
NKRI = Nasionalisme-Militeris
SEBAGAI sebuah bangsa merdeka, adakah ironi yang lebih ironis ketika kita menyaksikan perlakuan para elit oligarki (militer, birokrasi, borjuasi, dan elit-elit parpol) Jakarta terhadap rakyat

SEBAGAI sebuah bangsa merdeka, adakah ironi yang lebih ironis ketika kita menyaksikan perlakuan para elit oligarki (militer, birokrasi, borjuasi, dan elit-elit parpol) Jakarta terhadap rakyat

Kredit foto: Publik News KELUARNYA Perpres no. 20/2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA), kembali menciptakan pembelahan sikap dan ketidaksepakatan dalam tubuh Gerakan Buruh

KETIKA krisis ekonomi meledak di Amerika Serikat (AS) pada 2007, di kalangan kiri serentak muncul perdebatan seru di dua ranah: pertama, perdebatan mengenai sebab-musabab terjadinya krisis; dan kedua, bagaimana solusi terhadap penyelesaian krisis ini. Pada yang pertama, krisis ini kembali membuka perdebatan lama mengenai penyebab krisis antara pendekatan konsumsi kurang (underconsumption/stagnation), pendekatan jatuhnya tingkat keuntungan (the falling rate of profit), pendekatan struktur sosial akumulasi (social structure of accumulation/SSA), dan pendekatan mengenai dampak dari persaingan internasional (foreign competition).

Ilustrasi diambil dari tataruangpertanahan.com SABTU, 24 September 2016 yang lalu, Rakyat Indonesia, khususnya kaum tani, memperingati Hari Tani Nasional yang Ke-56. Bagi saya, 56

Desa Mina, Arab Saudi. Kredit foto: India Today SYAHDAN, di masa-masa Perang Dunia Pertama, ada sekelompok orang yang baru pulang haji dan tiba-tiba-tiba menjadi
BAGI warga desa terpencil di Kabupaten Nabire, Papua dan Wondama, Papua Barat, jadi pintar dan bekerja layak adalah bagian dari mimpi. Tak semua orang berhasil walau kesempatan terbentang. Warga membicarakan mimpi ini sambil mengunyah sirih dan pinang; sebagai bentuk ikatan mereka dari masa lampau.
Sejumlah perempuan, dengan mulut bergerak kiri kanan mengunyah pinang, dan bayi menggelendot di gendongannya melihat sulit menuju kehidupan cerah bila pasangan mereka bergaya barbar; mabuk, memukuli. Perempuan menyebutnya, laki-laki ringan tangan. Sebuah istilah yang tak beda dengan mulba..mulut ba air–berbicara tanpa bukti– yang ditujukan bagi politikus. Satu perempuan sedikitnya memiliki pengalaman minimal dipukuli 3 kali dalam hidup, baik oleh orangtua maupun oleh pasangannya. Lainnya, sebagian warga Papua, memiliki pengalaman lebih dari dua kali memilih pemimpin politik yang mulba.

RAMAI pembicaraan soal Freeport hari-hari belakangan ini semakin terasa menjijikkan. Selain karena sejak awal absen melihat dan melibatkan Orang Asli Papua, debat kusir soal monumen

Jumat siang di jalanan Jogja, seperti juga di kota-kota lain, roda menggelinding mengantar beragam karakter manusia melaksanakan kepentingannya masing-masing. Sementara itu, dua manusia berseragam coklat sedang berbincang dan hanya sesekali mengawasi puluhan kendaraan, bahkan mungkin sudah ratusan, yang telah berlalu-lalang melaluinya. Tampaknya, mereka lebih mencurahkan perhatiannya kepada pengendara sepeda motor. Mungkin karena jenis kendaraan itu memang lebih mudah kedapatan menerobos lampu merah atau garis marka daripada kendaraan besar, seperti mobil dan truk.

PENGANTAR: Minuman beralkohol yang memabukan hampir dapat kita temui dalam setiap masyarakat di tempat yang berbeda-beda. Tentu perlu sebuah penelitian khusus, atau sebuah bacaan tertentu,

Kredit ilustrasi:Kati Lacey Kalau kamu masih mengira bahwa ilmu-ilmu sosial lebih sederhana dan mudah daripada ilmu-ilmu alam, coba pikir-pikir lagi. Ilmu-ilmu sosial bisa jadi lebih

Kredit foto: hargaa.id “KAMU nyoblos atau golput?” sekarang sedang menjadi pertanyaan sehari-hari yang trendy di kalangan kelas menengah, di Jakarta (saya kurang tahu bagaimana di
“MUSLIM Power.” “Islam Is the Way.” “Muslim on Board.” Kata-kata semacam itu mulai tampak pada stiker atau aksesoris di bagian belakang mobil pada akhir tahun
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.