
Agresi Rusia, Ekspansi NATO dan Skenario Perang di Ukraina: Percakapan dengan Étienne Balibar, Silvia Federici, dan Michael Löwy
Kapitalisme menyeret perang seperti awan menyeret badai

Kapitalisme menyeret perang seperti awan menyeret badai

Fathimah Fildzah Izzati, anggota redaksi Left Book Review (LBR) IndoPROGRESS Judul Buku: One Dimensional Woman Penulis: Nina Power Penerbit: O Books Tahun terbit: 2009 Tebal

“Namun, organisasi seperti yang seperti dimaksud Nadezhda tidaklah dibangun hanya dari sekedar diksi-diksi dan teriakan revolusi, sebab hari ini kapitalisme bersama pion-pionnya berinovasi tanpa henti sementara kita semua punya perut untuk diisi dan perjuangan berdasarkan perencanaan kolektif tidak bisa berhenti.”

Menyebut peristiwa pembantaian 1965 sebagai tragedi, sama artinya dengan menutupi kenyataan sejarah

Marx sama sekali bukan eurosentris, tidak pula hanya terpaku pada konflik kelas. Ia juga selalu memihak kaum tertindas untuk melawan penindas mereka.

Kredit ilustrasi: thedemocraticview.com 21 TAHUN setelah Indonesia mengadopsi demokrasi, aspirasi warga negara kebanyakan untuk kesetaraan dan kesejahteraan umum masih sulit untuk tercapai. Tidak jauh dari

Sejauh berbicara keluarga di Indonesia, pengertian sosiologis keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat, tidaklah memadai. Sebab, pada praktiknya keluarga di Indonesia melampaui definisi keluarga batih

Foto: Sejarah Kita IV REFORMA agraria dipercaya luas merupakan strategi jalan keluar terhadap ketimpangan penguasaan tanah. Dalam pengertian umum, reforma agraria berkaitan dengan kebijakan negara

KEKERASAN berlatar sektarian, tampaknya merupakan peristiwa politik paling menyita publik di Indonesia, dalam rentang lima tahun terakhir. Walaupun, jika ditilik lebih ke belakang, kekerasan sektarian ini kembali mengemuka setelah runtuhnya rejim Orde Baru.
Sebelumnya, tipe kekerasan yang dominan adalah yang berlatar-belakang ekonomi-politik, serta kriminalitas biasa. Kekerasan sektarian bukan tak ada, tapi lebih bersifat temporal, ketimbang kekerasan belakangan ini yang tampaknya lebih sistematis dengan agenda politik yang terukur. Dari gerakan dan tuntutan yang tampak pada pelaku kekerasan sektarian ini, kita temukan ciri-ciri berikut: gerakannya mengambil bentuk mobilisasi massa di jalanan; anti pluralisme, anti demokrasi, anti liberalisme, anti komunisme, dan percaya pada keagungan sistem dan nilai-nilai sosial masa lalu; massa yang dimobilisasi terutama berasal dari kalangan rakyat miskin.

Ormas keagamaan yang menerima konsesi tambang telah membuang jauh potensi teologi pembebasan. Eksploitasi alam dan manusia seakan dipinggirkan demi kepentingan ekonomi.
Sejujurnya, proyek wawancara ini awalnya sebuah proyek coba-coba belaka. Perkaranya, narasumber yang kami sasar kali ini tengah gencar-gencarnya dimintai pendapat tentang pemberlakukan jam malam di Bandung plus penerapannya yang sedang rakus makan korban. Sementara itu, di benak kami, yang hendak kami tanyakan (baca: diskusikan) sekilas jauh hubungannya dengan penerapan jam malam di Bandung. Malah, kami datang dengan tema yang sepintas garing, youth movement A.K.A. gerakan anak muda.

Seminari Pius XII Kisol (disingkat Sanpio). Kredit foto: labok Tanggapan untuk Silvano Keo Bhaghi dan Emilianus Yakob Sese Tolo TULISAN Silvano Keo Bhaghi di IndoPROGRESS
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.