1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 124

Paling Sering Dibaca

Kerja itu Persoalan Politik!

Judul Buku: The Problem with Work :Feminism, Marxism, Antiwork Politics, and Postwork Imaginaries Penulis: Kathi Weeks Penerbit: Duke University Press, 2011 Tebal: 287 halaman ‘Alangkah

Papua Itu Kita

BANYAK persoalan di negeri ini, yang, jika diselesaikan, juga akan mengubah situasi di Papua. Kemiskinan, pendidikan dan kesehatan yang buruk, tanah dirampas, demo direpresi, aktivis-aktivis

Marxisme dan Peribahasa Hemat Pangkal Kaya

TULISAN kali ini tidak akan mengulas soal politik penghematan IMF dan Bank Dunia. Sebagai bagian dari proyek neoliberalisme, seperti para pembaca tahu betul, politik penghematan

Media Sosial dan Kemenangan Kelas Menengah

PENGHUJUNG 2015 lalu, Presiden Joko Widodo mengukir rekor baru bidang administrasi pemerintahan. Hanya dalam waktu satu malam, ia membatalkan Peraturan yang dibikin oleh menterinya sendiri

Pilkada Menuju Akumulasi Kapital

ARTIKEL singkat ini berangkat dari kegelisahan saya atas euforia berbagai kalangan dalam menyambut hajatan demokrasi (pilkada), yang secara terang-terangan maupun abu-abu menaruh harapan besar pada

1965: Pembunuhan Tanpa Akhir

MINGGU LALU saya menonton film ‘The Look of Silence.’ Di Indonesia, film dokumenter ini diberi judul ‘Senyap.’ Saya menontonnya dalam acara Human Rights Watch Film

Musim Penyiksaan

SEHARI sebelum ia meninggal, teman sekampusnya yang berumur lebih muda menjenguk dan melihat kondisinya yang mengenaskan. Perutnya membesar akibat luka dalam membengkak, kepala, tangan, dan kaki terlihat kecil. Ia tidur telentang di atas tikar dengan kaki terlipat, seakan-akan kita melihat bentuk tubuhnya serupa katak.

Kita Dan Pendidikan Nasional

Negara ini menjadikan Ujian Nasional sebagai ujung tombak utama lulus atau tidaknya seorang peserta didik. Walau katanya juga ditentukan oleh Ujian Akhir Sekolah (UAS), tetapi dalam pelaksanaan di lapangan, UAS hanya dijadikan ujian formalitas belaka. Melalui UN, nilai dijadikan ‘Tuhan’ yang bisa menentukan hasil akhir. Bagaimana bisa kelayakan seseorang untuk lulus hanya di tentukan oleh sebuah ‘nilai?’ Bertambah miris bila kita tarik lagi ke belakang dalam skala yang lebih luas, dimana memang seluruh sistem pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi mengikuti pola seperti ini.

Nilai, yang sering diwujudkan dalam angka atau huruf menjadi ukuran ‘kepintaran’ seorang anak. Tentunya anda masih merasakan bagaimana bangganya anda jika mendapatkan nilai bagus, atau bagaimana anda kesal ketika seorang teman anda mendapat nilai sama bagusnya dengan anda tetapi hasil dari menyontek. Semua berlomba-lomba mendapatkan nilai yang bagus, tidak peduli bagaimana caranya. Anak-anak yang tidak bisa mendapatkan nilai yang tinggi, dicap ‘bodoh’ dan ‘malas.’ Belum lagi tuntutan orang tua yang begitu tinggi, yang tak jarang mengiming-imingi hadiah jika nilai sang anak bisa mengalahkan nilai teman-temannya.

Asolole: Antara Rhoma dan Irama

Nada-nada demikian kini marak disebut ‘dangdut koplo’. Layaknya jamur di musim penghujan, dangdut koplo marak dan tersebar di mana-mana. Persoalan maraknya dangdut koplo di hampir seluruh pelosok Nusantara merupakan persoalan yang penting dalam perkembangan musik Indonesia. Dengan tulisan ini, saya menempatkan pembahasan dangdut koplo pada arus yang sama dengan ketika orang-orang membicarakan musik metal, underground, atau indie—dan bahkan mungkin dapat lebih melampaui itu: sebagai musik pop itu sendiri. Sebagai budaya alternatif, sebagai musik tandingan, dangdut koplo mampu menghisap massa yang tak sedikit dan mampu bertahan hidup dalam arus musik modern. Mengapa demikian? Mari kita telusuri bersama beberapa aspek-aspek yang terdapat dan melingkupi musik dangdut koplo.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.