1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 199

Paling Sering Dibaca

Problem Negara dan TKI: Meletakkan Negara Kapitalis Pada Tempatnya

ARTIKEL KAWAN Hizkia Yosie Polimpung yang berjudul Kegagalan Negara? Ketidak-Jelasan Nasib TKI? Sebuah Tawaran untuk Perubahan Paradigma menurut saya, adalah sebuah upaya yang penting untuk mengembalikan perhatian teoritis kita pada Negara. Dalam epos kapitalisme-neoliberal sekarang ini, yang digadang-gadang sebagai momen ‘hilangnya Negara,’ kawan Yosie mengambil posisi yang hampir bertentangan dengan kebijaksanaan umum yang tengah berlaku, dimana alih-alih hilang, Negara masih ada dan akan terus ada. Bahkan keberadaannya semakin kuat dari sebelumnya. Di sisi yang lain, posisi ini juga memberikan tantangan yang serius bagi para pengamat atau siapapun yang tertarik akan peran Negara, yang masih terlena pada perspektif humanis tentang Negara: bahwa Negara teledor, lalai, dsb. Artikel kawan Yosie setidaknya memberikan pemahaman bahwa perspektif humanis tentang Negara, seringkali bertolak belakang dengan keseluruhan logika Negara itu sendiri. Di sini, akhirnya, Negara dengan moralnya – entah itu moral baik atau buruk – tidak lagi mencukupi untuk dapat menjelaskan karakter utama Negara.

Ronin

Ini tentang tumpangan. TAKEZO, tokoh utama dalam novel Musashi, bergumam pada paragraf kedua pembuka novel: Dunia sudah gila. Manusia seperti daun kering yang ditiup angin

Baper Berujung Indonesia

Kredit ilustrasi: iLikeSticker.com   APA dampak terburuk yang bisa terbayangkan dari baper—bawa-bawa perasaan? Tercederainya perkawanan? Kehilangan pekerjaan? Ataukah, seperti yang dialami Jay Gatsby, tokoh dalam

Selamat Jalan, Madiba

MANDELA amat mengagumi Gandhi dan keteguhan moralnya. Namun dia tahu, senjata yang tumpul tidak berguna untuk melawan musuh yang menyerang dengan membabi-buta. Di tahun 1961, terinspirasi oleh Fidel Castro dan Revolusi Kuba, Mandela membentuk Umkhonto we Sizwe (MK), sayap bersenjata ANC yang kira-kira berarti ‘Tombak Bangsa.’

May Day Dan Berkuasanya Kelas Pekerja

Sebagai tongggak kemenangan kaum buruh dalam merebut 8 jam kerja, May Day, sangat terasa geloranya dalam dua tahun terakhir. Penyebabnya adalah semangat perlawanan terhadap kebijakan

Marulloh, Aktivis HAM Tanjung Priok

Marulloh ingin anaknya punya usaha kecil sendiri. Dengan begitu sang anak bisa mandiri dan bantu keluarga. ‘Tapi cari modal susah. Harusnya pemerintah kasih kompensasi pada korban, supaya bisa jadi modal dagang,’ ujarnya dalam suatu kesempatan. Namun, Marulloh ingin kompensasi bukan sebagai sogokan. Karena itu, ketika para jendral yang bertanggungjawab atas pelanggaran HAM Tanjung Priok 1984, mengajukan tawaran berdamai dengan bahasa Islah, Marulloh dan sebagian korban Tanjung Priok lainnya menolak. Ia bersikukuh menuntut keadilan dan tanggung jawab negara. Ia, bersama dengan IKOHI, Kontras, dan para korban lainnya selama bertahun-tahun menuntut keadilan bagi korban. Keadilan bagi korban dan kompensasi memang satu paket yang tak boleh dipisahkan. Sayangnya, negara yang berdasarkan Pancasila ini, justru ingin memberikan kompensasi untuk meniadakan keadilan.

Serpihan-Serpihan September

  APA yang berseliweran belakangan ini, setidaknya dalam pengalaman pribadi saya, adalah perkara tragedi 1965 dan peristiwa-peristiwa ikutannya. Betapa tidak, di ranah diskusi kaum intelektual-cum

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.