Ketika Ilmu Menjadi Ideologi (1)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: http://ecigarettereviewed.com

 

ILMU memang bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Apalagi sumber yang bisa memberi kita pengetahuan mutlak. Namun, karena ilmu berangkat dari keingintahuan dan keraguan atas hal-ihwal, bukannya dari keinginan akan kemutlakan dan kepastian, ilmulah yang bisa menghantar kita ke batas cakrawala yang terus-menerus melebar. Tanpa ilmu, dunia menjadi akan begitu sempit. Tanpa ilmu, cakrawala pandang kita akan terbatas. Dan kesempitan dalam keterbatasan membuat kita akan sering bertabrakan satu sama lain. Faedahnya dalam membuka terus-menerus cakrawala kemungkinan itulah mungkin yang menjadi salah satu alasan mengapa Tuhan yang saya imani pernah berfirman kepada seorang nabinya yang juga saya imani bahwa Dia akan mengangkat orang-orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi ketimbang yang tidak berilmu.

Apakah pengetahuan yang diperoleh lewat ilmu bisa keliru? Tentu saja bisa. Kekeliruan bukan sesuatu yang tabu dalam berilmu. Justru lewat kekeliruan itulah kita bisa menguak cakrawala yang lebih luas. Ibarat jatuh dan terlukanya seorang anak karenanya, kekeliruan setidaknya mengajarkan bahwa 1) cara jalannya tidak cocok dengan medan atau 2) jalurnya terlalu berat dilalui untuk umurnya yang belum seberapa. Dari situ, dengan dorongan yang memadai, si anak akan mencoba cara jalan berbeda atau mencoba jalur yang dinilainya—tentu dengan sehimpunan asumsi dan hipotesis terkumpul dibenaknya—lebih bisa dilalui kakinya yang mungil. Percobaan cara jalan baru atau jalur baru sama sekali bisa berujung pada kejatuhan baru atau keberhasilan. Baik kejatuhan maupun keberhasilan sama-sama berharganya. Kejatuhan baru menambah asupan pengetahuan baru, entah sekadar menjadi faktor tambahan dalam asumsi lama atau menggeser asumsi lama sama sekali yang kemudian dijadikan titik berangkat baru. Sementara itu, keberhasilan memungkinkannya meraih ‘puncak bertabur cahaya’ dan membuat penilaian baru soal dapatkah cara jalannya itu bisa berhasil untuk dipakai dijalur yang berbeda. Meski belum bisa menyusun kalimat yang dimengerti oleh neneknya, saya pikir anak saya tahu bahwa asumsi dan hipotesis akan selamanya terkubur di dalam keentahan abadi selama tidak coba diuji ke dalam realitas material. Dan pikiran kanak-kanak yang tak pernah mencoba cara dan jalur baru lalu terjatuh selama hidupnya, adalah bahan baku dari idealisme paripurna karena jatuhlah yang membuktikan bahwa dunia material itu ada di luar sana. Apapun pikiran kita tentangnya, dunia material adalah satu-satunya batu ujian.

Meski konon berangkat dari cara kerja ilmu, tak sedikit pernyataan yang dikemukakan sosiolog dan antropolog tak beda jauh dari pernyataan yang berangkat dari wahyu atau filsafat. Salah satunya ialah tentang universalitas praktik atau pranata budaya tertentu. Sesuatu yang kultural dikatakan universal apabila ia hadir di semua masyarakat manusia di delapan penjuru mata angin, dari dahulu sampai saat ini dan masa depan. Perkawinan dan keluarga batih termasuk yang dianggap universal itu. Kalau saja penyataan bahwa perkawinan antara laki-laki dan perempuan dan keluarga batih konjugal yang dihasilkannya itu didapat dari pengetahuan atas semua kebudayaan yang ada dan pernah ada tanpa dijadikan pernyataan bahwa masyarakat tanpa kedua pranata itu tidak normal, sebetulnya tak masalah dalam dunia ilmu. Persoalannya, pernyataan yang asalnya dari penyelidikan perbandingan itu seringkali dijadikan patokan moral untuk menghakimi perbedaan. Dengan asumsi bahwa semua masyarakat manusia niscaya mempraktikkan perkawinan dan mengorganisasi kelompok yang dihasilkan dari perkawinan itu ke dalam unit-unit keluarga batih yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya, dan dengan demikian keduanya dianggap sebagai hal yang normal bagi manusia, sebagian orang berilmu tak cuma terkejut ketika mengetahui ada masyarakat yang tak mempraktikkan perkawinan dan tak mengenal keluarga batih konjugal dalam kehidupan sosial mereka, tapi juga menilainya sebagai masyarakat ganjil, aneh, dan biadab. Kalau sudah begini, orang-orang berilmu itu sebetulnya sudah berhenti berilmu dan menjadi mulai menapaki jalan para pendakwah. Lebih parah lagi, ketika pernyataan dari orang-orang berilmu itu kemudian diikuti oleh mereka yang datang lebih kemudian sebagai kebenaran paripurna untuk kini dan selamanya.

Ambil contoh satu kasus historis yang lumayan bikin heboh antropologi sepanjang 1960an. Kala itu, seorang antropolog Kathleen Gough melakukan penelitian untuk disertasinya pada 1950an di India Selatan. Dia melakukan penelitian etnografi di antara Orang Nayar, sebuah kelompok kasta ksatria. Dari rekonstruksinya atas sejarah kebudayaan Nayar, Gough sampai pada pengetahuan bahwa sebelum dilarang oleh pemerintah kolonial Inggris mulai dari awal abad kedelapan belas hingga kemerdekaan India di paro kedua abad kedua puluh, Orang Nayar mempraktikkan ‘perkawinan’ yang dalam konsepsi Barat tak lazim. Ringkas cerita, tak seperti di Eropa, Orang Nayar tidak mengenal keluarga batih konjugal. Organisasi sosial mereka tersusun ke dalam kelompok-kelompok kekerabatan matrilineal yang secara teknis disebut sebagai lineage. Hanya orang-orang yang terhubung secara kekerabatan melalui seorang perempuan saja yang tinggal bersama. Artinya, rumahtangga Nayar hanya terdiri dari seorang perempuan senior beserta saudara laki-laki dan perempuan, dan keturunan-keturunan mereka. Setiap lineage memiliki hubungan persekutuan terwariskan dengan dua atau tiga lineage. Setiap beberapa tahun, lineage-lineage yang bersekutu dan biasanya meninggali wilayah berdekatan ini mengadakan upacara yang di dalamnya secara simbolik ‘mengawinkan’ semua anak gadis yang belum menstruasi dan jejaka anggota lineage yang bersekutu. Seorang gadis akan dipasangkan dengan seorang jejaka dari lineage berbeda. Dalam upacara yang berlangsung beberapa hari itu, jejaka-jejaka yang menjadi mempelai secara berbarengan mengalungkan semacam kalung ke leher gadis-gadis yang dipasangkan dengan mereka. Setelah itu, masing-masing pasangan dipingit di dalam kamar terpisah selama tiga hari tiga malam. Di masa itu bisa saja hubungan seksual berlangsung, tapi bisa juga tidak. Di penghujung masa pingitan, mereka kemudian dimandikan. Setelah beres mandi, tiap-tiap pasangan merobek cawat yang mereka pakai selama pingitan di hadapan kerabat hadirin. Usai itu, selesailah upacaranya dan mereka dianggap sebagai pasangan suami-istri. Tapi, tak seperti di Eropa, pasangan itu tidak tinggal bersama. Mempelai laki-laki kembali ke rumahtangga lineage ibunya, begitu pula pengantin perempuan tetap tinggal bersama lineage ibunya. Satu-satunya kewajiban ‘istri’ ialah dia beserta anak-anak yang dilahirkannya melakukan upacara penyucian jasad ketika di masa depan kelak suaminya meninggal dunia. Patut dicatat bahwa anak-anak yang dilahirkan si istri belum tentu anak-anak biologis dari suami ritualnya karena dalam kebudayaan Nayar setiap orang boleh berhubungan seks dengan siapa saja yang dikehendaki asal berasal dari kasta yang sama dan mereka sudah pernah ikut upacara perkawinan simbolik. Aturannya sederhana, hanya laki-laki yang mengunjungi perempuan untuk berhubungan seks setelah makan malam. Mereka hanya boleh tinggal di kamar si perempuan sampai ayam jantan berkokok dan setelah itu pulang ke kediaman ibunya. Setiap anak yang lahir akan dinasabkan ke lineage ibunya dan secara sosial dianggap anak dari suami ritual si perempuan tak pandang siapa pun ayah biologisnya.

Manakala orang Inggris menjumpai praktik semacam ini di wilayah jajahannya India, tak ayal mereka seperti bertemu dengan perwujudan karya Iblis di muka bumi. Ini lebih parah dari poligaminya Sarasen! Apa pasal? Jelas karena menurut mereka Tuhan sudah menggariskan bahwa pada dasarnya hubungan seks itu terlarang kecuali di melalui pranata perkawinan yang menghimpun seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk tinggal bersama di bawah satu atap untuk menghasilkan dan merawat keturunan mereka. Apa yang orang Nayar praktikkan adalah sebuah penghinaan terhadap kebenaran Ilahiah. Dan setiap penghinaan harus diganjar oleh pemusnahan. Dibuatlah berbagai aturan untuk melarang praktik kawin Nayar dengan semua sumberdaya akademik yang tersedia kala itu, termasuk antropologi, sebagai pembenarnya. Seperti banyak antropolog masa kini, antropolog masa itu juga lebih suka mendekati penguasa. Dengan silat lidah akademik yang sama dahsyatnya dengan seragam putih-putih seorang dokter, antropolog meyakinkan para pengambil kebijakan bahwa keluarga batih konjugal (sebagaimana dipraktikkan di Eropa) tak cuma produk evolusi tertinggi kebudayaan manusia, tapi juga bagian dari kodrat asali manusia sehingga boleh dikatakan alamiah. Semua yang selain itu harus dianggap tidak alamiah dan dengan demikian boleh disingkirkan untuk mengemansipasi kodrat manusia dari selubung budaya yang tak alamiah.

Ketika orang-orang berilmu mulai berpikir dan bertindak layaknya birokrat, pada saat itulah mereka sebetulnya sudah berhenti berilmu dan menjadi mesin fotokopi yang menyalin apa saja yang dikehendaki penguasa untuk disalin. Bedanya, kalau mesin fotokopi cuma bisa menyalin persis seperti aslinya, orang berilmu bisa menambahkan dengan sedikit dekorasi dan dramatisasi.***


comments powered by Disqus