Perjuangan Sehat di Pesisir Kaimana

Print Friendly, PDF & Email

Suasana senja dari Kampung Coa, salah satu kampung di wilayah pesisir Kabupaten Kaimana.
Kredit foto: Eduardo Erlangga

 

MENJADI sehat adalah perjuangan yang penuh getir dan air mata di Papua. Daerah-daerah pegunungan dan rawa terpapar ancaman pelayanan kesehatan yang mengkhawatirkan dan jauh dari kata layak. Ekstrimnya jangkauan geografis menjadi salah satu alasan. Faktor lainnya adalah keengganan para pelayan kesehatan untuk bertahan di lokasi tugas serta manajemen pelayanan kesehatan yang buruk. Tidak mengherankan, rangkaian peristiwa gizi buruk terjadi silih berganti. Saya berbisik dalam hati, hidup dan mati menjadi begitu tipis di tengah keterbatasan pelayanan kesehatan di pedalaman Papua.

Wilayah pesisir Papua juga demikian. Meski relatif terjangkau melalui transportasi kapal laut dan udara, pelayanan kesehatan bukannya lebih baik. Esai ini adalah catatan lapangan saya sekira bulan Agustus 2017, saat mengunjungi salah satu kampung di wilayah pesisir Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Kabupaten ini dikenal dengan kota senja dengan lagunya “Senja Indah di Kaimana”. Meski senja selalu menyapa dengan indah, keadaan masyarakatnya yang tersebar di wilayah-wilayah teluk belum begitu menggembirakan dari pelayanan dasar kesehatan, pendidikan, dan penghidupan yang layak.

Saya mengunjungi Kampung Marsi, salah satu kampung yang berada di wilayah pesisir Distrik Kaimana. Lokasi kampung ini berada di pinggiran laut sehingga sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dengan melaut mencari ikan. Menyusuri jalan menuju Kampung Marsi, kita akan melalui jalanan menanjak dan berliku membelah perbukitan Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Sepanjang jalan menuju Kampung Sisir, kita akan melihat kawasan perbukitan hingga daerah pesisir pantai. Jalanan hanya separuh yang teraspal. Sebagiannya adalah jalanan berbatu. Namun, kurang nyamannya perjalanan menuju Kampung Marsi terbayarkan dengan pemandangan kawasan pesisir pantai. Salah satu yang menarik perhatian adalah kawasan Kolam Sisir, kolam dengan airnya yang bening sebelum Kampung Marsi. Kolam Sisir berada di kawasan Kampung Marsi dan menjadi salah satu daya tarik masyarakat di Kaimana.

Kampung Marsi adalah salah satu kampung Suku Mairasi di wilayah pesisir laut Kaimana. Dua kampung lainnya juga berada di kawasan pesisir Kaimana yang bisa dilalui dengan kendaraan. Marga-marga yang mendiami Kampung Marsi adalah marga Suku Mairasi yaitu: Nanggewa, Surawi, Jaisona, Nambobu, Angguwa, Usa, dan Kamakaula.

 

Seorang anak Mairasi menjaga long boat milik orang tuanya di Kolam Sisir, salah satu obyek wisata di Distrik Kaimana.
Kredit foto: I Ngurah Suryawan

 

Susah Sehat di Kampung Pesisir

Kampung wilayah pesisir seperti Kampung Marsi, menjadi sangat rentan dengan perubahan cuaca lingkungan laut. Hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat di lingkungan tersebut yang sangat rentan dengan penyakit-penyakit pernafasan dan kesehatan sanitasi lingkungan di daerah pesisir.

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) adalah salah satu penyakit dominan di Kampung Marsi, yang ditandai dengan demam dan batuk beringus. Terkhusus untuk bayi dan anak, penyakit ISPA ini menjadi momok paling menakutkan. Penyakit lainnya adalah asma bagi orang dewasa. Infeksi saluran pernafasan dan diare juga dialami oleh para bayi di ini. Seorang perawat di Puskemas Pembantu (Pustu) Kampung Marsi mengungkapkan bahwa faktor-faktor lingkungan kesehatan masyarakat menjadi penyebab utama berbagai penyakit yang ada.

 

Anak-anak di Kampung Marsi sedang bermain dengan lingkungan yang kotor adalah salah satu penyebab penyakit ISPA dan diare.
Kredit foto: I Ngurah Suryawan.

 

Penyakit lainnya adalah penyakit malaria yang juga sering dialami oleh daerah lainnya di Kaimana dan juga di Papua secara keseluruhan. Terhadap penyakit ini, warga Kampung Marsi secara rutin akan mengonsumsi obat malaria yang sudah disediakan di Pustu. Keluhan yang sering dialami oleh masyarakat adalah badannya panas dingin selama satu bulan. Jika demam sudah mulai datang, maka mereka akan langsung mengonsumsi obat-obatan medis malaria yang disediakan di Pustu atau dengan obat tradisional yang mereka ambil di kebun.

Kaum perempuan mengenal dengan baik jenis-jenis penyakit yang mereka alami dengan obatnya masing-masing. Mereka enggan berpangku tangan hanya sekadar mengurus anak. Mama-mama di Kampung Marsi juga bekerja seperti layaknya laki-laki. Selain bekerja di kebun guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, mama-mama ini juga ikut membantu ekonomi rumah tangga dengan memecah batu-batu untuk bahan bangunan. Mereka juga ikut membantu suami dalam mencari batu-batu. Selain itu mereka juga ikut bersama suami dan anak-anak membuang jaring untuk mencari ikan. Ikan tersebut tidak dijual tapi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada pembagian pekerjaan, malahan perempuan di Kampung Marsi merangkap dengan membantu suami bekerja dan mengatur rumah tangga.

 

Mama-mama di Kampung Marsi tetap setia membantu suami dalam semua pekerjaan Untuk kehidupan sehari-hari.
Kredit foto: I Ngurah Suryawan.

 

Seorang mama di Kampung Marsi menuturkan bahwa sehari-hari ia bekerja membelah batu-batu untuk kemudian dijual. Selain itu, ia kini bersama dengan mama yang lainnya sedang bekerja untuk proyek bendungan yang berada di sekitar wilayah Kampung Marsi. Kehadiran proyek bendungan ini sangat disyukuri oleh mama-mama di Kampung Marsi karena bisa menambah penghasilan rumah tangga mereka. Kaum perempuan, mama-mama di Kampung Marsi, adalah pekerja keras yang melakukan pekerjaan berat untuk membantu suami dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah aktivitas keras perempuan Kampung Marsi, tidaklah heran jika mereka sangat rentan dengan berbagai jenis penyakit. Misalnya. usai bekerja keras untuk proyek bendungan, mereka mulai mengalami kesakitan di punggung dan tulang belakang. Tidak aneh jika selain malaria, penyakit lain yang sering menimpa mereka sakit tulang, rematik. Saat mengalami sakit tersebut, mereka biasanya akan melihat Pustu yang ada di kampung untuk mendapatkan obat secara mudah. Mereka sering menyebutnya dengan “obat rumah sakit”. Masyarakat Kampung Marsi lebih sering mengonsumsi “obat rumah sakit” ketimbang obat alami yang terdapat di lingkungan sekitar mereka. Lebih praktis dan tidak lama membuatnya. Padahal tumbuhan-tumbuhan obat masih banyak terdapat di kebun-kebun di sekitar kampung.

 

.

Polindes di Kampung Marsi yang berhadapan dengan Puskesmas Pembantu.
Kredit foto: I Ngurah Suryawan.

 

Sebagai kampung pesisir, Kampung Marsi mengalami persoalan air bersih pada saat musim kemarau. Kejadian itu terjadi terus-menerus. Praktis musim kemarau adalah musim penuh perjuangan bagi masyarakat di Kampung Marsi. Pada musim itulah mereka harus berjuang mendapatkan air bersih di tengah hutan. Sumber-sumber mata air di sekitar kampung sebenarnya banyak, namun tidak ada usaha untuk mendekatkan jarak sumber-sumber mata air tersebut ke kampung mereka. Jika musim kemarau tiba, itu pertanda mereka harus berhemat dengan air. Sumber mata air terdekat dengan Kampung Marsi adalah di wilayah perbukitan yang berada di belakang kampung. Jika musim kemarau tiba, mereka akan menggantungkan kebutuhan akan air bersih di beberapa mata air di wilayah perbuktian tersebut. Menuju sumber-sumber mata air itu tidaklah gampang. Para warga di Kampung Marsi harus berjalan kaki menuju sumber mata air di hutan sekitar kampung. Mereka biasanya akan memikul gen (ember-ember kecil maupun besar) untuk bersama-sama mengambil air.

Lagi-lagi, para perempuan lah yang menjadi tulang punggung untuk mencari air bersih naik ke sumber mata air di hutan. Mereka akan ditemani oleh anak-anak yang akan mengangkat gen air menuju ke rumah masing-masing. Hal itu mereka lakukan karena tak puya pilihan lain. Tidak ada harapan lain saat simpanan air hujan telah habis di dalam profil tank penampung air.

 

Rumah-rumah penduduk di Kampung Marsi yang berada di pesisir lautan.
Kredit foto: I Ngurah Suryawan.

 

Kesulitan untuk mendapatkan air bersih ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan di sekitar rumah mereka. Bagi anak-anak, mereka mengalami penyakit kulit dan kadang jarang mandi, ataupun kalau mandi kurang bersih karena kekurangan air bersih. Anak-anak ini juga sering bermain pasir di lingkungan kampung sehingga menyebabkan banyak kuman. Keinginan para orang tua untuk membersihkan juga terhalang karena persediaan air yang sangat terbatas.

Kesulitan air bersih ini juga berdampak terhadap sanitasi keluarga dan kesehatan keluarga secara umum. Sebabnya karena air bersih sangat berguna bukan hanya untuk mandi, tapi juga untuk memasak. Bagi para orang tua, kesulitan air bersih ini juga berdampak penyakit kulit dan kesehatan makanan yang harus dibersihkan sebelum memasak. Seorang mama mengisahkan bahwa seluruh sayuran dan juga makanan yang siap dimasak sebelumnya harus dicuci agar bersih. Jika musim kemarau dan kesulitan air maka mereka kesulitan membersihkannya. Akibatnya adalah kesehatan makanan menjadi tidak terjamin.

Seorang mama di Kampung Marsi mengisahkan bahwa untuk kepentingan memasak sehari-hari, mereka mengambil air dari profil tank rumah yang merupakan penampungan air bersih. Mereka akan memakai air ini untuk membersihkan beras, keladi, pisang, ikan, dan sayur-sayuran untuk memasak. Mama-mama sangat menyadari bahwa makanan yang dimasak harulah bersih agar tidak ada penyakit di dalam makanan. Di musim kemarau, hal itu hampir mustahil dilakukan.***

Kaimana, Agustus 2017

 

I Ngurah Suryawan, Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Menyelesaikan Doktor Antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2015 dengan disertasi berjudul “Siasat Elit Mencuri Kuasa Negara di Manokwari, Papua Barat”. Penelitian pascadoktoral dimulainya pada tahun 2016 hingga sekarang yang meliputi kajian tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, sejarah dan dinamika terbentuknya para elit Papua, gerakan sosial generasi muda Papua hingga politik pengelolaan sumber daya alam. Bukunya tentang Papua diantaranya adalah: Jiwa yang Patah (2014), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017), Suara-Suara yang Dicampakkan: Melawan Budaya Bisu (2017), Ruang Hidup yang Redup: Gegar Ekologi Orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2018), Kitong Pu Mimpi: Antropologisasi dan Transformasi Rakyat Papua (akan terbit – 2018).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus