1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 123

Paling Sering Dibaca

Kekerasan Pasca 1965 dan Proyek Pengaburan Sejarah ‘Formal’

PADA tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara terbuka mengatakan bahwa dirinya prihatin dengan pembunuhan terhadap orang-orang yang dinyatakan komunis. Dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden, ia mengucapkan permintaan maaf. Banyak pihak menanggapi dengan respon beragam. Di satu sisi, pihak yang setuju menyambut baik tindakan Gus Dur, yang menawarkan kemungkinan diadakannya peradilan secara terbuka untuk menentukan pihak mana yang terlibat dan bersalah. Dengan tindakan seperti itu, diharapkan dapat terjadi sebuah rekonsiliasi dan pelurusan sejarah 1965. Adapun pihak yang berseberangan menanggapi dingin pernyataan Gus Dur dengan alasan perbedaan prinsip. Tahun 2002, Gus Dur kembali mengucapkan pernyataan maaf. Kali ini mewakili Nahdlatul Ulama (NU) yang diakuinya turut terlibat dalam peristiwa-peristiwa 1965 dan setelahnya, kendati di bawah setting penguasa Suharto pada masa itu.

Teori Sekularisasi di Pusaran Sungai Waktu

SEKULARISASI adalah istilah yang telah jamak digunakan, dan karenanya menjadi semakin kabur. Sebelum mendefinisikan sekularisasi, saya ingin mengawalinya dengan sebuah penjelajahan di rimba gagasan berbagai teori sekularisasi dan pendekatan “prokon”, untuk kemudian diupayakan sebuah rekonstruksi secara sosio-antropologis.

Sejarah teori sekularisasi adalah sejarah Barat. Lahir di Eropa kemudian berkelana ke Amerika Serikat dan akhirnya menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dalam tulisan ini, saya ingin meramaikan perdebatan publik soal relasi agama dan politik, yang dalam kasus kita, seolah tak mengenal kata final. Kasus Ahmadiyah dan pengerusakan rumah ibadah merupakan contoh dari betapa abu-abu dan remangnya wilayah ini, sehingga memunculkan pertanyaan eksistensial mengenai masa depan Indonesia.

Jangan Tulis Kami Teroris

TENGKU Mustafa berusia 20-an.  Tubuh kecil. Kurus. Kulit hitam. Wajahnya bersih dari jenggot dan kumis. Kopiah hitam bertengger di kepala. Jaket dari bahan plastik membungkus

Probabilitas Teori Nilai Kerja

Buku Farjoun dan Machover ini secara umum berupaya mengatasi ketidakpuasan yang muncul dalam menjawab apa yang disebut sebagai ‘problem transformasi’ dalam tradisi ekonomi politik Marxian. Problem transformasi, secara sederhana, berkaitan dengan perdebatan untuk memahami hubungan antara nilai kerja dengan harga pasar yang dipahami secara sama (equal). Dalam kapitalisme, ekspresi paling nyata dari keuntungan dapat dilihat dalam bentuk harga. Semakin besar harga yang diapropriasi oleh kapitalis bisa dipastikan bahwa kapitalis tengah meraup keuntungan besar. Namun, pada sisi produksi, ekspresi atas besaran produksi komoditas, menurut Marx, pada mulanya hanya dapat dilihat pada satuan nilai kerja. Dalam celah konseptual inilah perdebatan problem transfomasi mengemuka.

Kesehatan Buat Semua

Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, meluncurkan kebijakan Kartu Jakarta Sehat (KJS), bersamaan dengannya, keraguan, sinisme, dan kritik segera muncul. ‘Mana mungkin kebijakan ini sanggup direalisasikan? Jakarta yang besar dan kompleks bukan Solo yang kecil dan kurang kompleks.’ ‘Ah, ini kebijakan untuk pencitraan, sekadar untuk menunjukkan pada pemilihnya bahwa Jokowi-Ahok sanggup merealisasikan janji-janji masa kampanyenya.’ ‘Ini kebijakan yang terburu-buru karena segala fasilitas infrastruktur dan sumberdaya manusianya sangat terbatas.’ ‘Aturan mainnya seperti apa, dari mana dananya, kok asal bikin kebijakan populis?’

Marxisme dan Supervenience

DEWASA ini, kaum inteligensia yang beradab akan lari terbirit-birit ketika mendengar kata ‘reduksi,’ ‘determinasi,’ ‘totalitas,’ ‘absolut’ dan sejenisnya. Agaknya, kata-kata itu menyinggung rasa kemanusiaan mereka yang demikian sublim dan subtil. Hal ini sepertinya sesuai dengan iklim intelektual kontemporer yang hipersensitif pada diksi, pada pilihan kata, sembari abai pada kenyataan dan konsep yang dinyatakan oleh kata-kata. Kita dengan mudah lupa pada ungkapan Cato, seorang pemikir dan politisi Romawi: rem tene, verba sequentur; ‘rengkuhlah bendanya, maka kata-kata akan mengikuti.’

Jaminan Kesehatan Milik Siapa?

AKHIR-akhir ini terdapat banyak persoalan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Bima. Sebut saja yang dialami oleh Julkaidah, bayi berusia lima hari yang meninggal di RSUD

Kerja itu Persoalan Politik!

Judul Buku: The Problem with Work :Feminism, Marxism, Antiwork Politics, and Postwork Imaginaries Penulis: Kathi Weeks Penerbit: Duke University Press, 2011 Tebal: 287 halaman ‘Alangkah

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.