Islam Politik di Indonesia: Perkembangan Kapitalisme dan Warisan Perang Dingin
Ulasan dan Tinjauan Makalah Vedi R. Hadiz STUDI tentang Islam dan politik di Indonesia, kini menjadi salah satu topik marak di disiplin ilmu politik, kajian
Ulasan dan Tinjauan Makalah Vedi R. Hadiz STUDI tentang Islam dan politik di Indonesia, kini menjadi salah satu topik marak di disiplin ilmu politik, kajian

fight to vote, vote to fight. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) LAGI-LAGI Gerakan Rakyat di Indonesia dan berbagai belahan dunia kembali berada di dalam
Kisah Tentang Kekerasan Seksual Prajurit TNI di Papua Barat AGUSTUS 2009, selama dua minggu saya tinggal di Kampung Bupul. Kampung Bupul merupakan wilayah administrasi dari
TENGKU Mustafa berusia 20-an. Tubuh kecil. Kurus. Kulit hitam. Wajahnya bersih dari jenggot dan kumis. Kopiah hitam bertengger di kepala. Jaket dari bahan plastik membungkus
Ilustrasi gambar diambil dari https://medium.com RELOKASI warga kampung-kampung perkotaan yang dianggap bermasalah ke rusunawa, sepertinya menjadi pola umum solusi atas permasalahan perumahan perkotaan di
Nada-nada demikian kini marak disebut ‘dangdut koplo’. Layaknya jamur di musim penghujan, dangdut koplo marak dan tersebar di mana-mana. Persoalan maraknya dangdut koplo di hampir seluruh pelosok Nusantara merupakan persoalan yang penting dalam perkembangan musik Indonesia. Dengan tulisan ini, saya menempatkan pembahasan dangdut koplo pada arus yang sama dengan ketika orang-orang membicarakan musik metal, underground, atau indie—dan bahkan mungkin dapat lebih melampaui itu: sebagai musik pop itu sendiri. Sebagai budaya alternatif, sebagai musik tandingan, dangdut koplo mampu menghisap massa yang tak sedikit dan mampu bertahan hidup dalam arus musik modern. Mengapa demikian? Mari kita telusuri bersama beberapa aspek-aspek yang terdapat dan melingkupi musik dangdut koplo.
Di Indonesia, secara sosiologis, kita hidup dalam dunia yang dwiwujud: koeksistensi sektor formal dan informal tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi sebagaimana dikupas dalam pandangan Boeke, tapi pada seluruh dunia sosial; tak sepenuhnya modern namun menyangkal tuduhan untuk disebut tradisional. Jika ditelaah secara seksama, di dalam Indonesia yang kita diami, terdapat banyak ‘dunia paralel’ yang hanya mampu dipersatukan oleh gagasan Indonesia sebagai negara bangsa. Di dalam ragam ‘dunia paralel’ tersebut, pemaknaan manusia terhadap sumber daya dan ‘kapital’ pun berbeda. Dengan demikian, yang seharusnya kita cari adalah sistem pembangunan yang lentur dan dapat menyesuaikan diri. Hibrid dan adaptif. Karena tiap-tiap sistem adalah rekaan manusia, maka seharusnya ia bisa dipasifksan atau disesuaikan, terutama dengan budaya masyarakat di mana ia beroperasi.

SEORANG Caleg menghamili seorang gadis SMP. Beberapa kejap saya tertegun dan selanjutnya memaki diri. Betapa tidak? Dengan tertegun saya seolah-olah tidak tahu kejadian-kejadian yang sering

Dari Saulus Menjadi Paulus “Dengan kata lain, hanya ia yang mengakui dengan teguh dan tanpa ragu bahwa pembunuhan itu dalam situasi apapun tidak dapat dibenarkan,
Sebagian besar tambang di Bolivia hari ini adalah tambang-tambang yang sama dengan yang digunakan di zaman kolonial.
PADA tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara terbuka mengatakan bahwa dirinya prihatin dengan pembunuhan terhadap orang-orang yang dinyatakan komunis. Dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden, ia mengucapkan permintaan maaf. Banyak pihak menanggapi dengan respon beragam. Di satu sisi, pihak yang setuju menyambut baik tindakan Gus Dur, yang menawarkan kemungkinan diadakannya peradilan secara terbuka untuk menentukan pihak mana yang terlibat dan bersalah. Dengan tindakan seperti itu, diharapkan dapat terjadi sebuah rekonsiliasi dan pelurusan sejarah 1965. Adapun pihak yang berseberangan menanggapi dingin pernyataan Gus Dur dengan alasan perbedaan prinsip. Tahun 2002, Gus Dur kembali mengucapkan pernyataan maaf. Kali ini mewakili Nahdlatul Ulama (NU) yang diakuinya turut terlibat dalam peristiwa-peristiwa 1965 dan setelahnya, kendati di bawah setting penguasa Suharto pada masa itu.
Realisme Sosialis Agam Wispi pernah mengatakan, Realisme Sosialis (RS) dalam kesusasteraan Indonesia, khususnya LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat), tidak pernah didiskusikan dalam Lekra. Karenanya, RS hanya
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.