1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 245

Paling Sering Dibaca

Edisi VI/2013

TAHUN 1637, seorang matematikawan cum pengacara Perancis, Pierre de Fermat, mengajukan satu teorema tersulit dalam sejarah perkembangan teori angka. Teorema ini dikenal sebagai teorema terakhir Fermat (Fermat’slasttheorem). Teorema ini menyatakan bahwa tidak ada tiga integer positif a, b, dan c yang dapat memberikan solusi pada persamaan an+bn=cn bagi setiap nilai integer n yang lebih besar dari dua. Teorema ini sendiri merupakan perluasan dari teorema segitiga Phytagoras dengan derajat problematisasi yang lebih tinggi. Banyak matematikawan tersohor dunia seperti Carl Frederich Gauss, Leopold Kronecker, Sophie Germain, Georg Cantor, berupaya membuktikan teorema ini. Sayangnya, para matematikawan tersohor ini tidak mampu untuk memecahkan teorema terakhir Fermat. Bahkan seorang filsuf empirisis seperti Karl Popper, sempat berujar bahwa teorema ini lebih tepat dikatakan sebagai konjektur, suatu proposisi yang keliatan logis namun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Walau begitu, situasi itu berubah ketika teorema ini berhasil dipecahkan pada tahun 1995 oleh Andrew Wiles, seorang matematikawan Inggris yang mengajar di Universitas Princeton, AS. Wiles membuktikan teorema terakhir Fermat dengan menggunakan perhitungan representasi Galois terhadap konjektur Taniyama-Shimura, yang kemudian memberikan ekuasi logis terhadap teorema Fermat itu sendiri.

Sekolah Minggu

KITA harus berterima kasih pada Platon lantaran dari Akademianya-lah sekolah-sekolah modern kita saat ini dimungkinkan untuk ada. Memang, jika bukan Platon tetapi orang lain yang membangun Akademia—sebut saja jika bukan Platon tetapi Hukama yang membangun Akademia—sekolah-sekolah kita saat ini pun akan tetap ada. Platon kebetulan saja lahir di zaman dan tempat yang masyarakatnya membutuhkan sebuah sekolah dengan metode yang jelas dan tertentu. Pendidikan disyaratkan oleh keadaan bukan oleh individu tertentu. Kalimat terakhir ini tentu bukan hal baru untuk pembaca sekalian.

Dicari: Donald Trump Asli Indonesia

  Sumber ilustrasi: atlasobscura.com   POLITIK Paman Sam hari-hari ini makin seperti film horor Indonesia, sebuah negeri nun jauh di sana. Ngeri-ngeri bikin geli. Terutama karena

Korengan

SEBUAH kafe di sudut Jakarta. Bocah lelaki sepuluh tahun, berkaus kumal, badan kurus legam dengan kaki korengan menggelesot di dekat pintu masuk. Kepalanya separuh rebah

Gosip di Sekitar Kita

HEMAT saya, tindak-tanduk kehidupan pribadi seorang penyair berbeda dengan karyanya. Saya berpegang pada sebuah pendapat bahwa karya adalah ciptaan dunia sosial. Seorang penyair hanyalah agensi penyebabnya. Tindak-tanduk seseorang bolehlah diadili berdasarkan tindak tanduk itu dan perangkat-perangkat lain yang melingkupinya. Sedangkan sebuah karya janganlah dibawah ke dalamnya. Dengan terjatuh pada ad hominem kita bersamaan juga merayakan individualitas manusia. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah seberapa jujur seorang penyair sebagai agen melihat kesosialan lantas menerjemahkan dalam karyanya? Hanya sebuah kritik yang baiklah yang bisa menjawabnya.

LKIP Edisi 26

Karya – Yang Luput dari Rachmat Gobel Catatan Kawan – Jukstaposisi Sensor dan Demokrasi Kritik – Sihir Picasso dan Semangat Zamannya Kritik – Bumi Bergolak/La

Perang Melawan Perangnya Kapitalis

DALAM satu dua minggu terakhir, daratan Eropa, terutama negara-negara yang dijuluki PIGS (Portugal, Irlandia, Greece, and Spain), diguncang oleh demonstrasi masal rakyat pekerja. Para analis

Lonceng

Untuk: M di Kota Senja SEPERTINYA matahari hampir lahir, ketika lagu Metallica, For Whom The Bell Tools, membentur dinding kamar. Konon, tepat 1 Juni 2012,

Sengkarut Diplomasi Pasifik Selatan

Ilustrasi oleh Alit Ambara   INDONESIA membuat terobosan baru dalam membangun hubungan kerjasama antar negara. Jikalau pola kerjasama selama ini lebih fokus dengan negara-negara besar,

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.