1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 179

Paling Sering Dibaca

Politik Kekerasan Komunal di Indonesia

SEJAK  terjungkalnya rezim Orde baru, Indonesia berkali-kali dikejutkan oleh fenomena kekerasan komunal dalam berbagai bentuk. Bentuk vertikal kekerasan komunal yang melibatkan komunitas lokal versus Negara,

Mengapa Terjadi Krisis Pangan?

SETELAH dihantam oleh krisis keuangan, diperparah oleh krisis minyak, kini dunia menghadapi ancaman krisis pangan. Datangnya krisis secara beruntun ini, telah menguras energi pemerintah di

Resensi Buku

Mewaspadai Benih Fasis Tanpa Tabu Beberapa Catatan Judul Buku: Orang dan Partai Nazi di Indonesia, Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme Penulis:        Wilson Penerbit:  

Metode Kapital: Kasus Lassalle

BEBERAPA tahun sebelum Kapital terbit, Marx pernah berbincang dengan Engels tentang karya salah satu kawan mereka, Ferdinand Lassalle, seorang sosialis veteran aktivis Revolusi 1848. Dalam

Paradoks Kebebasan Individu

Pengalaman Cina Hidup bebas dari ancaman ketidakpastian, ketakutan, agresi, kemiskinan, dan ketidakadilan, adalah impian semua orang. Menjadi bebas, adalah tujuan tertinggi dari seluruh pergulatan pemikiran

Selamat Jalan John…

PAGI hari 31 Oktober 2014, tersiar berita yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan. John Octavianus Silaban meniggal dunia akibat serangan jantung pada malam sebelumnya. John adalah

Remah Cerita Agustusan

Foto diambil dari laniratulangi.wordpress.com 17 AGUSTUS bagi saya adalah hari libur yang biasa-biasa saja. Selain karena memang—oleh satu dan dua cara hidup selama ini—hari libur

Jokowi dan Asa Program Minimum Sosial

DALAM Pemilu calon legislatif 2014 lalu, saya memutuskan tetap Golput, karena tidak ada preferensi politik ideologis yang sesuai dengan harapan. Di Pemilu 2014, tidak ada

Oknum Revolusioner Empirisis

SEBAGAI ilmu, materialisme historis berlandaskan pada realitas empiris. Meski begitu, tak lantas ia tunduk pada godaan empirisme. Malah, empirisme itu salah satu sasaran tembak paling

Ketika Ilmu menjadi Ideologi (2)

Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp)   MESKI cuma sepintas, di tulisan saya sebelumnya diceritakan bagaimana jijiknya orang-orang Inggris ketika mengetahui praktik kawin orang Nayar di

Puisi-Puisi Putu Alit Panca Nugraha

* Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno   Malam Pementasan 1 Sandiwara telah binasa: Dan seorang tokoh wanita berlari tergesa, dengan nafas yang berkejaran, mulutnya tebuka

Sukarno: Pemersatu atau Pembelah?

SEJAK SAYA mulai belajar sejarah Indonesia di University of Sydney tahun 1969, saya selalu diajari para dosen bahwa Sukarno adalah seorang permersatu. Bahkan mereka, baik dosen Australia, Indonesia atau Belanda, cukup banyak yang menyebut Sukarno – dengan nada minor – gandrung persatuan. Dalam bulan Juni 2011 lalu – dengan banyak spanduk yang menyatakan ini bulan Sukarno – masalah persatuan, apalagi dalam menghadapi ‘asing,’ suka disebut-sebut lagi.

Baik sebagai seorang akademisi yang ‘Indonesianis’ maupun sebagai warga dunia yang berkewajiban berideologi, saya menyatakan sebelumnya bahwa saya termasuk seorang yang sangat menghargai kepemimpinan Sukarno serta pikirannya, meskipun saya juga berpendapat dia bukan manusia sempurna: pernah juga melakukan kekeliruan dan kadang-kadang analisa yang salah. Sebagai seorang yang menilai peranan Sukarno secara umum sangat positif, saya mau menekankan bahwa gambaran atau stereotipe Sukarno sebagai seorang pemersatu adalah keliru total. Sukarno bukan pemersatu bangsa, dia adalah seorang yang membelah bangsa dan negeri Indonesia.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.