Menjernihkan Makna Kata Tabayyun

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: tabayyun.dohainstitute.org

 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang padamu, orang fasiq membawa kabar berita maka bertabayyunlah (periksalah dengan teliti!) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. al-Hujurat:6) demikian bunyi perintah bertabayyun dalam al-Qur’an.

MENURUT banyak ulama, ayat ini turun dalam rangka merespon peristiwa penugasan Rasulullah pada al-Walid Ibn Uqbah Ibn Abi Mu’ith untuk memungut zakat di kalangan Bani al-Musthalaq. Ketika warga Bani al-Musthalaq mendengar kedatangan utusan Rasulullah, yakni al-Walid, mereka keluar dari perkampungan untuk menyambutnya sambil membawa sedekah mereka, namun al-Walid justru mengira mereka hendak menyerangnya. Karena itu, spontan al-Walid kembali sambil melaporkan kepada Rasulullah bahwa Bani al-Musthalaq enggan membayar zakat dan bermaksud menyerang Rasulullah. Rasulullah marah dan mengutus Khalid Ibn Walid menyelidiki keadaan sebenarnya sambil berpesan agar tidak menyerang mereka sebelum pokok persoalannya jelas. Khalid mengutus seorang informannya menyelidiki perkampungan Bani al-Musthalaq, di sana didapati warga masih mengumandangkan adzan dan melaksanakan shalat berjamaah, yang itu artinya mereka masih bersetia pada Allah dan Rasul-Nya. Tak lama kemudian Khalid mendatangi mereka dan menerima zakat yang telah mereka kumpulkan.[1]

Mari kita cermati hal-hal menarik dari ayat di muka. Ayat tadi diawali dengan kata إن (in) yang berarti “jika” yang berpasangan dengan kata ف (fa) yang berarti “maka”. Dengan demikian ayat ini beroperasi dalam logika jika-maka, dimana peristiwa kedua ditentukan oleh peristiwa pertama. Peristiwa kedua tidak akan terjadi bila tidak ada peristiwa pertama. Peristiwa pertama di dalam ayat ini adalah al-Walid datang membawa berita tidak valid dan buru-buru mengambil kesimpulan, karena itu muncullah peristiwa kedua, Rasulullah mengutus utusan baru yakni Khalid bin Walid, yang dalam sejarah dikenal sebagai seorang ahli strategi perang, untuk menyelidiki lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi. Dengan demikian, tabayyun berfungsi sebagai pelurusan dan hanya terjadi jika datang orang fasiq dengan membawa berita. Ayat ini dengan sengaja memakai kata naba’ yang berarti berita penting untuk membedakannya dengan kata khabar yang berarti kabar biasa yang kurang relevan. Sedangkan tabayyun berasal dari kata tabayyana, yatabayyanu, tabayyunan ( تَبیُانًا یتبیّنُوْا تَبیَانَا ) yang berarti tampak, jelas, atau terang.[2]

Singkatnya, ayat ini memerintahkan kaum muslim untuk melakukan tabayyun atau memvalidasi sebuah berita atau informasi yang datang, sebelum menyimpulkan.

Di ayat yang lain di dalam surat yang sama Allah berpesan, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang” (QS. al-Hujurat:12).

Pesan utama dari ayat kedua adalah Allah melarang hamba-hamba-Nya berprasangka (zhann), dan mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan menggunjing (ghibah). Karena keburukannya, perbuatan tersebut termasuk perbuatan dosa. Nanti akan kita ulas lebih jauh kaitan antara ayat pertama (perintah tabayyun) dan ayat kedua (larangan mencari keburukan orang lain).

***

Sekarang, kata tabayyun semakin populer dan tak lagi asing di telinga kita. Banyak orang, tak hanya kalangan yang lekat dengan tradisi Islam seperti para santri, mulai rakyat biasa, politisi, aktivis dan bahkan artis kerap menggunakan dan mengatakan kata ini.

Tak jarang kita dengar para politisi mengatakan tabayyun setiap kali menanggapi statemen atau kritik dari lawan politiknya, atau para artis yang sedang didera gosip, demikian juga dengan para aktivis. Saban dikritik, mereka akan dengan mudah mengatakan, “etikanya adalah bertabayyun terlebih dahulu sebelum berstatemen atau mengkritik.” Atau kadang tabayyun juga dimaknai sebagai perintah sowan atau mendatangi pihak tertentu yang dibicarakan atau diberitakan. Biasanya dibumbui dengan kalimat sok akrab seperti, “datang kan bisa, nanya dulu sambil ngopi bersama biar nggak salah paham.”

Tabayyun meski secara literal berarti menggali kejelasan sebuah informasi, juga erat kaitannya dengan fungsi kritik atau setidaknya bisa menjadi landasan kritik. Kritik hanya bisa dikatakan sebagai kritik dan berfungsi sebagai kritik sejauh dilandasi informasi yang memadai pada apa yang hendak dikritik. Pertanyaannya kemudian, dalam konteks erupsi berita seperti sekarang, siapakah sang fasiq dan apakah tabayyun mengandaikan seseorang harus mendatangi pihak-pihak tertentu yang menjadi objek berita atau percakapan? Tentu saja manifestasi dari sang fasiq beraneka rupa, bisa surat kabar yang menyebarkan kabar bohong, para buzzer politik yang bekerja mendistorsi berita, politisi yang gemar menyebarkan fitnah, para ustad yang kerap menyampaikan pesan kebencian dan melebih-lebihkan informasi, atau para aktivis yang kerap mengklaim dirinya sebagai representasi rakyat tertindas namun tak pernah memberi informasi benar terkait agenda-agenda politik yang dijalankannya pada rakyat yang konon diperjuangkannya, dls.

Kaitannya dengan kritik. Seringkali, secara gegabah, tabayyun dipakai dengan cara serampangan sebagai bamper terhadap berbagai kritik. Tak bisa dipungkiri fungsi kritik dan cara mengoperasikannya menjadi semakin rumit dalam konteks riil politik hari ini di Indonesia, karena setiap kritik bisa dengan mudah disetarakan dengan sinis, nyinyir, atau sedang cari-cari kesalahan orang lain. Bahkan tak sedikit kalangan aktivis yang gagal mendiferensiasi antara kritik sebagai kritik dan cari-cari kesalahan orang. Padahal secara sederhana kritik bergerak pada ranah substansi pemikiran, bisa juga posisi pemikiran dan posisi politik, sedangkan cari-cari kesalahan orang bergerak pada ranah personal atau mempersonalisasi persoalan. Dengan demikian, yang pertama berada pada rel perdebatan pemikiran dan posisi politik, sedangkan yang terakhir berada pada rel argumentum edhominem yang hanya ingin menjatuhkan orang lain dengan mengais-ngais informasi keburukan orang lain.

Biasanya karena menghindar dari pembicaraan substantif dan mengelak dari kritik, agar tampak bijak kemudian menyuruh orang lain untuk bertabayyun, yang belakangan juga seringkali disamakan dengan bertanya pada pihak yang bersangkutan secara langsung dengan mendatangi atau sowan pihak yang bersangkutan. Ini tidak keliru dan hanyalah salah sebuah praktik tabayyun, bila menyangkut persoalan personal. Itupun dengan catatan bahwa persoalan personal yang dimaksud tidak menyangkut hajat hidup orang banyak. Bahkan, lagi-lagi dalam erupsi berita seperti sekarang dimana nyaris semua berita telah menjadi data publik yang disebut dengan big data, penggalian informasi dengan teliti terkait persoalan yang sedang digeluti atau dicari kejelasannya di internet juga bisa dimaknai sebagai tabayun.

Misalnya, semua data terkait Bank Dunia, cara kerja, strategi jaringan, dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, telah melimpah ruah di internet atau tinggal beli buku terbitan Zed Book yang banyak membahas persoalan ekonomi, sosial dan politik secara kritis. Sehingga tak perlu kita melakukan tabayyun dengan mendatangi kantor Bank Dunia. Betapa repotnya jika yang dimaksud dengan tabayyun kemudian disederhanakan dengan berjumpa dengan pejabat Bank Dunia dan ngopi bareng dengannya. Atau begini, karena ada salah sebuah organisasi mengkritik posisi politik organisasi lainnya, kemudian pihak pengkritik diminta sowan terlebih dahulu sebelum mengeluarkan statemen atau sikap politik, atau mengundang ketua dewan pembina organisasi yang dikritik untuk bicara dan memberi penjelasan terkait posisi organisasinya sedangkan kita tahu data terkait telah melimpak ruah. Atau contoh yang lebih sederhana. Kita tak perlu tabayyun dengan menemui satu persatu koruptor yang telah ditangkap KPK, untuk mencari kejelasan berita yang beredar perihal korupsi yang dilakukannya. Atau kita tak perlu tabayyun dengan menemui orang semacam Sandiaga Uno dan Erick Tohir untuk mengetahui berita, data dan informasi terkait bisnis mereka di sektor tambang dan dampaknya bagi kehidupan sosial dan ekologis. Atau kita tak perlu tabayyun menemui keluarga Suharto dan Sarwo Edhi untuk mengerti dosa-dosa politik mereka bagi segenap rakyat dan bangsa Indonesia. Sederhana bukan?

Dengan demikian, alurnya bisa dibalik, dimana pihak yang dikritik memberi tanggapan atas kritik, dengan mengeluarkan kertas posisi, jika bentuknya adalah statemen politik. Bila bentuknya adalah analisis teori dan data maka bisa dibantah dengan yang serupa. Sayangnya iklim perdebatan, bahkan di kalangan yang dianggap sebagai lapisan termaju masyarakat Indonesia, tak berkembang dengan baik. Kajian dibalas dengan cacian. Kritik dibalas dengan kata-kata kotor dan mempersonalisasi perdebatan akademik menjadi sekedar permusuhan antar satu dua orang. Makin sulit rasanya kita mendapati perdebatan bermutu antara para aktivis, peneliti, atau petinggi ormas seperti di masa-masa awal kemerdekaan dulu, selain hanya saling sindir dan menjatuhkan satu sama lain. Kita lebih butuh banyak dosis kritik dan keberanian mengambil sikap politik ketimbang perasaan paling mempunyai otoritas ketimbang yang lain dengan dasar sentimen yang feodalistik dan patriarkal: merasa lebih senior.

***

Kata tabayyun tak ubahnya banyak kata serapan lainnya di Indonesia yang diperlakukan semau-maunya dan bahkan lebih dari itu hanya dipakai oleh pihak-pihak tertentu untuk menghindar dari kritik. Jadi, sekarang Anda tak perlu sungkan-sungkan untuk melakukan kritik, meski harus dengan cermat dan tidak sedang dimaksudkan untuk tajassus atau mencari-cari kesalahan personal orang lain.

Sederhananya, kata perintah فتبينوا (maka telitilah dulu!) tidak dimaksudkan untuk Anda yang gemar menghindar dari kritik dan lebih senang cekcok dengan argumentum edhominem ketimbang perdebatan yang berwibawa. Wallahua’lam.***

 

————

[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), hal. 587.

[2] Tabayyun berasal dari kata kerja lampau (fi’il madhi) “tabayyana” yang berarti jelas. Tabayyana mengikuti kaidah sharaf dengan wazan تفعل (tafa’ala). Sedangkan tabayyun merupakan bentuk masdar dari tabayyana tersebut. Lih. Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, 1984), hal. 47.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus