Kembali Membela Utopia Indonesia
POLEMIK panjang yang distimulasi tulisan saya tentang Utopia Indonesia, sungguh telah menjadi sebuah benturan intelektual yang kaya dan produktif. Bila diringkas secara umum, perdebatan yang
POLEMIK panjang yang distimulasi tulisan saya tentang Utopia Indonesia, sungguh telah menjadi sebuah benturan intelektual yang kaya dan produktif. Bila diringkas secara umum, perdebatan yang

SEPANJANG tahun 2012-2013 terjadi gelombang kebijakan persetujuan penangguhan upah minimum di berbagai wilayah padat industri di Indonesia. Tiga diantaranya terjadi pada propinsi Jawa Barat, Banten,

MUKTAMAR Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, semestinya menjadi momen penting bagi perdamaian. Selayaknya, jika memang ingin mencatatkan sejarah, ajang
SETELAH dihantam oleh krisis keuangan, diperparah oleh krisis minyak, kini dunia menghadapi ancaman krisis pangan. Datangnya krisis secara beruntun ini, telah menguras energi pemerintah di
“WAR on Drugs,” tiba-tiba saja menjadi wacana “perang global” dari berbagai pemerintahan pasca hancurnya Perang Dingin, diakhir tahun 1980-an. Wacana ini pertama kali muncul pada
PERTAMA saya mendengar berita bahwa terjemahan buku saya, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement
LELAKI itu terkesima ketika mengetahui saya seorang muslim. Ia bergabung dengan klub koresponden asing di Hong Kong, seorang Inggris yang saya lupa namanya dan hadir dalam diskusi saya tentang Islam dan dunia modern. Ia kemudian bertanya apa nama keluarga ayah saya dan ketika saya menjawab, “Abdul Malik,” ia berkata, “Ooh…” seraya menunjukkan ekspresi lebih takjub lagi.
Nama saya sering menimbulkan salah paham di kalangan orang-orang yang menganggap seorang muslim biasanya bernama Arab.
Beberapa waktu lalu, Rusman Nurjaman dari majalah Intisari, mewawancari saya secara elektronik berkaitan dengan topic ‘Menciptakan Kota dan Lingkungan Ramah Warga.’ Setelah majalah itu terbit, tidak keseluruhan hasil wawancara itu dimuat, sehingga saya pikir tidak ada salahnya jika wawancara itu saya muat ulang selengkapnya di sini.
RITUS malam tadi kau njelma laron di pijaran neon aku adalah cicak menunggu, ngintai dan hap kau aku sergap sayapmu basah oleh ludah gurihmu aku

Di TENGAH runtuhnya kepercayaan ummat terhadap para kiai dengan tertangkap tangan-nya K.H. Fuad Amin –Ketua DPRD Kabupaten Bangkalan, yang di periode sebelumnya menjabat sebagai Bupati

BEBERAPA berita dan cerita dari kawan-kawan senasib sepenanggungan membuat saya berkesimpulan bahwa dari hari ke hari semakin sulit orang dari kelas bawah untuk naik tingkat

Indonesia yang setara, adil, dan bebas dari diskriminasi atas dasar apa pun adalah cita-cita. Tanpa itu, kedamaian hanya akan jadi pepesan kosong.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.