Puisi-Puisi Putu Alit Panca Nugraha

Print Friendly, PDF & Email

* Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno

 

Malam Pementasan 1

Sandiwara telah binasa:
Dan seorang tokoh wanita berlari tergesa, dengan nafas yang berkejaran, mulutnya tebuka menganga,
“Tolong, ada yang ingin menikam perut buntingku!!”
Lantang suaranya memecahkan sunyi
Maut terkekeh dan mulai beranjak dari tempat persembunyiannya

Ia meringkuk di sudut gelap panggung, dengan rambut yang berantakan, dengan muka
yang penuh coretan, tangannya meraba-raba perut dengan gemetar. Kakinya menendang-nendang kelam yang akan datang.
“kau tak bisa merebut nafasku, membungkam ucapku, dan menyekap bara apiku”

Lampu-lampu gantung, dan mikrofon yang tergeletak di panggung tak tahu harus menyahut apa, mereka diam saja menyaksikan sandiwara yang belum pernah diajarkan sutradara.

Tokoh wanita itu terbujur kaku, matanya terbelalak, perutnya robek,
janinnya hilang,
darah menggenang menenggelamkan jasadnya.

“Tolong, ada binatang buas keluar dari perut buntingku!!”
Penonton tercekat mencium bau anyir darah

: maut terkekeh, mengiringi tirai pementasan yang terbuka perlahan.

(2016)

 

Hujan di Makam Semalam

Kau menjelma hujan di makam semalam
Dan aku adalah seorang lelaki: tanpa baju dan sepotong daun pisang.
yang melintas pelan, sembari menadahkan tangan menampung rintik-rintik dirimu yang berjatuhan
Akan aku simpan rintikmu dalam sebuah gelas kaca, agar bisa kupandangi wajahmu yang sendu dan tak mengenakan kacamata.

Igaumu menjelma derau, dinginmu menjelma gigil
Dan aku adalah seorang lelaki: tanpa baju dan sepotong daun pisang
Yang berhenti menyaksikan upacara pemakaman dari tubuh-tubuh yang menolak dilupakan.
Akan aku simpan ricikmu dalam sebuah gelas kaca, agar bisa kuhayati suaramu yang
mengerang dan menyimpan gorok kelewang.

(2016)

 

Petak Umpet

Ada trauma yang mengetuk pintu rumahmu
Dan mengajakmu bermain petak umpet
Ia buru-buru memejamkan mata dan semena-mena menghitung mundur
debar jantungmu sekaligus sisa umurmu

kau berlari lalu bersembunyi di dalam sumur mati
tempat kau sering membuang mainan-mainan masa kecilmu
: bunga-bunga plastik, kincir angin dan boneka peri
tempat kau merasakan kembali sunyi sekaligus rasa nyeri
tempat kau sering meracau tentang kebahagiaan dunia yang tak dapat kau jangkau
kau nampak begitu fana
dengan tubuh yang dirayapi kurap
dan bola matamu yang digerogoti gelap
kau sudah tiada semenjak terlahir di dunia.

ada trauma yang mengetahui tempat persembunyianmu
lalu duduk manis di sampingmu
: aku adalah teman setiamu

(2016)

 

Selepas Huru-Hara

ketika kebebasan berpaling dari kebijaksanaan
kau akan menoleh pada dirimu yang rembang
sarang bagi si anjing kurap yang lapar dan berahi
ia akan segera berontak menerkam nurani
membangkitkan arwah kebiadaban yang tak berperi

selepas huru-hara
kau temukan mayatmu tergeletak di selokan
bukan peluru yang menewaskanmu
bukan pula bayonet yang mengoyak kulitmu
toh, jasadmu masih baik-baik saja tak membiru
di damai kematian kau masih bertanya-tanya

ketika kebebasan berpaling dari kebijaksanaan
kau akan menoleh pada dirimu yang petang
kau melihat sang tiran kecil yang berhenti sejenak
di depan etalase toko boneka
ia merengek pulang, bercerita pada ibunda
tentang gadis manis yang memeluk boneka favoritnya

selepas huru-hara
kau menyaksikan toko-toko dijarah, mobil-mobil dibakar
dan seekor kupu-kupu melayang meradang
dengan sayap robek terkena serpihan peluru tentara
di tengah kepulan asap hitam ia berduka menyaksikan
kekasihnya remuk terinjak-injak gejolak perjuangan mahasiswa
: ada yang merdeka ada yang menderita

kebebasan bagai ajal
yang menunggu waktunya dengan tenang
tak ada yang bisa menolaknya, karena semua menginginkannya
selepas huru-hara ada yang sekarat di jalan raya
tanpa nama, tanpa suara, tanpa luka di dada.
Dan kau masih saja bertanya-tanya

(2016)


Putu Alit Panca Nugraha lahir di Banyuwangi, 19 Januari 1996. Kini menetap di Yogyakarta. Bisa dihubungi lewat alitpancanugraha@gmail.com.


comments powered by Disqus