Ketika Ilmu menjadi Ideologi (2)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrator: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

MESKI cuma sepintas, di tulisan saya sebelumnya diceritakan bagaimana jijiknya orang-orang Inggris ketika mengetahui praktik kawin orang Nayar di wilayah jajahan mereka, India. Bukankah Tuhan telah berfirman bahwa pada dasarnya hubungan seksual itu terlarang kecuali melalui perkawinan yang tujuannya ialah membina sebuah keluarga sakinah di dalam rumahtangga yang sama? Lalu, perkawinan macam apa yang tidak membatasi hubungan seksual di antara mereka yang berkawin sehingga setiap ‘suami’ dan setiap ‘istri’ boleh berhubungan seks dengan siapa saja bahkan setelah upacara perkawinan diselenggarakan? Lalu lainnya, perkawinan macam apa pula yang tidak bertujuan membina sebuah keluarga batih yang di situ suami, istri, dan anak-anak mereka tinggal bersama di bawah satu atap dan berangkat ke gereja dan memuja Tuhan bersama? Ada satu penjelasan: itu bukan perkawinan sama sekali! Apa yang orang Nayar praktikkan tak lebih dari olok-olok Iblis atas kesucian keluaga batih konjugal monogami kita! Adat kawin orang Nayar adalah ujian bagi iman Anglikan kita supaya kita tetap teguh untuk menyebarkan Kabar Baik ke delapan penjuru mata angin! Kita harus insyafkan mereka!

Secara teknis, pemerintah kolonial Inggris di India membuat dua front perjuangan sekaligus. Pertama, sebagai bangsa beradab mereka berjuang di wilayah hukum. Undang-undang dibuat untuk melarang perkawinan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai adiluhung Eropa. Kedua, sebagai bangsa paling beradab dan paling kaya di muka bumi, mereka juga berjuang di wilayah ideologi. Sarjana-sarjana antropologi diongkosi untuk menulis dan mengajar. Teori-teori ilmiah dibuat sedemikian rupa setidaknya untuk menggerogoti pondasi kultural dan kemudian secara halus merendahkan berbagai macam pranata sosial yang tak sesuai dengan nilai-nilai dan posisi adiluhung peradaban Eropa. Salah satu yang dilahirkan ialah teori evolusi kebudayaan. Di bilanglah bahwa sejarah manusia di bumi itu ibarat perjalanan dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Perjalanan ini meninggi dengan puncak yang didiami oleh kebudayaan borjuasi Eropa. Dengan kerangka semacam ini, semua kebudayaan di dunia bisa digolong-golongkan ke dalam tingkatan-tingkatan peradaban. Semakin rendah tingkatannya, semakin rendah tingkatan peradabannya. Dan semakin rendah peradaban, maka makin dekat watak kebudayaan manusia itu dengan cara hidup binatang. Karena kebudayaan Inggris pada khususnya dan Eropa Barat pada umumnya dianggap berada di puncak evolusi kebudayaan manusia, pranata-pranata sosial mereka tak hanya menjadi patokan keadaban manusia, tapi juga tujuan akhir segala jerih payah dalam menjajah bangsa-bangsa di luar Eropa. Karena perkawinan monogami dan kelurga batih konjugal adalah bagian integral dari kebudayaan borjuasi Eropa, pranata kawin orang Nayar yang tak mencerminkannya mestilah dihapus dari muka bumi. Penghapusan ini secara ilmiah dapat dibenarkan karena dengan begitu jiwa-jiwa malang orang Nayar akan terbebas dari kekangan adat istiadat yang tak sesuai dengan kodrat manusia.

Marxis-marxis degil mungkin akan berkilah bahwa memang macam itulah watak ilmu sosial borjuis. Persoalannya, ide tentang evolusi kebudayaan juga dianut oleh orang setaraf Engels yang menelan mentah-mentah ‘ilmunya’ Lewis Morgan ihwal evolusi kebudayaan sebagai hukum sejarah manusia. Dengan asumsi bahwa sebelum memasuki ranah kebudayaan, manusia hidup layaknya binatang dan kehidupan seksual binatang itu tak beraturan sehingga semua individu boleh berhubungan seks dengan individu mana pun, ditariklah kesimpulan bahwa taraf pra-kebudayaannya manusia ditandai oleh peri kehidupan seks yang promiskuit. Ketika memasuki taraf terdini ranah berkebudayaan, manusia mulai berhimpun ke dalam pengelompokan berdasarkan ikatan darah. Kelompok-kelompok manusia tersusun atas individu-individu yang terhubung melalui peranakan dan keturunan. Karena peranakan dan keturunan yang paling tegas dikenali ialah hubungan ibu-anak, maka bentuk keluarga paling asali di taraf paling primitif kebudayaan manusia ialah keluarga konsanguineal tanpa ‘ayah’ dan ‘suami’; sebuah keluarga primitif terdiri dari para perempuan, saudara-saudara kandung mereka, serta anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang mereka peranakan. Karena Morgan dipuja-puji sebagai sarjana mumpuni oleh Marx dan Engels, semua aparatus partai komunis menjadikan etnologinya Morgan sebagai satu-satunya ilmu kebudayaan yang benar. Di luar itu hanya ada etnologi borjuis. Dan apa yang pernah dilakukan oleh antropolog-antropolog Inggris untuk pemerintahan kolonial mereka di India, juga dilakukan oleh etnolog-etnolog Tiongkok untuk pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok mereka di wilayah-wilayah ‘pembebasan baru’ di selatan.

Meski RRT diproklamasikan pada 1 Oktober 1949, baru setelah paro kedua dasawarsa 1950an saja semua wilayah yang kini menjadi wilayah Tiongkok ‘dibebaskan’ dari kekuasaan pemerintahan Kuomintang. Di suatu petang di penghujung tahun 1956, sebarisan kader militan Zhongguo Gongchandang memasuki wilayah Yunnan di Tiongkok selatan. Seperti budhis-budhis Tibet yang selalu membawa-bawa potret Dalai lama, kader-kader Zhong Gong tak cuma membawa-bawa potret dan buku kecil Mao di saku mereka, tapi juga segemplok teori evolusi kebudayaannya Morgan di benak mereka. Alangkah terkejut sekaligus girangnya mereka manakala di lembah Danau Lugu mereka menemukan bahwa kebudayaan yang dianut orang Mosuo (dibaca Moso) di sana tidak mempraktikkan pranata perkawinan. Di dalam sistem peristilahan kekerabatan Mosuo, tidak dikenal istilah untuk menyebut ‘ayah’ dan ‘suami’. Keluarga-keluarga Mosuo juga tidak tersusun atas suami, istri, dan anak-anak mereka, tapi perempuan-perempuan, saudara laki-laki mereka, dan anak-anak mereka. Di dalam keluarga mereka, perempuan adalah penentu dan penguasa atas sumberdaya lahan dan tenaga kerja. Pewarisan hanya dari perempuan ke anak-anak perempuan mereka. Reproduksi tidak terpranata melalui perkawinan, tapi melalui ‘kunjungan seks’ yang terpranatakan. Laki-laki yang menyukai seorang perempuan harus mengkomunikasikannya. Apabila diterima, dia akan mendatangi rumah si perempuan pada malam hari setelah makan malam secara diam-diam. Apabila si perempuan membuka jendela kamarnya, si laki-laki boleh masuk dan berhubungan seks. Dia harus sudah keluar rumah si perempuan sebelum ayam jantan berkokok dan penghuni rumah bangun. Hari-hari setelahnya, si perempuan boleh menerima kembali kunjungan si laki-laki. Boleh juga dia menolaknya dan menarik laki-laki lain untuk mengunjungi kamar tidurnya. Sebuah hubungan bisa berlangsung hanya satu hari, bisa juga belasan tahun. Meski belasan tahun, tak ada halangan budaya bagi masing-masing pihak untuk menerima kunjungan atau mengunjungi individu lain. Tak ada tuntutan untuk menjalin hubungan perkawinan dan membentuk keluarga. Tak ada tuntutan kepatutan pula apabila setiap orang hanya memiliki hubungan semalam saja. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang dilahirkan si perempuan? Semua anak yang dilahirkan sah, entah ayah biologisnya dikenali ataupun tidak. Tidak ada istilah ‘anak haram’ dalam kebudayaan Mosuo. Semua anak adalah anak halal. Bagaimana dengan nasab? Nasab anak tak ada urusannya dengan laki-laki. Semua anak dinasabkan ke keluarga tempat seorang perempuan tinggal dan menyandang nama keluarganya.

Apa yang membuat mereka terkejut? Seperti kebanyakan dari kita, tentu karena orang Mosuo tidak mempraktikkan perkawinan seperti halnya semua kelompok etnik di dataran Tiongkok. Tapi, apa yang membuat kader-kader PKT girang menemukan fakta ini? Karena mereka menemukan satu-satunya fakta dari teori Morgan-Engels tentang keluarga konsanguineal sebagai bentuk keluarga paling primitif. Selama ini, teori Morgan-Engels, yang sudah ditinggalkan oleh ‘sarjana-sarjana borjuis’ tak lebih dari spekulasi tanpa dasar empiris apapun. Dengan ditemukannya kebudayaan Mosuo dengan keluarga konsanguineal tanpa perkawinannya itu, mereka seperti menemukan fosil hidup karena menurut Morgan-Engels, kebudayaan semacam itu adanya di masa paling silam dari sejarah manusia.

Sepulangnya kader-kader PKT itu dari perkampungan orang Mosuo, ratusan orang lagi diberangkatkan sebagai tim-tim peneliti antropologi. Etnografi ditulis. Buku-buku resmi diterbitkan. Mereka seolah hendak menyatakan (kepada diri mereka sendiri) bahwa teori Morgan-Engels, puncak dari pencapaian ilmu sejarah Marxis, benar. Namun, seperti halnya sarjana-sarjana kolonial Inggris di India, mereka juga menautkan praktik kawin dan bentuk keluarga orang Mosuo dengan keprimitifan, dan keprimitifan dianggap setali tiga uang dengan keterbelakangan, dan orang-orang yang mereka anggap terjebak di dalam keterbelakangan harus dibebaskan.

Marxis ataupun bukan, para antropolog itu, baik yang mengabdi kepada pemerintah kolonial Inggris di India maupun yang mengabdi kepada partai di Tiongkok, bukan lagi ilmuwan. Mereka sekadar laden yang menjalankan perintah tukang yang pada gilirannya hanya menjalankan perintah dari pemborong.***


comments powered by Disqus