1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 231

Paling Sering Dibaca

Menyoal Perjuangan Rakyat di Belakang KPK

KETEGANGAN politik yang terjadi saat ini begitu buram. Saling serang antara institusi. Para personil KPK satu demi satu dilaporkan karena tuduhan jejak masa lalunya. Polri

A.E. Priyono: Mereka adalah Neo Orde Baru

PEMILU presiden (Pilpres) 2009, baru saja usai. Ada begitu banyak hal yang bisa diperbincangkan darinya. Setelah beberapa waktu lalu, media ini mendiskusikan soal bergabungnya sebagian

Persetan Media

Ilalang Zaman adalah band multigenre yang menuliskan lagu-lagu yang mengangkat permasalahan-permasalahan sosial, antara lain berhubungan dengan kritik terhadap media korporat (“Persetan Media”, “Jurnalis Palsu”), common sense (“Apa yang Kita Rayakan?”), dan penindasan (“Sesaji Raja untuk Dewa Kapital?”, “Kalimantan”, “Palestina”, “Jangan Diam”, “Papua”). Nama Ilalang Zaman dipilih karena dinilai merepresentasikan gagasan yang diusung para personelnya dalam lagu-lagu mereka. Seperti ilalang dalam arti sebenarnya—gulma bagi tanaman mapan—Ilalang Zaman pun beritikad untuk menjadi gulma bagi kemapanan di zaman mereka hidup. Kini, Ilalang Zaman tengah menggarap album indie perdananya.

Anatomi Pelambatan Ekonomi Indonesia

PENGALAMAN ‘bulan madu’ pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat serta stabil, tengah berada di persimpangan jalan. Hingga saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sudah

Edisi XXIX/2014

  Daftar Isi: Hegel yang Materialis Dialektis Apa yang Ada di Langit, di Bumi, dan Diantara Keduanya: Finansialisasi (Alam) sebagai Tahap Paling Maju dari Imperialisme

‘Srooot’

Mengantri membuat kita punya waktu menatap lekat kepiawaian Penjual Nasi Goreng. Bau enak semakin menusuk hidung setelah lima atau enam pembeli beres dilayaninya. Sebuah payung yang diikatkan pada gerobaknya berfungsi menangkis gerimis. Saya memperhatikannya. Pipinya cekung petanda hidup yang keras. Lengannya kurus ringkih. Di atas kepala kecil kurusnya bertenggerlah topi berwarna kuning kumal. Tulisan partai berlambang pohon beringin menghiasinya. Tangannya yang kurus sigap membolak-balik nasi di wajan, menghancurkan bawang, mencacah daun sawi, menyendok garam dan penyedap masakan. Dengan cekatan ia memecahkan dan mengaduk telor mentah, dan sejurus kemudian kulitnya dilempar ke plastik sampah yang menggantung pada stang gerobaknya.

Edisi LKIP03

Beginilah kira-kira wajah pemberitaan yang kita konsumsi sehari-hari. Perempuan dipolitisasi tubuhnya, diatur gerak-geriknya, dan dianggap wajar untuk diperkosa. Bahkan, anggapan ‘perempuan sebagai barang’ pun masih kentara di zaman ini. Terakhir, kasus korupsi seolah tidak menarik jika tidak dibumbui perempuan cantik. Duh, sungguh formula film laga kelas B Hollywood.
Maka, wajar jika kita harus terus mengulang kisah ini di setiap bulan Maret. Seabad silam, dalam sebuah Konferensi Internasional Pekerja Perempuan tahun 1910, Clara Zetkin, salah seorang pemimpin Partai Sosial Demokrat Jerman, mengusulkan ide Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Sejak tahun 1913, hari tersebut dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Saat ini, di hampir 27 negara, termasuk Afganistan, Kamboja, China, Kuba, Laos, Madagaskar, Rusia, dan Vietnam, tanggal 8 Maret merupakan hari libur nasional. Namun, apa gunanya jika terus mengulang perayaan dan kenangan, sementara di saat yang sama, penindasan pada perempuan terus juga direproduksi; penindasan-penindasan yang sama namun dengan kemasan yang berbeda—bak Sisiphus yang selalu mendorong batu yang lantas menggelinding lagi ke bawah. Apakah kita sadar, kita adalah Sisiphus dalam kasus ini?

Ilustrasi: SPA

Logika Valorisasi di Rantai Pasok Perikanan Taiwan–Indonesia

Laut sebagai pabrik tanpa dinding bukan sekadar metafora, tetapi manifestasi material dari relasi kapital atas kehidupan. Di ruang ini, kekerasan ekonomi dan kekerasan hukum tidak tampil sebagai pengecualian, tetapi sebagai normalitas operasional.

Jokowi Sebagai Biang Hipster

Jokowi adalah presiden Indonesia terpilih periode 2014-2019 yang hip. Sebelum saya paparkan lebih lanjut indikator apa saja yang membuat dia hip, saya ingin menjelaskan pengertian

Perlunya Memaknai Kembali Konsep Negara

Tambahan untuk Coen Husain Pontoh MELANJUTKAN kritik Coen tentang peran negara dalam “Masih Efektifkah Negara Budiman?” di blog ini (lihat di sini), saya ingin turut

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.