1. Beranda
  2. /
  3. Paling Sering Dibaca
  4. /
  5. Page 124

Paling Sering Dibaca

Marxisme dan Kepak Sayap Malaikat

PADA suatu petang, Nashruddin Khoja terlihat di bawah lampu perempatan jalan sedang mencari-cari sesuatu. Kawannya datang dan bertanya: ‘sedang apa kau Nash?’ Nashruddin bilang kalau

Penyingkiran Kaum Miskin Kota dan Hak Atas Kota

HARI-HARI setelah Idul Fitri/lebaran seharusnya menjadi momen dimana warga Jakarta kembali ke kehidupan seperti biasanya: bekerja membanting tulang dalam kesemrawutan ibu kota demi melanjutkan hidup.

Nyanyi Sunyi Pram

Karya-karyanya adalah sayup suara di rumah-bahasanya sendiri ”SAYA punya minat khusus dengan dia karena [dia] realistis,” kata Sujiyati, merujuk alasan dia mencintai karya-karya Pram, dengan

Gerakan Payung dari Hong Kong

AKHIR Oktober 2014, cuaca kota Hong Kong masih panas dan lembab. Ribuan warga kembali bergabung dalam pendudukan Jalan Nathan di Mongkok, distrik perdagangan terpadat. Saat

Asolole: Antara Rhoma dan Irama

Nada-nada demikian kini marak disebut ‘dangdut koplo’. Layaknya jamur di musim penghujan, dangdut koplo marak dan tersebar di mana-mana. Persoalan maraknya dangdut koplo di hampir seluruh pelosok Nusantara merupakan persoalan yang penting dalam perkembangan musik Indonesia. Dengan tulisan ini, saya menempatkan pembahasan dangdut koplo pada arus yang sama dengan ketika orang-orang membicarakan musik metal, underground, atau indie—dan bahkan mungkin dapat lebih melampaui itu: sebagai musik pop itu sendiri. Sebagai budaya alternatif, sebagai musik tandingan, dangdut koplo mampu menghisap massa yang tak sedikit dan mampu bertahan hidup dalam arus musik modern. Mengapa demikian? Mari kita telusuri bersama beberapa aspek-aspek yang terdapat dan melingkupi musik dangdut koplo.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.