1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 178

Paling Sering Dibaca

Partai Kiri Di Masa Transisi Demokrasi

Pengalaman Partai Buruh Brazil (1) PERJUANGAN untuk mengonsolidasikan demokrasi di Indonesia, kini memasuki fase yang kritis. Ketika kedikatoran berhasil ditumbangkan, gelombang pasang optimisme berdebur kencang:

Reformasi(nya) Oligarki

KALAU kita perhatikan agak teliti, ada yang baru dalam momen perayaan reformasi tahun ini. Kebaruan itu tampak pada penonjolan tema tentang bahaya oligarki, yang mendadak

10 Mitos tentang Kepemimpinan Prabowo

1. Tidak mungkin kediktatoran kembali di Indonesia. Kita memiliki demokrasi yang kuat selama 16 tahun era reformasi. Tentu kita tidak akan kembali ke masa Orde

Puisi-Puisi Putu Alit Panca Nugraha

* Ilustrasi oleh Timoteus Anggawan Kusno   Malam Pementasan 1 Sandiwara telah binasa: Dan seorang tokoh wanita berlari tergesa, dengan nafas yang berkejaran, mulutnya tebuka

Sukarno: Pemersatu atau Pembelah?

SEJAK SAYA mulai belajar sejarah Indonesia di University of Sydney tahun 1969, saya selalu diajari para dosen bahwa Sukarno adalah seorang permersatu. Bahkan mereka, baik dosen Australia, Indonesia atau Belanda, cukup banyak yang menyebut Sukarno – dengan nada minor – gandrung persatuan. Dalam bulan Juni 2011 lalu – dengan banyak spanduk yang menyatakan ini bulan Sukarno – masalah persatuan, apalagi dalam menghadapi ‘asing,’ suka disebut-sebut lagi.

Baik sebagai seorang akademisi yang ‘Indonesianis’ maupun sebagai warga dunia yang berkewajiban berideologi, saya menyatakan sebelumnya bahwa saya termasuk seorang yang sangat menghargai kepemimpinan Sukarno serta pikirannya, meskipun saya juga berpendapat dia bukan manusia sempurna: pernah juga melakukan kekeliruan dan kadang-kadang analisa yang salah. Sebagai seorang yang menilai peranan Sukarno secara umum sangat positif, saya mau menekankan bahwa gambaran atau stereotipe Sukarno sebagai seorang pemersatu adalah keliru total. Sukarno bukan pemersatu bangsa, dia adalah seorang yang membelah bangsa dan negeri Indonesia.

Lapak Gratis

DALAM sejarah, penguasaan terhadap sekeping tanah ada lebih dahulu sebelum tanah dimanfaatkan sebagai ‘lapak.’ Dan tanah sebagai suatu hal yang gratis, letaknya lebih jauh lagi dari itu, ketika manusia baru sedikit berbeda dari kera. ‘Lapak Gratis’ tadi, misalnya, dilaksanakan di atas sekeping tanah yang sudah dimodifikasi menjadi trotoar nan permai pemanja mata dan kaki para turis mancanegara dan domestik di depan Benteng Vredeburg. Dengan demikian, sudah ada sebuah kerja tertentu yang dilakukan di atas sekeping tanah yang dijadikan ‘lapak.’ Nilai dari kerja atas sekeping tanah tersebutlah yang memungkinkan sang tanah bisa menjadi ‘lapak.’ Nah, ketika lapak yang digelar di atas sebuah tanah yang punya nilai tertentu lantaran kerja tertentu diberi embel-embel ‘gratis,’ kita bisa melihatnya sebagai sebuah ketakhormatan terhadap nilai kerja tertentu tadi.

Boris Hessen dan Sejarah Ilmu

TENGAH tahun 1931, Nikolai Bukharin memimpin segerombolan ilmuwan garda depan Uni Soviet menuju London, Inggris. Di sana mereka akan menghadiri ‘Kongres Kedua Sejarah Ilmu dan

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.