1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 39

Paling Sering Dibaca

Jangan Hukum Fidelis Karena Cintanya!

  Ilustrasi oleh Nobodycorp   SEMUA kisah cinta yang agung selalu memuat penderitaan. Taruhlah, misalnya, Romeo and Juliet, kisah roman tragedi gubahan Shakespeare yang terkenal

Menjernihkan Makna Kata Tabayyun

Kredit ilustrasi: tabayyun.dohainstitute.org   “Hai orang-orang yang beriman, jika datang padamu, orang fasiq membawa kabar berita maka bertabayyunlah (periksalah dengan teliti!) agar kamu tidak menimpakan

Catatan Tentang Luta, Manusia yang Hidup Abadi

Cerita Pendek HELMUT Herzog, seorang antropolog Jerman, pernah memperlihatkan potret lelaki ini pada saya tiga tahun lalu. Ketika itu Helmut tengah meneliti tentang orang-orang yang

Dilema Althusser

ARTIKEL Mohamad Zaki Hussein yang berjudul Ideologi dan Reproduksi Masyarakat Kapitalis, yang merupakan pengantarnya untuk diskusi tentang artikel Louis Althusser, Ideology and Ideological State Apparatuses,

Kenapa Kami Menolak Panas Bumi di Gunung Slamet?

Kredit foto: radarpekalongan.com   SERINGKALI saya disodori dengan pertanyaan yang sama, kenapa menolak? itu kan pembangunan, nanti juga untuk kebutuhan listrik rakyat, jangan anti pembangunan

Nasionalisme Progresif vs Nasionalisme Reaksioner

DALAM beberapa minggu belakangan ini, jagat politik di Indonesia ramai dengan isu propaganda “Ganyang Malaysia.” Beberapa media gencar menyerukan dan membakar sentimen nasionalisme untuk meraih dukungan rakyat pekerja dalam melancarkan perang terhadap Malaysia.

Tingkah polah media-media itu ibarat provokator dalam gambaran rejim Orde Baru: menyebarkan kebencian, keresahan, dan kekerasan di tengah massa. Siaran sarat bombasme dan sarkasme sekaligus pengejaran akan rating iklan lebih dominan tinimbang aspek informatif dan edukatif. Sehingga patut dipertanyakan, apa makna nasionalisme yang muncul di kepala para penyiar, produser, dan pemilik media tersebut?

Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris

ESTETIKA sebagai disiplin filsafat seni telah mengalami banyak perubahan sepanjang abad ke-20.[1] Sejak kemunculannya sebagai pendekatan berkat Alexander Baumgarten di abad ke-18 sampai dengan akhir

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.