal sebagai pengarang buku Imagined Communities (1983), yang sampai sekarang
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.