
“Radikalisasi” Pengertian “Radikal”
Kredit ilustrasi: geotimes.co.id JUDUL tulisan Kompas di rubrik “Politik&Hukum” tanggal 8 September 2018, membuat saya sedikit kebingungan. “Radikalisasi Pancasila Penting Dilakukan”, begitulah judul tulisan

Kredit ilustrasi: geotimes.co.id JUDUL tulisan Kompas di rubrik “Politik&Hukum” tanggal 8 September 2018, membuat saya sedikit kebingungan. “Radikalisasi Pancasila Penting Dilakukan”, begitulah judul tulisan

Kredit ilustrasi: ecosocialism canada – blogger “Perhaps in a few hundred years, we will have established human colonies amid the stars[1] … (Mungkin dalam

ESTETIKA sebagai disiplin filsafat seni telah mengalami banyak perubahan sepanjang abad ke-20.[1] Sejak kemunculannya sebagai pendekatan berkat Alexander Baumgarten di abad ke-18 sampai dengan akhir

“Namun, organisasi seperti yang seperti dimaksud Nadezhda tidaklah dibangun hanya dari sekedar diksi-diksi dan teriakan revolusi, sebab hari ini kapitalisme bersama pion-pionnya berinovasi tanpa henti sementara kita semua punya perut untuk diisi dan perjuangan berdasarkan perencanaan kolektif tidak bisa berhenti.”

Menyebut peristiwa pembantaian 1965 sebagai tragedi, sama artinya dengan menutupi kenyataan sejarah

KEKERASAN berlatar sektarian, tampaknya merupakan peristiwa politik paling menyita publik di Indonesia, dalam rentang lima tahun terakhir. Walaupun, jika ditilik lebih ke belakang, kekerasan sektarian ini kembali mengemuka setelah runtuhnya rejim Orde Baru.
Sebelumnya, tipe kekerasan yang dominan adalah yang berlatar-belakang ekonomi-politik, serta kriminalitas biasa. Kekerasan sektarian bukan tak ada, tapi lebih bersifat temporal, ketimbang kekerasan belakangan ini yang tampaknya lebih sistematis dengan agenda politik yang terukur. Dari gerakan dan tuntutan yang tampak pada pelaku kekerasan sektarian ini, kita temukan ciri-ciri berikut: gerakannya mengambil bentuk mobilisasi massa di jalanan; anti pluralisme, anti demokrasi, anti liberalisme, anti komunisme, dan percaya pada keagungan sistem dan nilai-nilai sosial masa lalu; massa yang dimobilisasi terutama berasal dari kalangan rakyat miskin.

Kredit foto: radarpekalongan.com SERINGKALI saya disodori dengan pertanyaan yang sama, kenapa menolak? itu kan pembangunan, nanti juga untuk kebutuhan listrik rakyat, jangan anti pembangunan

Kredit ilustrasi: thedemocraticview.com 21 TAHUN setelah Indonesia mengadopsi demokrasi, aspirasi warga negara kebanyakan untuk kesetaraan dan kesejahteraan umum masih sulit untuk tercapai. Tidak jauh dari

Ilustrasi oleh Alit Ambara (Nobodycorp. International Unlimited) “Saya Seorang Nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan, My nationalism is humanity” Mahatmah Gandhi JUMAT 16 Agustus, 2019.

Benarkah Republik Islam sudah berada di tepi kehancuran? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu ditelaah empat aktor utama dalam dinamika saat ini: rezim yang berkuasa, rakyat, oposisi, dan kekuatan eksternal.

HAJATAN pilkada DKI Jakarta belum lagi dimulai, tetapi kampanye hitam, provokasi, dan fitnah sudah mulai gencar ditebarkan. Misalnya sebuah berita dari PosMetro[1], yang dengan cepat

“Tokoh yang pandangannya tentang komunisme Kristen purba akan diteropong di sini adalah Karl Kautsky (1854-1938), seorang pimpinan gerakan sosialis di Jerman pada masanya sekaligus intelektual yang berkomitmen pada tradisi sosialisme ilmiah.”
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.