Utopia dan Kritisisme Post-Marxian
Tanggapan Terhadap Airlangga Pribadi “as spirits, spirits in the material world” (The police, 1981) SETELAH menyimak tulisan-tulisan Airlangga Pribadi yang menggagas “Utopia Indonesia,” saya tergelitik
Tanggapan Terhadap Airlangga Pribadi “as spirits, spirits in the material world” (The police, 1981) SETELAH menyimak tulisan-tulisan Airlangga Pribadi yang menggagas “Utopia Indonesia,” saya tergelitik

FILM Senyap diputar di beberapa tempat. Jogja salah satunya. Tapi paling tidak digagalkan di beberapa tempat. Kampus ISI dan UGM diantaranya. Massa datang meyerbu kesana.

“…segala alasan yang disampaikan Pemerintah untuk injak gas Pilkada Serentak sebetulnya dapat disanggah. Namun, Pilkada jalan terus dengan perhatian yang minim pada kesehatan dan keamanan pekerja penyelenggara pemilu, terutama penyelenggara pemilu ad hoc atau penyelenggara pemilu yang direkrut untuk masa waktu kerja tertentu, yang pekerjaannya banyak berkontak langsung dengan masyarakat.”

Judul Buku : Islam Politik: Sebuah Analisa Marxis Penulis : Deepa Kumar Penerbit : Resist Book, 2012 Tebal : 74

SIAPA kini yang tak kenal Florence Sihombing? Mahasiswi S-2 Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berhasil menyedot perhatian nasional akibat serapahnya di media sosial, yang berbuntut

Ilustrasi dari occupy.com SEBUAH pertanyaan lama yang tetap aktual: Anda masih percaya sharing economy yang dikenal masyarakat saat ini sungguh-sungguh ‘ekonomi berbagi’ yang menguntungkan

ADA HANTU berkeliaran di Indonesia—hantu kabar bohong. Media massa mainstream menyebutnya sebagai hoax, meminjam kata yang muncul dalam perbendaharaan bahasa Inggris sejak 1808 (menurut kamus

Protes pekerja perkebunan pisang, Honduras (Rafael Platero, 1954) KETIKA anak Pak Karyono meninggal tenggelam di empang buatan Ayahnya pada tahun 1996, semua orang kebun
Mengenang Joesoef Isak, 15 Juli 1928-15 Juli 2010 PADA 14 Agustus 2009, sekitar lima kali saya menelpon rumah Joesoef Isak. Dari seberang, terdengar suara yang
MESKI tiap tahun mengalir puluhan atau bahkan ratusan makalah atau paper seputar “kajian Islam”, yang dipresentasikan dalam forum-forum reguler dan “bergengsi” seperti Annual Conference on Islamic Studies (ACIS), keprihatinan akan terdeteksinya krisis dalam kajian keislaman di negeri ini tidak dapat kita sembunyikan. Suburnya riset-riset akademik, entah secara mandiri atau dalam rangka memenuhi tuntutan “proyek” tertentu, tidak menjamin bahwa kajian Islam benar-benar sedang hidup, dalam pengertiannya yang eksistensial.
Namun, bagaimana mungkin dikonstatasi bahwa terdapat suatu krisis, di tengah melimpahnya jumlah riset dan periset tentang “kajian Islam”, yang terus lahir dan mendapat dukungan struktural dari berbagai institusi kekuasaan yang berkepentingan dengan kelangsungannya? Bukankah hal ini menandai suatu fakta menggembirakan tentang kian besarnya daya tarik “kajian Islam” bagi para “pendatang baru” (newcomers), yang berharap mengukir prestasi tertentu di bidang ini? Di sini terletak persoalannya. Fakta tentang peningkatan kuantitas riset dan periset tentang materi-materi keislaman, tidak berhubungan secara otomatis dengan pendalaman dan perluasan substansial kajian Islam itu sendiri. Kita merasakan, terdapat alienasi dan kesenjangan antara kajian Islam dan pemikiran Islam: kajian keislaman yang berlangsung serentak dan massif di berbagai institusi keislaman di negeri ini, belum benar-benar melahirkan suatu gerakan pemikiran keislaman yang hidup dan berdenyut. Ada kekosongan yang ditinggalkan oleh kajian Islam, atau kesenjangan, yang menganga. Hal itu yang melahirkan krisis yang diam-diam dan barangkali tidak disadari.

Tanggapan Untuk Irwansyah KALAU kita membaca tulisan Irwansyah yang berjudul Kepentingan Melawan Histeria Anti Komunis[1], kita dapat menarik kesimpulan bahwa hari ini, di bawah

Kredit ilustrasi: Andreas Iswinarto (Kerja Pembebasan) Tanggapan Untuk Dendy Raditya Atmosuwito “A theory gains in strength as it attracts the masses” – Karl Marx,
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.