
Kami Adalah Masa Depan*: Potret Gerakan Mahasiswa Burma**
TENSI politik di Burma belakangan kembali memanas. Hari-hari terakhir ini, mahasiswa di Burma sedang berbaris di jalanan untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dan demokratis.[1]

TENSI politik di Burma belakangan kembali memanas. Hari-hari terakhir ini, mahasiswa di Burma sedang berbaris di jalanan untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dan demokratis.[1]

Kredit foto: Akar Bengkulu – WordPress.com WAJAHNYA teduh bijak, tutur kata dan bahasa Indonesianya lembut dengan logat Sunda yang kental. Tubuhnya mulai bungkuk dibaluti
POPULISME, dalam pengertian umumnya adalah sebuah rezim yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan yang bukan rakyat, yakni kalangan oligarki. Pengutamaan kepentingan rakyat ini bukan

TIDAK dapat dipungkiri bahwa kota adalah salah satu entitas yang berkaitan sangat erat dengan pengalaman modern kemanusiaan. Walau demikian, bukan perkara mudah untuk memahami hubungan keduanya. Alienasi atau keterasingan manusia dalam pengalaman berkota menunjukkan bahwa hidup di kota tidak bermakna memiliki kehidupan di kota itu sendiri. Penyakit akut perkotaan seperti kemacetan, banjir, minimnya penghijauan, masalah perumahan layak, kriminalitas, dsb membuat mudah untuk menyimpulkan bahwa kota yang dihidupi warganya adalah kota yang tidak manusiawi. Tidak heran jika kemudian kondisi alienatif ini menciptakan kesadaran palsu di kalangan warga bahwa situasi berkota mereka adalah sesuatu yang terberi, ‘udah dari sononye’ dan tidak dapat diubah lagi.

APA LAGI yang menjadi cita-cita perjuangan gerakan buruh, jika bukan kebebasan dari segala bentuk penindasan? Sungguh cita-cita besar, yang sejatinya tak akan pernah dapat terengkuh.

KALAU ada yang perlu saya sesali dalam momen 21 Mei, itu karena saya tak bisa menikmati kerja keras, keberanian, keteguhan, dan kegembiraan pada hari-hari menjelang
‘Omnia sunt communia (All things are common)…’ – Thomas Muntzer (1524) MENGAPA Manifesto Komunis? Mengapa komunisme sekarang? Jika kita merefleksikannya pada pengalaman kekinian kita, maka pada

KEPADA para pendukung Jokowi, ada dua jebakan berbahaya yang perlu dihindari. Pertama, keyakinan bahwa Jokowi akan menjadi juru selamat dalam mengatasi kerusakan berat yang menimpa

PADA 30 Oktober 2015, puluhan ribu buruh melakukan aksi menolak Peraturan Pemerintah (PP) No. 78/2015 Tentang Pengupahan. PP 78/2015 dianggap merugikan buruh, karena penetapan upah

“…BLM melawan hegemoni yang memposisikan kulit putih sebagai kaum yang dominan dan istimewa. Perlawanan ini bergerak vertikal, menyasar ke atas.”
Pendahuluan AWAL tahun ini kita dikejutkan dengan gejolak yang terjadi di dunia Arab. Dimulai dengan “révolution de jasmin” – revolusi melati di Tunisia yang berpuncak pada

Ilustrasi dari occupy.com SEBUAH pertanyaan lama yang tetap aktual: Anda masih percaya sharing economy yang dikenal masyarakat saat ini sungguh-sungguh ‘ekonomi berbagi’ yang menguntungkan
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.