Menolak Diam, Menolak Dusta

Print Friendly, PDF & Email

SETELAH menghentak dunia dua tahun lalu dengan karya gemilang The Act of Killing (atau Jagal, dalam terjemahan resminya), akhir Agustus yang baru lalu sutradara film Joshua Oppenheimer dan mitranya ‘Anonim’ dari Indonesia meluncurkan pemutaran perdana film sambungannya, yang berjudul The Look of Silence, atau Senyap. Sebagaimana Jagal, film ini berpusat pada upaya sebagian masyarakat Indonesia di Sumatera Utara untuk mengingat dan berkisah tentang pembantaian besar-besaran sesama warga negara pada 1965-1966. Kedua film disusun dari satu paket kerja dokumentasi dalam kurun waktu dan di wilayah yang sama.

Kedua film menggugat kisah resmi yang disusun pemerintah Orde Baru—dengan berbagai dusta gila-gilaan—tentang asal-usul kebangkitannya sebagai penguasa negara dan banjir darah di tanah air sebelum mereka naik takhta. Rangkaian kejadian ini berlangsung ketika Perang Dingin di tingkat global memuncak ke titik didih di Indonesia. Kisah resmi yang diulang-ulang oleh negara dan diedarkan berpuluh tahun oleh berbagai aparat sejak Orde Baru berjaya masih saja populer bahkan hingga kini, kendati Orde Baru terjungkal dari tampuk kekuasaan negara belasan tahun lalu.

Namun ada perbedaan sangat mencolok dari kedua film tersebut. The Act of Killing menghentak dunia dan batin penontonnya, bukan hanya karena ia mengangkat tema yang berat dan menyakitkan, tetapi juga karena metode bertuturnya yang liar dan nyaris tidak ada duanya dalam sejarah perfilman di dunia. Soal-soal ini sudah banyak dibahas orang, termasuk yang pernah saya tulis.[1] Jadi tidak perlu diulang di sini.

The Look of Silence, tidak kalah dahsyat. Tetapi berbeda dari pendahulunya, film yang baru ini bertutur dengan bentuk nyaris lurus, mulus dan jernih. Film yang kedua ini sama sekali tidak menghibur, karena kisahnya sangat menyesakkan dada, walau tidak menyerang saraf dan akal penonton dengan kejutan bertubi-tubi seperti The Act of Killing; tidak juga merobek-robek keyakinan orang banyak tentang nilai, moral, dan kebajikan yang selama ini dianggap lazim. Penonton The Look of Silence bisa duduk tenang menyaksikan film ini hingga habis. Kedua film yang sangat kontras tetapi saling melengkapi.

Karena wataknya yang liar, The Act of Killing menuai beraneka ragam tanggapan, selain 62 anugerah penghargaan internasional. Nyaris tidak ada yang menyangkal kehebatan film ini, termasuk mereka yang mengkritiknya. Namun, sebagian penonton tidak siap menerima watak liar dan tidak-masuk-akal yang ditampilkan di film tersebut. Sebagian lain mencela karena hal-hal bersejarah yang berkait dengan sejarah 1965 tidak atau kurang ditampilkan di film ini. Misalnya, ada yang menyayangkan mengapa film ini memberi (terlalu) banyak ruang bagi para penjagal 1965 untuk menggumbar penistaan dan kata-kata bual kepada para korban pembantaian, kepada keluarga mereka yang masih hidup,  dan juga kepada penonton film sebagai pihak ketiga.

Orang seperti saya tidak berkeberatan dengan kegilaan yang ditampilkan The Act of Killing. Justru disitulah letak kekaguman dan hormat saya setinggi-tingginya kepada si pembuat film. Mengapa? Karena film seperti ini justru secara telanjang membongkar sebulat-bulatnya kenyataan yang bukan sekedar ‘memang ada’ di Indonesia, tetapi ‘sangat berkuasa dan merajalela’ di setiap lapisan masyarakat selama lebih daripada setengah abad. Disodok kesadaran semacam itu memang bukan pengalamanan yang nyaman. Namun, menutupi-nutupi atau mengabaikan kenyataan yang busuk dan beracun pun bukan pilihan yang bijak—apalagi jika dibiarkan lebih dari setengah abad.  Saya sendiri sudah menyaksikan cukup banyak film bertema serupa yang menampilkan pihak korban atau keluarga sebagai tokoh utama.

Mungkin tidak disengaja, tetapi seakan untuk melayani kritik-kritik yang tersebut terakhir ini, pembuat film The Look of Silence menumpahkan pusat perhatian dan ruang bicara untuk keluarga korban.  Jika seorang penjagal dengan mulut besar bernama Anwar Congo tampil sebagai tokoh utama dalam The Act of Killing, maka dalam The Look of Silence, tokoh utamanya adalah Adi Rukun, adik kandung Ramli, seorang korban pembantaian 1965 di Sumatera Utara. Adi tampil sebagai seorang pria dan ayah muda yang sangat sabar, santun, cerdas dan berjiwa sangat dewasa. Ia juga seorang anak bungsu yang sangat hormat dan sayang kepada kedua orangtuanya.

Dunia dalam The Act of Killing adalah dunia yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, namun sekaligus terasa sangat asing ketika ditampilkan di layar oleh si pembuat film. Ini dunia yang sangat membingungkan, karena di sinilah fakta berkencan mesra dengan fiksi, nilai-nilai baik dan buruk sulit dipisahkan, kejahatan yang sangat buas dicampur-lebur dengan kegembiraan dan sukacita. Dunia dalam The Look of Silence adalah dunia yang sangat akrab bagi pecinta sinetron, cerita wayang, hikayat, ujian akhir sekolah, maupun ruang sidang pengadilan: sejak awal hingga akhir film ada batas pemisah yang tegas antara yang baik dan buruk, benar dan salah.

Sudah ada belasan film dokumenter yang memberikan suara kepada para korban dan/atau keluarga mereka.[2] Juga dengan pemisahan baik/buruk yang tegas. Sebagian besar dari mereka mengecam ketidakadilan dan derita yang harus ditanggung para korban yang berbicara menghadap kamera sang pembuat film. Semua itu berlangsung tanpa kehadiran pihak pembunuh yang dikecam dan dikutuk. Karya terbaru Oppenheimer dan timnya sekali lagi tampil beda. Mereka mendobrak sejarah perfilman dengan tema sejenis dengan sesuatu yang baru. The Look of Silence menjadi istimewa, karena inilah film dokumenter pertama tentang pembunuhan 1965-1966 yang mengisahkan pengalaman seorang anggota korban dalam menjumpai beberapa pembunuh keluarganya maupun mereka yang ‘sekadar’ membantu kecil-kecilan pembunuhan terencana itu. Termasuk yang disebut belakangan ini adalah paman sang korban.

Hebatnya lagi, dalam tatap-muka antara pihak korban dan pihak pembunuhnya, sang korban bukan sekadar makhluk lemah yang tidak berdaya menghadapi gertak, ancaman, dan kebuasan pihak penyerangnya. Adegan seperti itu tampil menjelang akhir film dokumenter Mass Grave (2002) karya gemilang Lexy Rambadeta. Dalam The Look of Silence pun pihak korban justru tampil gagah perkasa di hadapan pihak pembunuh, tanpa keangkuhan, dendam, kata-kata makian, atau tindak-kekerasan. Justru pihak pembunuh atau keluarga mereka tampak kewalahan menghadapi seorang Adi yang mewakili pihak keluarga korban.

still2

Adi Rukun bertatap-muka langsung dengan para pembunuh kakaknya dan mengetuk perasaan dan hati nurani mereka, menggugat penyesalan dan pertanggungjawaban moral mereka. Maka saya kurang paham mengapa film ini diberi judul The Look of Silence dan diindonesiakan menjadi Senyap. Yang kita saksikan justru sebaliknya: kisah seorang anak muda yang menolak diam dan menolak dusta sejarah resmi tentang pembantaian 1965-1966.

Yang menarik, sebagian besar dari pembunuh dan keluarganya adalah tetangga Adi dan kedua orangtuanya yang sudah sepuh. Selama bertahun-tahun, para pembunuh dan keluarga mereka hidup tidak berjauhan dengan keluarga para korban. Jelas mereka sering berpapasan di tempat umum. Tetapi selama ini mereka tidak banyak bicara tentang masa lampau berdarah itu, kecuali beberapa pimpinan pembunuh yang gemar membanggakan kejahatannya, sebagaimana Anwar Congo dalam The Act of Killing.

Hasil dari konfrontasi langsung Adi dengan para pembunuh kakaknya tidak seragam. Ada sebagian yang mengakui kejahatannya tetapi tetap tidak merasa bersalah. Ada anggota keluarga pembunuh yang menyangkal dan marah ketika diajak berbicara masa lampau itu. Ada seorang ibu yang menangis dan meminta maaf kepada Adi atas kelakuan ayahnya atau suaminya sebagai pembunuh.Yang belakangan ini tidak kita jumpai dalam The Act of Killing. Adegan seperti itu yang mungkin dirindukan banyak penonton The Act of Killing yang tidak siap dengan keliaran dan absurditas dalam film ini.

The Look of Silence memang jauh lebih menenangkan batin ketimbang The Act of Killing. Film yang tersebut belakangan ini menyodorkan kenyataan masa lampau dan hari ini yang sangat menyakitkan pada tingkat yang sangat berlebihan. Seakan-akan kepala kita disodok-sodok benda keras bertubi-tubi. Sebaliknya, film The Look of Silence memberikan secercah harapan bagi masa depan Indonesia. Ia memberikan contoh dan ilham bagi khalayak Indonesia untuk berani menyapa dan menggugat mereka yang terlibat dalam kekerasan tahun 1965-1966; kekerasan yang hingga sekarang masih disangkal sebagian pihak dan oleh sebagian lain dianggap mulia.

Tetapi, bagi saya pribadi, sebagai sebuah karya sinematik,The Act of Killing jauh lebih dahsyat daripada film mana pun dengan tema serupa. Dan sebagai pernyataan politik, The Act of Killing jauh lebih penting karena dia membeberkan duduk persoalan secara lebih makro hingga tingkat nasional dan internasional. Di film ini, penonton tidak hanya diajak mendengar dan menyaksikan pengakuan gila-gilaan dari mereka yang membantai warga sebangsa sendiri, tetapi juga bagaimana perilaku dan pelaku tersebut menjadi bagian terpadu dari sebuah sistem kemasyarakatan dan pemerintahan yang berlaku di Indonesia selama lebih daripada setengah abad. Hal ini saya katakan bukan untuk mencela The Look of Silence. Sudah saya sebutkan di atas, kedua film Oppenheimer saling melengkapi. Keduanya merupakan karya yang gemilang sebagai karya seni maupun pernyataan politik. Keduanya layak ditonton sebagai pasangan.

still3

Hanya saja, seandainya saya yang menjadi pembuat film, saya akan meluncurkan The Look of Silence terlebih dahulu, baru kemudian The Act of Killing. Ada dua alasan saya.

Pertama, jika kedua film dianggap sebagai cerita bersambung, danThe Look of Silence diedarkan terlebih dahulu, baru kemudian The Act of Killing, kita akan menyaksikan peningkatan dampak dramatik yang mendaki pada masyarakat. Film The Look of Silence merupakan semacam pemanasan yang menggugat kisah resmi Orde Baru, dan kemudian The Act of Killing sebagai gongnya—atau lebih pas disebut sebagai bomnya. Saya bayangkan, seandainya The Look of Silence diedarkan sebelum The Act of Killing, banyak pihak akan cukup terkejut-kejut. Dan sebelum keterkejutan itu mereda, The Act of Killing diedarkan dengan bobot kejutan beberapa kali lipat lebih dahsyat.

Kedua, dan yang lebih penting, dengan pertimbangan politik, kesejarahan, dan moral, The Act of Killing mengingatkan kita betapa luas lingkup dan betapa rumitnya masalah pembantaian 1965-1966. Saya yakin, teman-teman dekat saya sendiri akan berbeda pandangan dengan saya dalam hal ini. Namun, bagi saya, pesan The Act of Killing lebih penting ketimbang sebuah upaya heroik dan mulia yang berhasil dikerjakan seorang individu korban dan keluarganya untuk menghadapi masalah itu secara pribadi seperti yang ditampilkan dengan sendu dalam The Look of Silence.

Usaha seperti yang dilakukan Adi jelas sangat mulia dan layak dihargai setinggi-tingginya. Namun, saya kuatir, urutan beredarnya kedua film itu berisiko melenakan perhatian masyarakat luas tentang duduk persoalan yang lebih makro. Mudah-mudahan saja penonton tidak terbuai lalu asyik mensyukuri dan merayakan kemenangan individual pada tingkat mikro seperti yang dicapai oleh Adi Rukun.

Sulit dibayangkan atau diduga-duga, apa yang terjadi seandainya pembunuh yang didatangi dan digugat Adi adalah Anwar Congo bersama rekan-rekannya di Pemuda Pancasila. Pasti ceritanya jauh berbeda dari yang tampil dalam The Look of Silence. Sulit dibayangkan, bagaimana jadinya seandainya orang seperti Adi tidak hadir sendirian menggugat para pembunuh keluarga korban. Bayangkan, seandainya ada dua puluh atau bahkan dua belas (jangankan dua ratus) orang seperti Adi yang mendatangi para pembunuh keluarga mereka tidak sendiri-sendiri tetapi bersamaan sebagai kelompok. Jika hal-hal seperti itu terjadi, yang kita saksikan adalah bentrokan keras dua jagad; yakni dunia liar dan gila ala The Act of Killingdi satu pihak dan dunia yang tenang tetapi tegang ala The Look of Silencedi pihak lain.

Namun, karena semua pengandaian itu tidak ada dalam kenyataan, yang kita terima saat ini adalah sebuah bayangan seakan-akan dunia The Act of Killing dan dunia The Look of Silence merupakan dua kehidupan yang berbeda dan terpisah. Seakan-akan penonton dengan selera berbeda-beda bisa dan boleh memilih masuk ke dalam dunia yang satu atau yang lain. Padahal semua tahu bahwa kedua kisah disusun dari sumber di luar film yang sama, sejarah yang sama, dan lokasi yang sama.

Mungkin saya telah berlaku tidak adil dengan membicarakan filmThe Look of Silence dengan membanding-bandingkannya dengan The Act of Killing. Sebagai film, keduanya bukan tidak dapat dinikmati secara terpisah. Tetapi memang sulit untuk membicarakan yang satu tanpa membicarakan yang lain. Bukan saja karena keduanya datang dari pembuat film yang sama, bertema sama dan diedarkan dalam waktu kurang-lebih bersambungan satu dengan yang lain, tetapi, yang lebih penting, karena kehidupan sosial pada kenyataan sehari-hari memang penuh dengan campur-aduk aneka unsur. Dan politik di negeri ini tidak pernah dapat dihayati dan disusun secara terpotong-potong dalam beberapa ‘kepingan dua-jam’ yang menjadi satuan baku masa pertunjukan sebuah film.

_______________________

 

CATATAN:

[1] Lihat misalnya ‘The 1965-6 Killings: Facts and Fictions in Dangerous Liaisons’, IIAS Newslatter, 61 (Autumn) 2012: 16-17; <http://www.iias.nl/the-newsletter/article/1965-1966-killings-facts-and-fictions-dangerous-liaisons>; ‘Kesaksian Binal-Bugil dari Negeri Preman’, Tempo, 41(31/ 1-7 Oktober): 114-115.

[2] Di dalam negeri, Lembaga Kreativitas Kemanusiaan pimpinan Putu Oka Sukanta, penyair dan korban politik 1965, menjadi salah satu rumah produksiyang paling rajin membuatfilm-film jenis ini. Berikut ini beberapa judul yang telah mereka hasilkan: Menyemai Terang Dalam Kelam (2006, Wiranegara); Perempuan Yang Tertuduh (2007, Munafidah); Tumbuh Dalam Badai (2007, Wiranegara); Seni Ditating Jaman (2008, Wiranegara); danTjidurian 19 (2009, Aziz dan Susatyo); danPlantungan (2011, Siwirini). Sebagian lain film bertema 1965 diproduksi organisasi non-pemerintah dalam bidang hak asasi manusia: Bunga-tembok (2003, Wiludiharto), Kawan Tiba Senja: Bali Seputar 1965 (2004, Wimba), Kado Untuk Ibu (2004, Setiadi), Putih Abu-Abu: Masa Lalu Perempuan (2006, Primonik, Kumalawati, Yanuar, dan Ramadhan), Sesuatu Yang Dirahasiakan(2007, Aprisiyanto), dan Jembatan Bacem (2013, Wiludiharto). Beberapa film dokumenter dihasilkan oleh sineas asing dan mengutamakan suara dari pihak korban, termasuk The Shadow Play (2001, Hilton), Terlena: Breaking of a Nation (2004, Vltchek), 40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy (2009, Lemelson), danThe Women And The Generals (2009, Wechselmann).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus