
Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria
Devy Dhian Cahyati, Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Politik Pemerintahan UGM Judul buku: Class Dynamics of Agrarian Change Penulis: Henry Berntein Penerbit: Fernwood Publishing, 2010

Devy Dhian Cahyati, Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Politik Pemerintahan UGM Judul buku: Class Dynamics of Agrarian Change Penulis: Henry Berntein Penerbit: Fernwood Publishing, 2010

Masalah utama dari kasus PT GNI adalah eksploitasi terhadap pekerja, baik TKA atau lokal, serta ketidakpedulian pemerintah terhadap hal tersebut dan malah berpihak kepada perusahaan.

Makalah ini pernah disampaikan dalam diskusi “Keruntuhan Kritik Sastra di Era Populer” di UIN Badung “Akhir-akhir ini kita dipekakkan oleh perkataan krisis. Krisis ini

Tanggapan untuk Franz Magnis-Suseno Franz von Magnis (lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis) atau yang lebih dikenal dengan nama Franz Magnis-Suseno, menuliskan

Kredit foto: VIVA ARTIKEL Tabayyun saya bulan lalu, “Menuju Fikih Mayoritas” mendapatkan beberapa tanggapan menarik. Salah satunya adalah tanggapan cerdas dari kolega saya, Zain Maulana,

BERAKHIRNYA Perang Dingin telah menciptakan ketidakpastian di Kawasan Asia Pasifik yang mempengaruhi pola hubungan antarnegara. Pola hubungan ini terutama erat hubungannya dengan isu keamanan dan

Lemahnya penyerapan tenaga kerja berubah menjadi persoalan kualitas lulusan, serta pekerjaan yang rentan berubah menjadi persoalan kemampuan individu untuk beradaptasi. Menyempitnya basis produktif ekonomi berubah menjadi persoalan perguruan tinggi yang dianggap usang.

Ilustrasi oleh Alit Ambara (Nobodycorp) TUJUAN utama dari tulisan ini adalah untuk memberikan penjelasan teoretis mengenai asal-usul dan transformasi dari ‘kedaulatan’ di Asia Tenggara.

Dorongan anti-imperialisme sebenarnya telah lama berlangsung. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin menimbulkan kekhawatiran di kalangan Barat akibat berbagai perubahan dan dinamika geopolitik yang muncul.

PADA bagian pertama kita telah membahas fakta-fakta, runutan argumentasi, serta eksperimen yang membawa kita pada kesimpulan bahwa Bumi ini bulat. Kesemuanya dilakukan dengan teknologi yang


Mungkin tidak ada kata yang sepopuler istilah ‘critical’/’kritis’ dalam ilmu sosial dan humaniora dewasa ini. Selain ‘seksi’, istilah ini sering dipakai untuk memberikan nuansa ‘kebaruan’, ‘tidak ikut arus utama’ maupun ‘anti-tradisi.’ Mirip dengan penggunaan istilah-istilah lain—walau berbeda makna—seperti ‘interdisipliner’, ‘transdisipliner’ dll, kata ini menjadi paspor agar sebuah analisis dianggap ‘berkualitas’. Namun, seringkali kata ini kehilangan makna dan digunakan tidak lebih dari sekedar bungkusan belaka. Terutama di bawah payung postmodernisme, istilah ‘kritis’ ditelanjangi dari akar sejarahnya dan digunakan untuk semangat dekonstruksi tanpa rekonstruksi.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.