Korengan

Print Friendly, PDF & Email

Oase-IPSEBUAH kafe di sudut Jakarta. Bocah lelaki sepuluh tahun, berkaus kumal, badan kurus legam dengan kaki korengan menggelesot di dekat pintu masuk. Kepalanya separuh rebah ke lantai. Tangan kiri memegang kaleng rombeng berisi beberapa koin gopekan.

Berjarak setengah meter, di balik dinding kaca, sepasang muda-mudi tengah cekikikan mojok di sofa. Si gadis, berparas elok, sehat dan wangi menyesap secangkir coffee latte. Sejenak ia melempar pandang ke arah si bocah, tapi segera melengos dan kembali menatap iPad-nya. Intip–intip teknologi gadget terbaru, berita artis Barat yang mau konser atau sesekali ikutan melongok berita korupsi. Ah ya, korupsi memang lagi riuh benar belakangan ini.

Minggu lalu, negeri ini diharu-biru dengan balada semut rangrang melawan buaya. Semut rangrang, sejenis semut berwarna coklat kekuningan, yang pedihnya minta ampun kala menggigit. Sang semut menjadi simbol rakyat jelata yang membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang  sedang ‘teraniaya.’

Terjadi kegaduhan di jejaring sosial. Ribuan orang tumpah ruah di bundaran Hotel Indonesia. Suasana sungguh gegap gempita. Revolusi Putih sedang bangkit bergerak. Semangat membela lembaga yang paling diandalkan memerangi korupsi ini menjalar hingga berbagai kota. Saking gempitanya, ada yang sejenak mengkhayalkan babak heroik Mei 1998. Sebuah khayalan tinggi minta ampun. Apa daya, khayalan itu langsung terjungkal dalam hitungan hari. Bukan oleh serbuan pasukan anti huru-hara plus tembakan gas air mata. Penyebabnya, di luar perkiraan:  pidato SBY. Kendati tak seheroik ucapannya setahun silam: ‘Saya akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi!’ tapi pidato ini cukup melegakan.

Ya, kita memang bangsa yang baik hati. Bukankah Islam melarang kita su’udzon atau berburuk sangka? Jadi, yakinlah lah bahwa presiden berniat baik atas janjinya memberantas korupsi. Kita juga bangsa pemaaf dan pemaklum, jadi kalau presiden lupa dengan omongannya sendiri, ya sudah maklum aja deh.  Presiden kan juga manusia.

Ini win win solutions. Gerakan sudah berhasil melindungi KPK. Mengirim pesan keras kepada koruptor agar jangan kebablasan. Presiden juga senang, karena ia lah sesungguhnya yang menang. Untuk hentikan gaduh, cukup muncratkan basa–basi politik. Tak perlu polisi atau Densus 88.

Begitulah, kita memang pecandu retorika. Dari kemiskinan, pengangguran, kurang pangan, korupsi, semua lumer di retorika. Dengan retorika penguasa menyapu ceceran kotoran ke bawah karpet. Lalu semprotkan pewangi ruangan. Permai dan harum sudah wajah negeri ini. Retorika adalah panglima pembangunan.

Sejatinya, negara ini tidak pernah sungguh-sungguh ingin memusnahkan korupsi. Wong dari sistem korup dan berdarah–darah itu lah kekuasaan di negeri ini dipahat. Dengan sistem korup inilah mereka puluhan tahun mereguk nikmat. Negeri ini adalah surga bagi para bandit dan penjilat, sekaligus bengis pada orang-orang berani dan bermental sehat. Menuntut presiden sebagai panglima memerangi korupsi? Bagaimana mungkin ia mengepel mukanya sendiri?

Ketika indeks korupsi Indonesia selalu bertengger di jajaran tertinggi seluruh dunia, pertanda masih jauh jarak antara semboyan dan tindakan. Tapi bagaimana lagi. Orang lebih suka gegap gempita tapi emoh bertekun-tekun mendidik dan tularkan keberanian itu dalam wujud membangun basis-basis perlawanan massa.

Kini gempita memerangi korupsi kelar sudah. Sementara itu, wajah miskin tetap abadi terpantul. Ada seorang memacu Ferrari di tengah kota, dan ada ribuan yang bertaruh nyawa dengan merayap di atap-atap kereta. Ada dua orang berdiam di di rumah berlantai tiga dengan lapangan tenis di dalamnya, dan ada ribuan berjejal-jejal seperti ikan pindang di bawah kolong jembatan.

Inilah kapitalisme. Di panggung yang sama, jarak terentang selebar-lebarnya.

Saking sering orang miskin dijadikan obyek hitungan statistik dan komoditas layar kaca, maka melihat penderitaan orang pun sudah kebas. Salah sendiri jadi orang miskin! Makanya bacalah buku-buku motivasi: 1001 Kiat Anti Melarat; Jurus Hebat Mendadak Kaya atau Rapalan Ilmu Ikhlas Menderita Sampai Mampus.  

Tak usah berceloteh tentang zaman usang. Tentang Haji Agus Salim yang bilang  ‘memimpin itu adalah siap menderita.’ Atau tentang Hatta yang sampai mati tidak sanggup beli sepatu Bally. Atau Perdana Mentri Natsir yang mau-maunya mengenakan jas tambalan di rapat kenegaraan. Cerita itu terdengar kian janggal. Seperti dongeng dari negeri nun jauh di atas awan. Bayangkan jika di depan anda, sosok kucel Agus Salim, dengan pecinya yang itu-itu saja, berkoar mengajak kita berpadu menyelamatkan negeri. Ah, siapa peduli, ia mungkin sedang sinting, mahluk tersesat dari planet Mars.

Ronggowarsito, pujangga tanah Jawa, lebih 100 tahun silam dengan jenius memotret keresahan zamannya dalam Serat Kalatida atau Zaman Edan. Salah satu baitnya yang terkenal adalah:

Menyaksikan zaman gila,
Serba susah dalam bertindak,
Ikut gila tidak akan tahan,
Tapi kalau tidak mengikuti (gila),
Tidak akan mendapat bagian,
Kelaparan pada akhirnya,
Namun telah menjadi kehendak Allah,
Sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Barangkali, di kuburnya, Ronggowarsito menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kegilaan zaman ini. Zaman yang jauh melesat melampaui hitungannya.

Tapi ah, muda – mudi di kafe ini, mana paham keresahan Ronggowarsito? Kenal juga kagak. Maka, mereka terus saja asyik bersuap-suapan roti berlumur keju, yang membuat lidah tergial-gial. Di balik kaca, si bocah kurus korengan lari terpincang-pincang diusir satpam.***

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus