1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 161

Paling Sering Dibaca

Keluar dari Jebakan Involusi

Kapitalisme tidak lagi mengeksploitasi ‘status simbolik’ atau ‘utilitas’ yang dimiliki oleh sebuah produk, melainkan ‘pengalaman’ yang disediakan oleh produk tersebut. Dengan kata lain, kapitalisme menikmati ‘hasrat’ manusia yang muncul dari rasa nyaman ketika ia menikmati produk tersebut. Propaganda kapitalisme sekarang berkutat pada beberapa diksi seperti ‘nikmati!’ ‘nyamankan dirimu,’ dan ‘be a man,’ dan lain sebagainya, yang tidak lagi memberikan pilihan-pilihan utilitas kepada orang-orang untuk memilih, melainkan untuk menikmati parade yang ditampilkan oleh jejaring-jejaring kapitalisme.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, kecenderungan sama juga dapat kita lihat. Alih-alih melakukan kritik, gerakan mahasiswa justru dihadapkan pada ‘kenikmatan’ ketika bersetubuh dengan kekuasaan politik. Kapitalisme telah menawarkan berbagai modes of jouissance, seperti ‘bantuan sosial,’ ‘proposal proyek,’ dan produk-produk yang ditawarkan oleh kapitalisme via ‘negara.’ Akhirnya, muncul kosakata baru, ‘jaringan’ yang bisa dinikmati sebagai privilege seseorang ketika menjadi aktivis. Kapitalisme membuat dimensi ‘aktivis’ menjadi kian absurd: ia tidak lagi menghambat seseorang untuk menjadi aktivis, tetapi justru menawarkan kenyamanan-kenyamanan tertentu yang membuat mahasiswa akhirnya ‘menikmati’ statusnya sebagai aktivis tersebut.

Paradoks Mei – 1 Juni

Ilustrasi oleh Alit Ambara   MEI sedikit lagi berlalu dan di awal Juni nanti kita merayakan kelahiran Pancasila. Barangkali rutinitas yang demikian, dari tahun ke

Sebelum Bertesis, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)   SEBAGAIMANA acap kali terjadi menjelang kontes elektoral, kalangan gerakan sosial dan progresif di Indonesia kembali disibukkan oleh sebuah ‘pertanyaan

Ketika Ilmu Menjadi Ideologi (1)

Kredit ilustrasi: http://ecigarettereviewed.com   ILMU memang bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Apalagi sumber yang bisa memberi kita pengetahuan mutlak. Namun, karena ilmu berangkat dari keingintahuan dan

Awal dari Sebuah Akhir untuk Prabowo Subianto?

PRABOWO Subianto bicara kepada pers. Ini adalah wawancara pertama yang dia berikan sesudah pemilihan presiden. Dia berbicara kepada dua wartawan British Broadcasting Corporation (BBC), Babita

Politik Distributif

TAHUN 2014 ini setidaknya ada tiga momen politik, dimana ada partisipasi dan keterlibatan warga dalam jumlah yang besar. Pertama, momen pemilu legislatif; kedua adalah momen

Marxisme dan Wina Merah

POSITIVISME—sepenggal kata ini di hadapan kaum cendekiawan berbudaya, nyaris sepadan dengan kata ‘komunisme’ di mata antek-antek Orba. Kata ‘positivisme’ kerapkali dihadirkan sebagai cercaan, sebagai penghinaan terhadap hakikat multi-dimensional manusia, sebagai perlambang tentang semangat untuk mereduksi keragaman pemaknaan pada sistem verifikasi yang dingin. Semangat positivis Lingkaran Wina yang hendak menuntut bukti empiris dari setiap pernyataan ilmiah dianggap telah meringkas dan meringkus kemanusiaan. Khususnya dalam kajian-kajian kebudayaan kritis, positivisme adalah sesuatu yang membikin mual para budayawan. Namun, rasa mual para budayawan ini membikin saya mual. Seandainya saja mereka tahu dari semangat dan konteks seperti apakah positivisme itu dilahirkan. Seandainya saja mereka tahu apa yang mereka bicarakan.

Promosi Demokrasi

Pada 2003, dengan nama sandi “Operation Iraqi Freedom,” koalisi pasukan yang dipimpin Amerika Serikat (AS), menyerbu Irak. Dengan kekuatan mencapai sekitar 295.500 pasukan, didukung persenjataan

Pengkhianatan Kampus Dalam Film Senyap

FILM Senyap diputar di beberapa tempat. Jogja salah satunya. Tapi paling tidak digagalkan di beberapa tempat. Kampus ISI dan UGM diantaranya. Massa datang meyerbu kesana.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.