
Jukstaposisi Sensor dan Demokrasi
“Sensor merefleksikan dengan sendirinya rasa kurang percaya diri sebuah masyarakat.” Ujaran Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat Potter Stewart itu menunjukkan besaran makna sensor dalam suatu

“Sensor merefleksikan dengan sendirinya rasa kurang percaya diri sebuah masyarakat.” Ujaran Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat Potter Stewart itu menunjukkan besaran makna sensor dalam suatu
BELUM genap setahun perjanjian damai antara etnis Lampung dan etnis Bali disepakati kedua belah pihak, konflik disertai kekerasan kembali pecah di Lampung Selatan. Kerusuhan bermotif
DI TENGAH keramaian kawan-kawannya, Krisni hanya terdiam menekuri layar telepon genggam. Sepucuk sandek baru saja masuk dari nomor yang tak ia kenal, mengabarkan kematian dan menanyakan kesediaannya ikut melayat. Krisni kemudian membalas sandek tersebut tanpa kecurigaan dengan menanyakan siapa gerangan yang meninggal. Tak lama, Krisni menerima balasan dan terkejut. ‘Kamu!’ balas nomor itu singkat, dikirim puluhan kali berturut-turut hingga Krisni harus mematikan telepon genggamnya.
TEKS proklamasi kemerdekaan sudah dibacakan 62 tahun lalu oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. “Tidak ada yang luar biasa” pada peristiwa
Apa yang ingin saya kemukakan di sini, baik Jokowi-Ahok dan Komnas HAM harus sama-sama menyadari bahwa ada persoalan struktural dan kultural yang begitu besar dan rumit yang mereka hadapi ketika hendak memperbaiki Jakarta dan penduduknya saat ini. Dalam kasus bantaran Waduk Pluit ini, mereka harus menempatkan HAM dalam konteks ini, bukan dengan merapal teks-teks HAM dari buku atau hukum-hukum positif yang ada. Hambatan struktural dan kultural ini merupakan warisan dari sistem pembangunan kapitalistik yang dilakukan oleh rezim Orba. Dalam model ini, Jakarta hanya merupakan salah satu bab darinya. Dengan demikian, jika keduanya, khususnya Jokowi-Ahok, tetap mengunakan model pembangunan lama yang ingin meniru ‘jalan menuju kemakmuran’ yang telah dicapai oleh negara-negara maju sekarang, maka keduanya pasti akan gagal. Atau, paling tidak, program Jakarta Baru mereka akan menelan ‘korban manusia’ yang sangat mahal.

Dekade 80an memang merupakan dekade dimana paham ekonomi neoliberal sedang mengalami pasang naiknya. Bangkrutnya sistem Bretton Woods pada akhir dekade 60an, dan proses deindustrialisasi yang menimpa negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat yang berpuncak pada krisis fiskal pada pertengahan 1970an, telah membuat para intelektual, teknokrat, dan politisi berpaling dari jalan Keynesianisme dan Sosial-demokrasi mengikuti jalan Kapitalisme-neoliberal. Di negara-negara berkembang, proyek industrialisasi berorientasi impor (Industrialisasi substitusi impor/ISI) mulai kehilangan popularitasnya sebagai solusi untuk memodernisasi keterbelakangan dan ketertinggalan ekonomi. Ketika terjadi krisis hutang luar negeri dari negara-negara Dunia Ketiga ini pada dekade 1908an, maka proyek ISI bangkrut dan diganti dengan proyek industrialisasi berorientasi ekspor (Industrialisasi Orientasi Ekspor/IOE).
BERITA banjir produk dari China masih terus masuk. Yang selalu menjadi pertanyaan adalah ”mengapa” China mampu menghasilkan produk sedemikian banyak, bagus, dan murah. Tulisan ”Memahami ’Sayap’
SEJUJURNYA, saya jenuh menulis tentang mahasiswa dengan cara-cara yang biasa. Saya ingin menulis sesuatu yang lain, untuk menyambut sekelompok pemuda beruntung ini. Saya berusaha membabarkannya dengan bahasa sederhana dan sekutil santai.
Inilah negeri tempat pemuda-pemudi berumur beranjak dewasa, yang mengimpikan dirinya menjadi mahasiswa. Naga-naganya ini pertanda buruk. Mengapa? Coba lihat Kuba, sebuah negeri kecil di Amerika Latin, negeri dimana menjadi mahasiswa sama nilainya dengan menjadi bukan mahasiswa. Di negeri itu, setiap orang dikasih hak menamatkan diri sampai jenjang pendidikan terakhir dan tanpa ongkos secuil pun. Kalau anda hendak bertanya kenapa bisa demikian, anda sudah berada di jalur yang benar. Menyederhanakannya dalam uraian singkat, kira-kira beginilah paparannya.

JOKO: War, kau masih ingat, sudah berapa lama kita berada di sini? Anwar: Wah, sejak kapan ya? Kayanya sudah dari sononya kita di sini. Mungkin

TAK BISA disangkal bahwa kekuatan terpenting di balik kemenangan Joko Widodo (Jokowi) adalah keberadaan relawan, yang, kata Jokowi, bekerja dari siang, malam dan subuh. Keberadaan
Ilustrasi gambar oleh Yayak Yatmaka “orah usah rakyat bela negara | kalo adanya pejabat kaya | orah sudi peduli negri | kalo diisi bandit petinggi
Ilustrasi oleh Alit Ambara Saya percaya pada angkatan muda. Di kantong mereka tida ada duit korupsi dan tangan mereka tidak berlumuran darah pembantaian, tidak pernah
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.