Masih Muda Aja, Main Netral

Print Friendly, PDF & Email

Sejujurnya, proyek wawancara ini awalnya sebuah proyek coba-coba belaka. Perkaranya, narasumber yang kami sasar kali ini tengah gencar-gencarnya dimintai pendapat tentang pemberlakukan jam malam di Bandung plus penerapannya yang sedang rakus makan korban. Sementara itu, di benak kami, yang hendak kami tanyakan (baca: diskusikan) sekilas jauh hubungannya dengan penerapan jam malam di Bandung. Malah, kami datang dengan tema yang sepintas garing, youth movement A.K.A. gerakan anak muda.

Pun begitu, proyek ini hampir gagal. Pasalnya, ketika hendak memastikan lokasi narasumber, penduduk di bilangan Cipaganti yang kami temui tak mengenal Herry Sutresna apalagi Ucok – nama yang jelas-jelas lebih berbau Medan daripada Bandung dan seharusnya mudah dikenal. Hampir pula kami bertanya, di mana rumah Morgue Vanguard? walau tahu hasilnya pasti nihil pula. Frustrasi, kami nyaris balik kanan dan pulang saja.

Beruntung, sebelum kami beranjak, seorang lelaki –tanpa bandana – dengan santai memarkir sepeda motornya dekat tempat kami berdiri. Dan, itu dia pria yang kami cari, Herry “Ucok” Sutresna. Akhirnya, setelah beramah-tamah dan diserahi mandat mengawal anak Ucok selama ia pergi ke laundri, kami diajak duduk dan diskusi dengan woles tentang gerakan anak muda. Mulai dari perkembangan gerakan anak muda kekinian, polarisasinya, akar masalahnya hingga bagaimana cara menajamkan kembali gerakan anak muda kekinian.

Jika Anda menggemari Homicide, maaf sebesar-besarnya kami tidak menyinggung grup hiphop par excellence itu. Pun, bagi yang hendak menemukan solusi final tentang masalah gerakan anak muda, silakan kecewa. Mungkin yang bisa kami tawarkan hanyalah kritik terhadap diri untuk – dalam bahasa yang lebih keren – making youth movement a threat again!

Selamat membaca. Insya Allah, berfaedah!

indoprogress_ucokmanan

LKIP: Cok, sebenarnya familiar nggak sih dengan berbagai webzine bikinan anak muda seperti… [menyebut beberapa contoh]. Sebenarnya banyak sih yang diperbuat anak muda tapi cuma berhenti (gerakannya) di lingkungan mereka sendiri.

Ucok: Gue pikir nggak juga sih. Cuma, dari yang banyak seperti itu, yang representatif jarang. Misalnya, yang bicara “yuk voting”, ada Pandji (Pragiwaksono). Terus, misalnya yang bawa isu-isu radikal, nulisnya serius banget. Lo mau besok revolusi? Terus, nggak mau denger orang ngomong apa. Nah, kalau gitu bikin website monologlah, selesai kan jadinya? Nggak usah bikin tulisan yang thought-provoking. Itu kalau lo liat website anak-anak anarkis, banyak yang bagus. Tulisannya juga bagus-bagus. Tapi gue nggak suka perspektifnya. Dia menutup untuk dialog. Jadi, ideologi itu sesuatu yang tertutup. Itu anak anarkis loh ya, kita bukan ngomongin Marxis-Leninis yang lebih mentok. Anarkis itu mestinya lebih terbuka lagi. Udah gitu. “We are against democracy.” Oke, lo boleh against democracy, tapi bukan berarti lo melenyapkan orang-orang yang nggak sepaham, mestinya terbuka. Kayak Katalis, Kontinum, itu bagus. Tulisannya bagus. Terjemahannya. Ya, tapi [pola pikirnya] seperti itu. Mestinya, ada orang yang… nggak harus di wilayah aman sih, tapi pintar memainkan isu.

LKIP: Lo sendiri pernah mengalami nggak masa ketika dialog itu memang bisa terbuka? Atau apa sempat ada masa ketika masing-masing kelompok ini bersifat terbuka?

Ucok:  Iya, sempat ada. Antara 1990-an dan 2000 akhir. Sempat begitu.

LKIP: Kalau sekarang, memangnya benar-benar tidak ada?

Ucok: Ada, cuma seperti yang gue bilang tadi. Situs-situs yang memang progresif terlalu seperti yang gue jelasin di atas. Padahal dulunya nggak juga, Nah, kemudian ada juga situs yang main-main tapi nggak bawa isu penting. Terlalu main-main, ada banyaklah. Sorge Magz sebenarnya bagus, tapi kurang “progresif” dalam arti kurang mengedepankan isu-isu radikal. Isu Golput itu misalnya, udah penting banget. Udah nyerempet bahaya tapi bisa dimainin.

LKIP: Memang dulu bedanya apa, Cok? Kenapa dulu mereka bisa lebih terbuka? Apa karena ada musuh bersama?

Ucok: Nggak tahu juga. Tapi kayaknya ada kejenuhan di titik masing-masing. Orang kalau bermain di ranah ideologis terus jenuh, pilihannya ada dua: Lo keluar dari situ atau semakin mengeras. Itu kan pilihannya biasanya. Kalau lo nggak tahan-tahan amat, pilihannya cuma: lo keluar dari situ. “Capek gue begini-beginian.” Teman-teman gue yang lama begitu semua. Ada yang mengeras.

LKIP: Lalu bagaimana dengan upaya-upaya yang sifatnya kolektif?

Ucok: Itu yang luntur! Penyebabnya banyak faktor. Misalnya, makin jarangnya pertemuan secara fisik. Dulu forum sering digelar. Di Bandung, misalnya, jumlah ruang publik dalam satu dekade terakhir menurun. Kalau ruang publik banyak, banyak diskusi, banyak dialog, banyak interaksi di antara kawan-kawan, ide ide selalu terbuka. Sekarang orang-orang interaksi di socmed. Social media itu sebuah pertolongan sekaligus sebuah PR (Pekerjaan Rumah)!

LKIP: Tapi kemudian orang juga bilang, ini kan hanya karena tidak ada musuh bersama, tidak ada rezim yang hendak digulingkan, akhirnya anak mudanya cenderung terfragmentasi seperti ini.

Ucok: Kalau gue bilang, anak muda zaman sekarang sudah semakin malas untuk berpihak. Semuanya terlalu main aman, seolah “Everything is ok.” Memang iya, nggak ada masalah! Tapi kemudian pada satu titik lo juga nggak bisa nggak berpihak. Keberpihakan harus tetap ada. Misalnya, ada isu-isu petani, suara lo apa? Isu-isu buruh, suara lo apa? Oh, itu ramai memang di sosmed, “Wah, ini macet, apalah.” Itu kan salah satu doang, tapi kemudian bukan jadi isu utama dan dia berpihak ke mana. Nggak ngasih solusi. Itu cuma ngeluhin efeknya aja. Keberpihakan ini yang vital buat hari ini.

Di Bandung sekarang isu ruang publik, isu jam malam, isu hak untuk nangkring, itu isu sepele sebenarnya. Tapi kemudian ketika isunya sudah ‘nempel’ ke polisi dan sudah rada-rada politis, mereka udah mulai main aman. “Wah, udah pokoknya isunya stop gunakan kekerasan aja deh.” Nggak usah nyerempet-nyerempet aparat. Gimana caranya, orang isunya di situ kok? Dia nggak berani bilang bahwa permasalahannya di aparat. Kalau begini definisinya apa dong? Ini soal sepele kan, lo cuma ga berani bilang gara-gara lo middle class. Gara-gara lo nyaman di situ, lo nggak berani bilang sesuatu yang orang-orang juga udah ngeh biang masalahnya. Ironisnya, yang punya kesempatan untuk bilang bahwa “Ini isunya jadi besar”, ya mereka. Mereka yang punya media, mereka yang punya kesempatan.

Kayak gini aja contohnya: isu pemukulan oleh aparat. Isu ini sudah ada sejak pemberlakuan jam malam 4 bulan yang lalu. Mulai dari anak-anak punk sampai orang biasa ditendang atau ditempeleng. Itu sudah ada. Ini kan mulai jadi besar setelah ada figur yang terkenal yang kena hajar. Jadi permasalahannya apa, ada rockstar dipukul atau orang yang kena pukul? Karena kalau orang kena pukul, sebelumnya kan juga ada? Kalaupun permasalahannya cuma kekerasan, dari dulu juga udah ada. Ampe besok-besok juga bakal ada.

LKIP: Jadi, kalau menurut lo kenapa anak-anak muda ini jadinya ‘tercerabut’, seperti yang lo contohin tadi?

Ucok: Itu yang gue juga sedang berusaha cari jawabannya [tertawa]. Gue juga nggak habis pikir, ketika udah ada isu di depan mata sekalipun mereka tetap nggak mau berpihak dalam bikin pernyataan atau aksi. Untuk aksi-aksi yang sifatnya lebih memberi solusi, mereka cuma memainkan simbolisme. Okelah, di situ mereka bisa. Cuma, untuk sesuatu yang wilayah keberpihakannya sudah jelas, mereka nggak ada. Contohnya: semua orang nggak ada yang suka FPI, ketika Ahmadiyah digerus oleh FPI di Kopo, kemudian kita minta solidaritas. Ini sebatas simbolisme aja. Kita mengecam bla bla bla. Namun ketika masuk ke aksi, nggak ada!  Itu pertanyaan besar juga buat gue karena gue yakin semua orang itu nggak suka FPI, jelaslah.  Tapi ketika udah masuk ke ranah yang lebih konkret, nggak ada. Bisa dihitung sama jari. Berapa orang yang ada di depan, di samping kalian ketika kumpul, itu bisa dihitung. Itu PR loh. Padahal apa? Kekerasannya ada, pelanggaran hak-haknya ada. Anak-anak sekarang nggak mau diganggu, nggak mau pakai kekerasan. [Kekerasan] itu ada. Kalau mereka sendiri yang ngalamin, pasti nggak ada yang mau!

LKIP: Atau mungkin jangan-jangan kita nggak perlu berharap sama mereka? Mungkin harus ada yang mulai duluan, dari kelompok yang lebih mengakar dan tersadarkan, dan kelompok yang lain ikut dari belakang. Atau tidak?

Ucok: Itu kan dari dulu sudah ada. Justru itu sekarang kita balikin lagi. Otokritiknya adalah ke arah kita. Usaha apa yang sudah kita lakukan untuk memaksimalkan itu selama ini, untuk mengorganisir kawan-kawan yang nggak berpihak. Sebenarnya, ini balik lagi, kita tidak bisa menyalahkan orang lain, prinsipnya gitu kan? Dari kita solusinya apa, begitu kan? Otokritik ke kita. Dari orang-orang yang tercerahkan itu solusinya apa? Sebenarnya seperti itu.

LKIP: Dari situ, istilah-istilah besar seperti ‘class struggle’ itu masih ada artinya untuk anak muda?

Ucok: Anak muda di mana dulu? Untuk anak muda urban nggak ada artinya karena mereka nggak dekat dengan isu-isu seperti itu, kecuali memang kerja di pabrik. Tapi kalau di daerah-daerah, ya sudah jelas. Anak muda di daerah itu yang membantu bapak-ibunya “perang” untuk mempertahankan tanah mereka. Jadi PR-nya adalah bagaimana mengenalkan isu-isu itu sebagai bagian dari mereka [anak muda urban], bahwa yang ditindas itu adalah bagian mereka juga. Ini sebenarnya simple kan.

LKIP: Kalau kita masuknya dari ranah budaya populer, dari subculture, masih relevan nggak? Mungkin lo bisa cerita sedikit dari pengalaman dulu, pra dan seputar reformasi, apakah scene-scene musik lokal bisa berperan juga?

Ucok: Bisa! Ada satu faktor besar yang dulu membantu, yaitu dulu kita berjejaring. Katakanlah, kawan-kawan yang ada di scene musik, di Bandung, berjejaring dengan kawan-kawan aktivis “tok mentok”,  aktivis yang kita pahami dalam arti sebenarnya, yang mengorganisir buruh dan petani. Kita punya lingkaran itu. Itu terawat sampai pertengahan tahun 2000-an. Panjang ceritanya tapi kemudian jejaring itu ancur dan kemudian berjalan sendiri-sendiri, dengan sendirinya selesai.

Lalu, faktor lainnya: hilangnya ruang publik yang kita punya sendiri. Yang kita punya ya, bukan yang orang lain punya. Contohnya Ultimus, antara awal dekade 2000-an sampai akhir dekade 2000-an, vital di Bandung untuk membuat, merawat, dan memaksimalkan jejaring seperti itu. Yang ngumpul di Ultimus itu heterogen. Aktivis rapat dan berkumpul di situ, anak-anak punk bikin acara di situ, anak-anak sastra bikin kelas sastra di situ. Kebayang kan heterogennya seperti apa dan [jejaring] bisa terbangun di situ? Yang hilang itu model-model seperti itu. Ruang publik sekarang rata-rata homogen. Nah, orang yang nangkring di situ ya modelnya homogen juga. Beda dengan kru jaman dulu model IF[i] dan Ultimus. Ultimus sekarang masih ada tapi beda secara konteks geografis. Secara geopolitik tidak terlalu bagus tempatnya. Aksesnya juga susah, bagaimana orang mau ngumpul, orang ngaksesnya susah.

LKIP: Ya, dan di Jakarta juga parah. Ruang publik justru milik lembaga-lembaga tertentu, di mana ideologinya disisipkan juga.

Ucok: Ya, tapi di Jakarta masih mendinglah ada anak-anak Institut A. kita mau bikin kayak gitu susah banget, terutama secara finansial. Kita dapat tempat untuk Ultimus di pojokan itu sewa 40 juta per tahun. Kebayang kalau kita cari tempat di pinggir jalan itu harus bayar berapa? Hal seperti itu isu kecil tapi penting kalau misalnya kita pertanyakan lagi, apa yang kemudian bisa dilakukan ketika mau balik lagi ke jaman dulu yang jejaringnya bagus.

LKIP: Kembali ke masalah subculture, kawan-kawan yang ada di scene lokal ini masih punya tujuan tertentu nggak, atau memang hanya murni untuk main musik?

Ucok: Saya pikir bukan ‘hanya’, karena itu pun sudah kompleks. Main musik sendiri itu sudah kompleks, lo mesti main gini, rawat ini-itu, dsb. Saya pikir memang sudah semestinya seperti itu. Lo mau main musik, di situ ada banyak hal yang ditangani sendiri dan segala macam, itu sudah satu pekerjaan sendiri. Mungkin yang dimaksud adalah bagaimana kawan-kawan yang ada di scene musik ini kemudian [gerakannya] beririsan dengan wilayah isu-isu di sekitar mereka, mungkin itu. Saya pikir kawan-kawan hanya main musik nggak masalah. Tapi, saya pikir, kawan-kawan juga manusia yang punya urusan sosial di luar sana. Nah, bagaimana kemudian kita memaksimalkan kesadaran itu. Kalau hanya main musik sendiri nggak masalah. Tapi bagaimana kita bisa bikin irisan dengan kawan-kawan yang urusannya di luar musik.

LKIP: Berkaca dari pengalaman lo dulu, caranya bagaimana untuk membuat irisan itu?

Ucok:  Kuncinya tadi, public space. Tidak hanya itu tapi juga beberapa kawan yang terlibat di pergerakan kemudian mesti bikin isu pergerakan dan menyebarkan solidaritasnya ke kawan-kawan yang lain, sebenarnya itu. Ketika PT DI [Dirgantara Indonesia] unjuk aksi, kita sebarkan bahwa ada kawan-kawan yang sedang berjuang. Nah, bentuk aksi yang paling sederhana dan gampang dilakukan itu aksi-aksi solidaritas. Dulu memungkinkan bikin aksi-aksi solidaritas. Tapi aksi-aksi tidak terbentuk begitu saja, ada prosesnya. Ada tempatnya, ada medianya, atau ada segala macam. Mungkin itu yang sekarang hilang.

LKIP: Itu kan dinamikanya lokal, di Bandung. Kalau konteks luasnya lo lihat gimana?

Ucok: Saya kurang tahu, tapi mungkin ini miniaturnya. Bagaimana ini terbangun di satu kota. Kemudian bagaimana satu kota berjejaring dengan kota lain. Jadi mungkin ini miniaturnya.

LKIP: Kita sendiri sadar, kalau bicara pergerakan kita sering terjebak romantisme 1998, peran mahasiswa dan anak muda, dsb, tapi di situ jelas ada konteks politiknya. Yang kemudian sedikit sulit adalah masuk ke era reformasi ketika sebenarnya ada juga musuh bersamanya, yaitu otoritarianisme modal. Tapi isu ini sepertinya susah ditarik ke anak muda, terutama anak muda urban. Lo melihat celah tidak untuk bisa menyampaikan ini?

Ucok: Semua itu ada hubungannya dengan cara mereka memandang dunia. Nah, bagaimana cara menyampaikan cara pandang dunia ini ke mereka, sebenarnya se-simple itu. Bagaimana lu sepakat dengan cara yang kita lakukan kalau cara memandang dunianya saja sudah beda. Misalnya buat gue, reformasi agraria itu penting karena penting bagi petani untuk punya lahan. Tetangga sebelah gue berpendapat itu urusan mereka, bukan urusan gue. Tetangga satu lagi bilang, “Ya, itu udah bener, itu tanah sultan.” Nah, gitu kan, cara memandang dunianya udah beda. Biasanya, jaman dulu, cara memandang dunia itu diselesaikan lewat diskusi, debat. Ada forumnya. Orang tercerahkan nggak langsung jebret selesai dalam satu malam gitu loh, ada prosesnya, ada tempat di mana tradisi diskusi berlangsung. Barulah dia yakin. Ini bukan romantisme tapi kita pernah mengalami itu. Ada bagusnya yang seperti dulu itu sekarang dipakai lagi, karena kita tahu caranya dulu bagaimana. Itu aja sebenarnya.

LKIP: Cara-caranya masih efektif nggak menurut lo?

Ucok: Masih efektif, itu masih ada. Tinggal bagaimana kita membungkus event-event itu menjadi sebuah tradisi yang sama kayak kita nonton gigs (pertunjukkan musik) gitu.

LKIP: Kalau dengan pendekatan populer, apa nggak ada pesan yang tereduksi atau hilang, menurut lo?

Ucok: Prinsip gue gini dari dulu: selama irisannya dekat dengan yang berjuang, apa pun bentuknya, sah-sah aja. Dan itu akan kelihatan, misalnya, kalau teman-teman memang dekat dengan apa yang terjadi di akar rumput. Itu nggak akan dibantah. Kecuali ketauan tidak dekat dan kalau itu cuma permasalah spectacle doang. Itu sudah bisa kelihatan. Misalnya isu antimiliterisme, dibungkusnya lewat acara Kamisan, buat gue sah-sah aja. Justru bagus, ngajak orang bukan untuk antimiliter, tapi semua orang toh tahu acara Kamisan isunya apa. Nuntut orang hilang. Nuntutnya ke siapa? Militer. Nuntut militer. Ini kan ujung-ujungnya antimiliter. Cuma, ini view-nya korban. Ini kan bagaimana kita mengemas aksi-aksi di lapangan. Buat gue itu aja. Mau pop kek, mau gimana, pengemasannya aja.

LKIP: Kalaupun kelompok ini jalan sendiri-sendiri, tidak dalam jejaring yang kuat, menurut lo ini bakal jadi masalah nggak?

Ucok: Masalahlah itu. Masalah sekarang kan itu..

LKIP:  Bagaimana dengan kuasa funding? Karena dengan funding yang didapat, tiap fokus isu beda-beda.

Ucok: Nah, ini masalahnya. Yang pengen gue garis bawahi adalah  gerakan itu harus dari bawah, bukan dari atas. Setiap gerakan yang dari atas nggak akan bertahan lama, percaya deh. Mau dari partai, dari funding kek, nggak akan tahan lama dan nggak akan militan.  Makanya, gue dari dulu selalu bilang bahwa masalah aktivisme nggak bisa dilepasin dari masalah eksistensialisme kita. Karena apa? Karena basic-nya eksistensialisme. Ngapain sih lo hidup? Kan gitu. Pilihannya kemudian apa? Tinggal gimana lo ngarahin eksistensialisme ke arah-arah isu progresif. Itu modalnya. Kalau modalnya cuma ngabisin duit funding, bukan dari lo sendiri, selesai udah. Militansi bukan dibangun dari kesetiaan kita pada ideologi tapi kesetiaan kita pada diri kita sendiri. Kesetiaan kita pada ideologi, pada apa pun yang sifatnya dari luar, bisa selesai, nggak akan tahan lama. Ketika gerakan runtuh, demoralisasi (gue ngalamin semua), segala macam harapan nggak ada, terus mau ngapain? Lo mau ngapain lagi? Tapi kalau impuls itu datang dari diri lo sendiri, “Ini emang pilihan gue, konsekuensi gue,” Insya Allah akan awet. [tertawa] Ada faktor-faktor lain di luar kontrol gue.

LKIP: Kalau menurut lo, ada nggak isu yang bisa menjadi pengikat berbagai kelompok yang bergerak sendiri-sendiri ini?

Ucok: Kalau isu, gue nggak bisa prediksi. Tapi kalau irisan bakal selalu ada. Ketertarikan untuk arah itu selalu terbuka. Kalau ngomongin pengikat, nanti kesannya kayak Pancasila. Irisannya harus dari kawan-kawan sendiri. Sumbernya dari dialektika di lapangan, jadi pengikatnya bukan hal yang bersifat makro. Lo pernah baca Antonio Negri, Multitude?[ii]

LKIP: Iya, yang sama Michael Hardt.

Ucok: Sebenarnya isunya itu. Kita bergerak sendiri-sendiri. Bagaimana caranya membangun intelijensi swarm? Lebah nyerang satu titik, tapi nggak ada komando, gimana caranya? Dilatih. Dilatih lewat apa? Lewat aksi-aksi keseharian. “Cok, lo mau ikut kompilasi antikorupsi, nggak? Ikutan gue!” Gue berusaha kasih dukungan meskipun gue nggak ada urusan langsung sama isu korupsi. Gue dukung kawan-kawan, harapan gue cuma satu, gimana terbentuk insting swarm itu dalam diri kawan-kawan. Jadi kalau gue diserang, yang ini bantu, yang ini lagi bantu, dan kemudian berakhir dengan mengarah ke satu serangan.

LKIP: Kita jadi ingat sama kejadian di Inggris 2011, di mana mahasiswa di Inggris ramai-ramai demo karena kenaikan biaya kuliah. Nah, di sini, kalau ada kenaikan biaya kuliah, mereka paling minta keringanan.

Ucok: Syarat dari multitude adalah kelompok-kelompok yang berjuang harus berjuang untuk diri mereka sendiri dulu. Mereka harus membebaskan diri mereka sendiri. Mahasiswa harus menyuarakan diri mereka sendiri; kawan-kawan mahasiswa sendiri yang nyuarain dulu. Nanti ketika mereka bermasalah, diserang tentara, dan butuh aksi solidaritas, kawan-kawan lain yang ada di luar, yang nggak ada irisan secara langsung, akan membantu sebagaimana mereka sendiri yang tertindas. Prinsipnya begitu. Tapi harus ada dulu kawan-kawan yang berjuang. Bagaimana mau terbangun multitude kalau tidak ada yang berjuang.

LKIP: Demo masih relevan?

Ucok: Relevan! itu bagian dari metode. Tapi lo pakai buat apa dulu. Ada waktunya demo, ada nggak. Ada waktunya aksi lapangan, ada nggak. Tapi kalau soalnya relevan masih, sangat sangat relevanlah. Aksi massa adalah cara untuk menunjukkan kekuatan di lapangan.

LKIP: Agak lucu karena demo sekarang dianggap tidak relevan lagi.

Ucok: Karena belum menemukan momennya ketika mereka butuh. Atau karena mereka tidak berjuang!

LKIP: Atau anak-anak (webzine) ini masih 7 tahun pas tahun 1998.

Ucok: Bisa juga karena mereka tidak mengalami masa krisis. Beda soalnya ketika lo ngobrol sama kawan-kawan daerah. Sekarang represi itu kencang di daerah. Sekarang, hasil ngobrol diskusi soal media dan aktivisme, yang harus dilakukan kawan-kawan adalah datang ke daerah dan kemudian mengekspos habis-habisan apa yang terjadi di daerah hingga terasa oleh semua bahwa kita sekarang sebenarnya berada dalam state of crisis. Kita nggak ngerasa itu karena hal itu nggak di depan mata aja. Sama seperti 1998 untuk orang Papua, nggak kerasa buat orang Papua. “Apa sih reformasi? Santai aja gue.”

LKIP: Nah, yang terjadi sekarang justru… beberapa anak muda justru dibawa ke Jakarta untuk diberikan pelatihan leadership, dll?

Ucok: [Membawa anak muda ke Jakarta] itu logika yang keliru. Kalau mau membantu, ya justru datang ke daerah. Dalam arti, bantu sesuai porsinya ya, bukan datang jadi ahli. Kalau perspektifnya ‘saint’, ya sudah selesai. ‘Savior,’ itu selesai. Yang terjadi di Sidoarjo kan gitu. Orang sok tahu datang ke daerah.

LKIP: Nah, pertanyaan: bagaimana merangkul anak muda kelas menengah ini?

Ucok: wacana-wacana kaum kelas menengah harus di-reclaim, tapi ditujukan untuk kawan-kawan yang ada di lapangan, anak-anak muda yang aktif yang punya banyak hasrat untuk itu. Wacana yang mereka punya, kita reclaim! Wacana seni dan segala macem, Adorno, Benjamin, yang milik banyak orang elite, reclaim! Jebret! Bikin tulisan yang memang relate dengan kita. Sama ketika gue me-reclaim eksistensialisme. Reclaim aja udah, gas! Reclaim sama hal-hal yang dekat dengan kita, musik, segala macem.

Ini sebenarnya wacana yang sudah lama dilakukan sama kawan-kawan. Ini yang harus dielaborasi sama kawan-kawan di scene musik. Jadi kita akan punya ‘defender’ di wilayah itu. Defender di sini artinya lo pasang di posisi masing-masinglah. Selama ini kita bukannya nggak pengen, nggak ada orang yang nge-defend di wilayah itu. Itu nggak ada selama ini. Sekarang ada Martin Suryajaya, yang GM aja dilawan.  Udah selesailah permasalahan, sekarang gimana persoalannya kita bikin itu supaya representatif dibaca orang. Nah, itu permasalahannya. Kalau lo baca tulisan Martin, udah jelas, dia berani berpihak. Masalah anak muda semua kayak gitu. Lo punya ini, tools-nya lo punya semua, [lo] tahu ini, tahu ini, tahu musik ini, segala macam, tapi lo berpihak ke mana? Selesai masalah kan kalau udah dibenturin ke situ.  Rata-rata anak muda kayak gitu tuh. Nggak punya keberpihakan. Masih muda aja, main netral. Anak muda sekarang cenderung nggak berani apa-apa karena takut dikooptasi, takut dikendalikan, takut ditunggangi. Itu yang jadi momok. Sebenarnya itu mencerminkan betapa bodohnya mereka. Permasalahan politik itu tunggang-menunggangi. Lo nggak bisa lari dari itu. Caranya cuma: lo mau nunggangin atau lo mau ditunggangin? Statement lo, strategi lo kemudian apa ketika berhadapan dengan itu? Itu aja sebenarnya, gampang!

 

Herry Sutresna

Dikenal juga dengan nama Ucok atau Morgue Vanguard. Salah satu pendiri kolektif hip hop Homicide (1995-2007) serta penggagas Trigger Mortis. Selain dikenal sebagai rapper (kegiatan nge-rap masih ia lakukan sampai sekarang), Ucok juga seorang pekerja seni dan zine. Tulisan Ucok bisa dibaca di gutterspit.com. Kini Ucok lebih sibuk menjadi produser beberapa kolektif musik ketimbang ngerap. Bersama keluarganya, Ucok kini tinggal dengan tenteram di Bandung.

 


[i] If Venue adalah sebuah ruang inisiatif di Jl. Muh. Ramdhan 91, Bandung yang mulai beroperasi pada Agustus 2004 If Venue terpaksa ditutup karena masalah finansial.

[ii] Judul lengkapnya adalah Multitude: War and Democracy in the Age of Empire oleh Antonio Negri dan Michael Hardt (London: Penguin, 2004).


comments powered by Disqus