Radikalisasi Demokrasi
Setelah lebih dari dua dekade masa transisi demokrasi, apakah demokrasi semakin terkonsolidasi di negara-negara yang menjalani masa transisi? Lebih banyak jawaban pesimis yang muncul, ketimbang
Setelah lebih dari dua dekade masa transisi demokrasi, apakah demokrasi semakin terkonsolidasi di negara-negara yang menjalani masa transisi? Lebih banyak jawaban pesimis yang muncul, ketimbang

Laut sebagai pabrik tanpa dinding bukan sekadar metafora, tetapi manifestasi material dari relasi kapital atas kehidupan. Di ruang ini, kekerasan ekonomi dan kekerasan hukum tidak tampil sebagai pengecualian, tetapi sebagai normalitas operasional.

“MENGINSTRUKSIKAN kepada ketua umum DPP Golkar terpilih untuk memperjuangkan Jenderal Besar Purnawirawan Suharto sebagai pahlawan nasional,” ujar Nurdin Halid selaku Ketua Sidang Musyawarah Nasional Luar
Baru-baru ini, salah satu jurnal kiri tertua di AS, Monthly Review, edisi Juli-Agustus 2006, menampilkan edisi khusus mengenai “Aspects of Class in the U.S.” Beberapa

Penguasa menggunakan ruang digital untuk mengendalikan kebenaran. Maka itu pun adalah arena pertarungan kita.

ORASI Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di FISIP UI tempo hari (02/02), merupakan tawaran yang, pertama-tama, sekurangnya patut diperhatikan. Mengusung tema “Pengarusutamaan Bidang Sosial dan Budaya
Problem utama dari argumen Basri adalah ia secara sengaja abai akan hal penting tentang relasi ekonomi politik yang sudah menciptakan jebakan pendapatan menengah yang kemudian menjadi masalah aktual bagi pembangunan kapitalis di Indonesia. Model pertumbuhan yang menciptakan situasi ini adalah ‘kondisi kemungkinan’ bagi pembangunan kapitalisme di Indonesia. Ridha (2012) menunjukkan bahwa pertumbuhan serta pembangunan kapitalisme di Indonesia pasca reformasi 1998 justru hanya dapat terjadi ketika rezim ekonomi politik secara sadar melakukan eksploitasi masif atas sumber daya alam dan sumber daya manusia melalui alokasi tenaga kerja ke sektor yang menguntungkan. Untuk itu aspirasi Basri mengenai kepemimpinan visioner adalah harapan kosong yang tak bermakna sama sekali, karena Basri tidak secara jelas memberikan pentunjuk mengenai rezim ekonomi politik seperti apa yang yang mampu menciptakan kualitas sumber daya manusia yang baik yang dianggap dapat mengatasi jebakan pendaptan menengah.

BEBERAPA waktu lalu, tiba-tiba kita menyaksikan peristiwa tolol dan memuakkan: pelarangan acara diskusi buku Tan Malaka, karya sejarawan Harry A. Poeze. Pelaku pelarangan ini adalah

KETIKA mendengar pidato presiden Joko Widodo di depan kelompok bisnis di pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Beijing, Cina beberapa hari lalu, sontak muncul pro-kontra

PEMILIHAN presiden pada Juli ini, merupakan pilpres terakhir bagi elit politik didikan dan binaan rezim orde baru. Tengok saja figur-figur seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie,

LENIN ketika meringkas sejarah pemikiran Karl Marx, mengatakan bahwa ada tiga sumber pemikiran Marx: filsafat Jerman, ekonomi politik Inggris, dan sosialisme Prancis. Dari ringkasan Lenin ini, tak terhitung gunungan buku yang mengulas bagaimana ketiga sumber pemikiran itu memberi basis bagi pemikiran Marx.
Di sini, kami ingin mengutip sepenggal pengaruh ekonom Inggris terkemuka David Ricardo kepada Marx. Ia bahkan meluangkan waktu lebih panjang untuk karya Ricardo ketimbang karya Adam Smith. Menurut Ricardo masyarakat kapitalis dalam perkembangan yang penuh terdiri atas tiga struktur kelas: pemilik tanah, kapitalis, dan buruh. Yang menarik, Ricardo melihat bahwa masyarakat kapitalis ini memiliki ciri-ciri: tingkat keuntungan yang cenderung menurun (the declining tendency of the rate of profit), antagonisme kelas (class antagonism), dan hubungan antara pengangguran dan teknologi (the relation between technology and unemployment). Tetapi pada saat yang sama, Ricardo juga percaya bahwa masyarakat kapitalis adalah sebuah masyarakat yang kekal, sehingga ketika ia melihat hukum kerja Malthusian, ia meratapi bahwa kelas buruh akan tetap miskin, walaupun mereka membanting tulang dengan sangat keras setiap harinya.
Puisi T. D. Ginting Kamus Kecil Bangsa Indonesia (Edisi Revisi) disusun oleh: T. D. Ginting Laissez-faire, artinya bi(c)ar(a)kan saja Pemerintah, artinya ia
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.