Marx, Multitude, dan Orang Miskin
Tanggapan terhadap Donny Gahral Adian TULISAN Donny Gahral Adian, Kaum Miskin dan Kekayaan Sosial di harian Kompas (18 Juni 2010) cukup inspiratif. Menimba dari terobosan
Tanggapan terhadap Donny Gahral Adian TULISAN Donny Gahral Adian, Kaum Miskin dan Kekayaan Sosial di harian Kompas (18 Juni 2010) cukup inspiratif. Menimba dari terobosan

MUNGKIN Anda sudah dengar berita ini. Beberapa hari lalu, media-media online dan media sosial heboh. Bukan. Ini tidak ada hubungannya dengan Simposium 1965. Juga tidak

MASYARAKAT Indonesia mabuk lagi. Kali ini “mabuk Nara Rakhmatia Masista.” Nara ibarat minuman lokal (milo) berkadar alkohol tinggi yang sementara obati sakit jiwa masyarakat Indonesia

AGAR kaum tani bisa menjadi bagian dari agenda politik kelas pekerja, maka aktivitas produksi petani di pedesaan mesti kita letakkan dalam kerangka teori yang benar.
Negara ini menjadikan Ujian Nasional sebagai ujung tombak utama lulus atau tidaknya seorang peserta didik. Walau katanya juga ditentukan oleh Ujian Akhir Sekolah (UAS), tetapi dalam pelaksanaan di lapangan, UAS hanya dijadikan ujian formalitas belaka. Melalui UN, nilai dijadikan ‘Tuhan’ yang bisa menentukan hasil akhir. Bagaimana bisa kelayakan seseorang untuk lulus hanya di tentukan oleh sebuah ‘nilai?’ Bertambah miris bila kita tarik lagi ke belakang dalam skala yang lebih luas, dimana memang seluruh sistem pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi mengikuti pola seperti ini.
Nilai, yang sering diwujudkan dalam angka atau huruf menjadi ukuran ‘kepintaran’ seorang anak. Tentunya anda masih merasakan bagaimana bangganya anda jika mendapatkan nilai bagus, atau bagaimana anda kesal ketika seorang teman anda mendapat nilai sama bagusnya dengan anda tetapi hasil dari menyontek. Semua berlomba-lomba mendapatkan nilai yang bagus, tidak peduli bagaimana caranya. Anak-anak yang tidak bisa mendapatkan nilai yang tinggi, dicap ‘bodoh’ dan ‘malas.’ Belum lagi tuntutan orang tua yang begitu tinggi, yang tak jarang mengiming-imingi hadiah jika nilai sang anak bisa mengalahkan nilai teman-temannya.

Kredit ilustrasi: Cooperative Grocer PEMILU yang menimbulkan polarisasi, secara formal, telah usai. Namun ketegangan di lingkar elite masih begitu panas. Apapun hasilnya, bagi gerakan kaum

Kredit foto: Duta Damai Muda MENANGGAPI pro-kontra penggarapan ladang minyak Blok Cepu, Rizal Mallarangeng (“Blok Cepu, Mission Accomplished,” Tempo, 27/3/06), menulis dengan lantangnya bahwa
SEKITAR tahun 1980-an, orang pernah berdebat sengit mempersoalkan penyebab kemiskinan. Sedikitnya, ada dua pandangan yang berdebat keras tentang itu. Satu pihak memandang kemiskinan adalah produk struktur sosial

Penyerbuan kantor YLBHI. Kredit foto: Tirto PENGEPUNGAN terhadap gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang mewarnai linimasa kita pada hari-hari belakangan ini benar-benar
RESENSI BUKU Judul buku: A Luta Continua! Politik Radikal di Indonesia dan Pergerakan Pembebasan Timor Leste Penulis: Wilson Pengantar: Maria Alkatiri dan Mateus Marco Goncalves

Selain menjadi media dalam perjuangan melawan penjajahan yang tidak berkesudahan, musik bagi anak-anak Palestina juga menjadi tempat berlindung dari ketakutan-ketakutan yang mereka hadapi setiap waktu.
SEHARI sebelum ia meninggal, teman sekampusnya yang berumur lebih muda menjenguk dan melihat kondisinya yang mengenaskan. Perutnya membesar akibat luka dalam membengkak, kepala, tangan, dan kaki terlihat kecil. Ia tidur telentang di atas tikar dengan kaki terlipat, seakan-akan kita melihat bentuk tubuhnya serupa katak.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.