Menegaskan Yang Ilmiah dari Yang Utopis
Tanggapan untuk Airlangga Pribadi dan M. Fajar TULISAN saya sebelumnya Mengilmiahkan Yang Utopis, memperoleh tanggapan yang berbobot dari Airlangga Pribadi (di sini). Demikian pula, artikel
Tanggapan untuk Airlangga Pribadi dan M. Fajar TULISAN saya sebelumnya Mengilmiahkan Yang Utopis, memperoleh tanggapan yang berbobot dari Airlangga Pribadi (di sini). Demikian pula, artikel
CERITA PENDEK AKU teringat pada Marcial Antonio Requelme, lelaki asal Paraguay. Marcy, begitu panggilan yang kukenali. Ia pernah menulis sesuatu di balik sampul buku ‘Sangkur

INDONESIA sebagai sebuah wacana yang dipikirkan dan diimpikan sangat belakangan muncul pada saya. Katakanlah, ia muncul ketika saya duduk di bangku kuliah. Yang pertama kali

TAHUN 1637, seorang matematikawan cum pengacara Perancis, Pierre de Fermat, mengajukan satu teorema tersulit dalam sejarah perkembangan teori angka. Teorema ini dikenal sebagai teorema terakhir Fermat (Fermat’slasttheorem). Teorema ini menyatakan bahwa tidak ada tiga integer positif a, b, dan c yang dapat memberikan solusi pada persamaan an+bn=cn bagi setiap nilai integer n yang lebih besar dari dua. Teorema ini sendiri merupakan perluasan dari teorema segitiga Phytagoras dengan derajat problematisasi yang lebih tinggi. Banyak matematikawan tersohor dunia seperti Carl Frederich Gauss, Leopold Kronecker, Sophie Germain, Georg Cantor, berupaya membuktikan teorema ini. Sayangnya, para matematikawan tersohor ini tidak mampu untuk memecahkan teorema terakhir Fermat. Bahkan seorang filsuf empirisis seperti Karl Popper, sempat berujar bahwa teorema ini lebih tepat dikatakan sebagai konjektur, suatu proposisi yang keliatan logis namun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Walau begitu, situasi itu berubah ketika teorema ini berhasil dipecahkan pada tahun 1995 oleh Andrew Wiles, seorang matematikawan Inggris yang mengajar di Universitas Princeton, AS. Wiles membuktikan teorema terakhir Fermat dengan menggunakan perhitungan representasi Galois terhadap konjektur Taniyama-Shimura, yang kemudian memberikan ekuasi logis terhadap teorema Fermat itu sendiri.
KITA harus berterima kasih pada Platon lantaran dari Akademianya-lah sekolah-sekolah modern kita saat ini dimungkinkan untuk ada. Memang, jika bukan Platon tetapi orang lain yang membangun Akademia—sebut saja jika bukan Platon tetapi Hukama yang membangun Akademia—sekolah-sekolah kita saat ini pun akan tetap ada. Platon kebetulan saja lahir di zaman dan tempat yang masyarakatnya membutuhkan sebuah sekolah dengan metode yang jelas dan tertentu. Pendidikan disyaratkan oleh keadaan bukan oleh individu tertentu. Kalimat terakhir ini tentu bukan hal baru untuk pembaca sekalian.

MAJELIS Hakim PTUN Semarang kalahkan gugatan warga Rembang dengan alasan sederhana: gugatan kadaluarsa karena diajukan lebih dari 90 hari. Siti Zaenab dan Karni binti Medi
Di salah satu koran nasional edisi 29 September 2006, kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar, menyatakan, potensi terjadinya konflik dalam pemilihan kepala daerah (pilkada)
Situasi ekonomi yang kian sulit di masa datang akan menempatkan buruh pada posisi tawar yang kian rendah. UUK dan revisinya akan jadi aturan normatif yang
[soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/134619975″ params=”color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_artwork=true” width=”100%” height=”166″ iframe=”true” /]

SELEPAS salat isya, sebelum memenuhi kewajiban menelepon pacar, saya melakukan obrolan imajiner dengan Presiden Jokowi melalui aplikasi chatting masa kini, LINE. Inilah sebagian isi wawancara
Pengesahan RUU Penanaman Modal (PM) pada 29 Maret yang lalu seakan menegaskan ‘mazhab’ yang dipilih oleh pemerintah dalam konteks investasi asing dan perdagangan bebas. RUU
KONTROVERSI soal isu neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan, yang muncul dalam masa pemilihan presiden (Pilpres), membuat Pilpres kali ini terasa beda ketimbang Pilpres sebelumnya. Pada Pilpres
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.