Di Balik Tilik, Ada Kerja Mama-Mama yang Tak Kelihatan

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Illustruth


SAYA merasa beruntung menonton Tilik sebagai seseorang yang telah melakukan etnografi cukup lama di Parigi, Seram Utara. Saya pun sadar betapa mudahnya kita luput melihat kerja-kerja para ibu ketika melihat respons-respons yang muncul terhadap film ini.

Saya pun semakin yakin kebenaran teori reproduksi sosial yang marak diadvokasi feminis-Marxis. Kerja menjaga hubungan sosial, merawat insan manusia adalah kerja-kerja yang sepele dan tidak tampak. Apa yang disepakati berharga oleh semua orang ialah kerja-kerja produktif untuk menghasilkan atau mengubah sesuatu yang kebanyakan pelakunya adalah kaum bapak.

Sewaktu di Maluku, saya sering melihat para mama melakukan perjalanan mengunjungi kerabat yang sakit, menikah, atau meninggal di lokasi jauh dengan truk bak terbuka atau perahu motor. Betul,menonton Tilik membangkitkan nostalgia yang menyenangkan, mengingatkan saya pada perjalanan-perjalanan panjang penuh cipratan air asin, guncangan-guncangan pengaduk isi perut, dan tentunya obrolan-obrolan ngalor-ngidul pembunuh kesunyian yang kikuk.

Satu obrolan acapkali mengemuka ketika saya turut serta dengan mama-mama ini:

“Mas ini belum kawinkah?”
“Belum,” balas saya.
“Kalau begitu kawin saja sudah di Parigi.”
“Iyo,” timpal mama yang lain. “Nanti siapa tahu dapat jodoh di sini.”

Para mama tertawa. Saya pun terkekeh kecil.

Saya tak bisa menampik bahwa pergunjingan kerap mencuat dalam kesempatan ini. Bu Tejo merupakan tokoh yang karikatural, tapi tetap saja tabiatnya ialah representasi yang cukup menggambarkan kebiasaan dalam perjalanan “tilik”. Hanya saja, saya tak pernah merasa berhak mengadili obrolan sejenis. Pada tempatnya, obrolan semacam ialah cara agar orang-orang terhubung.

Perlukah juga saya menyinggung bahwa perjalanan-perjalanan ini sendiri melelahkan? Rasanya tak seenteng yang dicitrakan film Tilik. Para mama pertama-tama patungan menyewa kendaraan plus. Dalam perjalanan, mereka harus memastikan agar badan tidak oleng atau terhempas entah karena belokan maupun ombak. Mereka akan basah kuyup ketika cuaca sedang tidak baik, dan mabuk ketika kendaraan berguncang hebat.

Apapun yang diobrolkan sepanjang perjalanan, para mama akan langsung membantu yang didatangi begitu sampai di tempat tujuan. Pada akhirnya itulah tujuan perjalanan yang ditempuh. Mereka akan mendampingi kerabat atau tetangganya yang tertimpa musibah. Di hajatan kawinan atau tahlilan, para mama akan membantu tuan rumah mempersiapkan makanan sebelum memberikan uang yang sudah mereka kumpulkan.

***

Sewaktu menonton Tilik, saya tersadar kebiasaan perjalanan berombongan para mama ini dapat ditemukan di berbagai tempat. Ia ada di Yogyakarta—latar dari film ini sendiri, atau di tempat-tempat lain di Jawa.

Lucunya, terlepas dari kelazimannya, aktivitas ini sangat jarang dibicarakan. Begitu dihadirkan sebagai latar sebuah film, kita malah canggung membicarakannya. Bahkan muncul pandangan bahwa perjalanan dengan truk bak terbuka semacam yang ditunjukkan Tilik tak nyata, seolah-olah ia sebatas rekaan sineas jahat untuk menyudutkan para ibu—untuk menyimbolkan mereka sebagai hewan.

Saya bisa memahami kecanggungan itu. Mungkin saya juga akan kikuk menyikapi Tilik bila tak pernah berkesempatan hidup di Seram. Namun, tak ada alasan untuk mengatakan perjalanan para ibu semacam itu tidak nyata. Dan, nyatanya, inilah praktik yang menopang kehidupan sosial desa. Dari sini, orang-orang desa mendapatkan tenaga yang dibutuhkan di saat-saat kritis atau ketika hajatan-hajatan penting digelar. Kala mereka tak bisa mengakses tenaga bayaran, para ibu yang datang dengan kesadaran sendirilah yang menjadi andalan. Ikatan hutang budi dan norma untuk saling membantu adalah tabungan masa depan mereka.

Lantas, kasak-kusuk yang mengiringi perjalanan para ibu? Tidakkah mengangkat Tilik sebagai latar film jahat karena akan memotret mereka sebagai penggosip tak bertanggung jawab?

Ayolah. Tak bisakah kita memakluminya sebagai selingan sehari-hari untuk sedikit meringankan kegiatan mereka yang meletihkan? Kita melakukannya setiap saat. Kita ber-ghibah bagaimana Susanto menjadi kadrun, Nina menyabet duit yayasan, Joni gila perhatian dan ingin menjadi diva.

Dunia tidak akan hancur karena kasak-kusuk mereka. Justru semesta sosial akan rontok bila para ibu berhenti melakoni kerja-kerja yang enggan atau tak bisa dilakukan para bapak. Masih ingatkah kita bahwa para ibu datang untuk menjaga Bu Lurah? Masih ingatkah kita bahwa Bu Tejo sekalipun mau diajak melakukannya?

Mandeknya imajinasi kita tentang Tilik dan praktik semacamnya sudah dapat diduga. Kerja reproduksi sosial umumnya tak terlihat. Yang terlihat dari Tilik—dan ini kegalatan kita bersama—tak lebih dari para ibu pergi berombongan sambil kasak-kusuk menjelek-jelekkan sesamanya. Dan saya juga bisa menyebutkan kegalatan yang dilakukan oleh kaum saya sendiri, peneliti, yang berkontribusi pada hal ini: kami tak pernah memperlakukan tilik sebagai tradisi, sebagai kegiatan yang bermakna meskipun ialah yang sesungguhnya mereproduksi kolektivitas. Apa yang lebih banyak diangkat sebagai tradisi di desa-desa ialah perayaan atau ritual megah. Penelitian-penelitian yang dilaksanakan instansi pemerintahan dari tahun ke tahun ialah ilustrasi sempurnanya.

Dalam tiap hajatan di kampung, ada kepala desa terlihat mentereng menyampaikan aspirasinya untuk masyarakat, ada bapak imam khusyuk memimpin doa, ada warga berkumpul dan berjoget semalaman. Yang tak kelihatan? Para ibu yang tak pernah keluar dari dapur sepanjang acara. Di sana ada jejaring para ibu yang saling menolong untuk memastikan hajatan desa berlangsung sesuai harapan.

Percayalah, situasi ini tak jauh dari tempat hidup kita, pusat kota yang gemerlap dan pongah. LSM-LSM mentereng itu—yang dinakhodai para juru kritik yang fasih—niscaya lumpuh jika tidak ada orang yang mengorganisir dan membereskan urusan-urusan rumah tangganya. Tebak kerja apa saja yang dinilai berharga oleh donor penyambung hidup mereka? Bocoran: bukan kerja yang memungkinkan mereka bertahan hidup.

Siapa yang dipercaya dengan dana berlimpah untuk mendirikan startup? Mereka yang tak henti-hentinya mengumbar inovasi, dengan cara yang paling klise maupun dengan fantasi akan mencangkokkan chip ke otak kita.

***

Tilik pada akhirnya hanyalah film yang gayeng. Saya tak akan mengada-ngada dan mendaulatnya sebagai karya yang mengadvokasi citra para ibu. Namun, saya mengapresiasinya karena ia memaparkan kita kepada sebuah tradisi yang tak pernah disebut tradisi. Tilik mengulurkan kita kesempatan untuk menandaskan (lagi) kritik bernas teori reproduksi sosial yang disemai sepanjang beberapa dekade terakhir.

Tilik, seperti hal-hal lainnya dalam sejarah, dikaburkan artinya sebagai kerja yang sesungguhnya bernilai.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus