Asolole: Antara Rhoma dan Irama

Print Friendly, PDF & Email

Pada masa yang lalu, haram hukumnya jika membicarakan musik dangdut tanpa menyebut nama Rhoma Irama. Namun, pada saat ini, rasanya kurang afdol jika bergoyang dangdut tanpa memekikkan ‘ASOLOLE!’.

 

lihat menit 05.15 – 08. 15. Rhoma Irama membuka film
Gitar Tua dengan lagu berjudul  “Musik”

 

Orang-orang di desa saya biasa memiliki sound system yang bersuara maha-dahsyat meskipun rumahnya sangat sederhana. Dulu, dari sana kita bisa mendengarkan The Complete Discography of Rhoma Irama tanpa putus dari pagi hingga malam; dengan volume yang super kencang; tanpa ada acara spesial atau hajatan[1]. Tapi kini lagu-lagu tersebut telah diganti; dikerjakan ulang, dan dinyanyikan kembali. Nada-nada mendayu diganti ketukan ritmis ketipung nan stagnan; menghentak dengan penuh semangat. Suasana live performance dalam rekaman yang diputar selalu terasa; riuh penonton, desahan genit para biduan, dan—tak ketinggalan—sahutan pemimpin orkes yang seringkali cabul, selalu menghiasi.

Nada-nada demikian kini marak disebut ‘dangdut koplo’. Layaknya jamur di musim penghujan, dangdut koplo marak dan tersebar di mana-mana. Persoalan maraknya dangdut koplo di hampir seluruh pelosok Nusantara merupakan persoalan yang penting dalam perkembangan musik Indonesia. Dengan tulisan ini, saya menempatkan pembahasan dangdut koplo pada arus yang sama dengan ketika orang-orang membicarakan musik metal, underground, atau indie—dan bahkan mungkin dapat lebih melampaui itu: sebagai musik pop itu sendiri. Sebagai budaya alternatif, sebagai musik tandingan, dangdut koplo mampu menghisap massa yang tak sedikit dan mampu bertahan hidup dalam arus musik modern. Mengapa demikian? Mari kita telusuri bersama beberapa aspek-aspek yang terdapat dan melingkupi musik dangdut koplo.

 

Dangdut Rhoma Irama[2]

Tidak dapat dimungkiri lagi kesahihan judul lagu “Dangdut is The Music of My Country” milik kelompok Project Pop[3]. Sejak dangdut—dimutakhirkan oleh Rhoma Irama—dan Keroncong—oleh  kelompok-kelompok musik dari Kemayoran—menjadi musik modern asli milik Indonesia, nyaris tiada lagi aliran musik modern yang sama berhasilnya ‘dinasionalisasi’ oleh musisi Indonesia.

Musik dangdut pada mulanya berakar dari irama-irama musik melayu. Musik dangdut yang berkembang di Indonesia pada sekitar tahun 1940 telah bercampur dengan nada-nada dari musik India dan Arab. Hal ini berhubungan dengan penyebaran Islam di Indonesia yang, tidak hanya masuknya Islam sebagai agama, tapi juga membawa kebudayaan dari negara yang membawanya[4].

Pada awal kemunculannya, di kisaran tahun 1970, pionir-pionir dangdut membawakan karakter khas masing-masing yang kental dengan pengaruh-pengaruh tersebut. Sebut saja penyanyi A. Rafiq dan Ellya Kadam yang mewakili irama India, atau Meggy Z, Mansyur S, dan Elvi Sukaesih yang mewakili irama Melayu. Semua mendapat tempat yang nyaman dalam hati para pendengarnya. Dengan demikian, Rhoma Irama bukan satu-satunya pelopor dangdut. Banyak musisi dangdut lain yang tak bisa dikecilkan peranannya dalam perkembangan musik ini. Rhoma Irama hanya menempati satu cabang dalam diagram peta persebaran sub-genre dangdut—yakni Rock-Dut—yang kemudian mempengaruhi perkembangan musik dangdut koplo pada saat ini.

Rhoma Irama muda kala itu memiliki kelebihan dibanding penyanyi dangdut lainnya. Dalam sosoknya terdapat kecerdasan dan pengetahuan musik yang membuatnya menjadi legenda hingga saat ini (terlepas dari perjalanan cinta dan karir politiknya). Dengan lincah Rhoma Irama mengolah musik dangdut melayu-arab dipadu dengan lengking gitar buntung kesayangannya, didampingi big band yang menggunakan beragam instrumen dangdut melayu, dia membuat Indonesia bergoyang pada masa itu. Dia menyuarakan penderitaan kaum-kaum terbuang, patah hati, kere, dan dakwah-dakwah Islam dalam lagunya. Racikan yang sempurna sehingga membuat seluruh pendengarnya seolah sedang mengaji sembari bergoyang. Dengan itu pula Rhoma Irama sukses memisahkan dangdut dari zapin Melayu atau gambus Arab.

Siapa bilang musik dangdut musik kampungan? Dangdut pada masa Rhoma Irama adalah musik semua kelas. Kelas menengah tak malu-malu menggoyangkan pinggulnya saat mendengar tembang-tembang andalan milik Rhoma, sementara orang-orang kecil; yang menjadikan langit sebagai atap rumahnya dan bumi sebagai lantainya, yang hidupnya menyusuri jalan, dan makan dari sisa orang-orang, telah hanyut lebih dulu dalam alunan lagu ‘Gelandangan’ milik Rhoma Irama. Seiring dengan diterimanya dangdut Rhoma oleh khalayak banyak, ia pun ‘naik kelas’. Panggung yang dinaikinya megah dan besar, kostumnya ‘mewah’, tata suaranya baik, ditambah dengan penataan cahaya yang membuatnya seperti konser musik kelas atas.

 

Rhoma Irama “Gelandangan”

 

Waktu berlalu, jejak yang ditorehkan oleh Rhoma pun semakin menancap ke dalam. Generasi penyanyi dangdut baru lahir dan bermunculan, dan mereka masih menyanyikan beberapa karya masterpiece Rhoma Irama selain lagu mereka sendiri. Hal ini semakin menobatkan Rhoma Irama—dengan big band-nya, Soneta—menjadi Raja dangdut. Predikat ini disandang Rhoma Irama dengan penuh percaya diri. Meski tanpa bukti tertulis, keabsahan predikat itu tak perlu dipertanyakan lagi. Sudah berapa album dia keluarkan dan laku di pasaran (baik asli maupun bajakan), berapa film ia bintangi sekaligus mengisi soundtrack-nya, berapa perempuan mampu ia taklukan (ini mungkin bukan indikator yang tepat untuk dihadirkan). Rhoma Irama bersama Soneta mengusung musik dakwah bukan hanya sebatas nge-band iseng, tapi juga perlu dilihat sebagai usaha jihad fiisabilillah lewat jalan kesenian musik. Sebagaimana terpahat pada sebuah prasasti batu di salah satu jalan masuk di studio Soneta yang berbunyi; ‘Musik… adalah suatu pertanggungjawaban kepada Tuhan dan manusia – Rhoma Irama’. Tercatat sejak pertama kali sukses di blantika musik dengan album Begadang, Penasaran (1974-1975), Rupiah, Darah Muda (1975), Musik 135.000.000 (1976), dan puluhan album lainnya telah menjadi bukti sahih sang Raja Dangdut. Hal ini pun ditunjang dengan Go Internasional-nya musik dan penampilan Rhoma ke panggung luar negeri[5].

Sejak saat itu pula panggung dangdut terbagi menjadi dua bagian; panggung besar dan panggung kecil. Berbeda dengan panggung yang dinaiki Rhoma, panggung-panggung kecil yang berada di pinggiran kota mulai ikut hadir. Panggung dengan tratag seadanya, kostum gemerlap namun tak elok, tata suara lebih sering memekakkan telinga, dan lampu seadanya; lebih remang lebih baik. Biduan-biduanita muda putus sekolah mulai berlatih jadi bintang panggung. Dengan bekal qiroah semasa TPA, cengkok rahasia khas dangdut pun jadi lebih mudah dikuasai.

Dari panggung-panggung macam inilah, konon, lahir penyanyi dangdut aduhai bernama Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Uut Permatasari dengan goyang ngecor-nya, Anisa Bahar dengan goyang patah-patahnya, serta Lilis Karlina dengan goyang karawang-nya. Semua penyanyi ini dianggap anak haram oleh Rhoma, tak pernah mendapat restu. Mereka dianggap hanya menurunkan derajat dangdut dengan pamer tubuh. Lagipula kemunculan mereka berada tepat pada batas waktu di mana masa berlaku Rhoma Irama akan segera habis.

Sebagaimana telah kita lihat, Rhoma Irama memiliki racikan khas. Penggunaan big band, penyanyi latar yang mengerti harmonisasi vokal, lirik-lirik serius, serta porsi yang berimbang dalam perpaduan musik rock dan dangdut, membuat musik Rhoma merajai genre dangdut. Lain halnya dengan rombongan artis yang disebut sebelumnya. Mereka memiliki senjata andalan lain yang tidak mungkin dimiliki Rhoma Irama: Goyangan. Satu lagi yang menjadi formula khas dangdut: lirik sendu dan merana yang disertai musik goyang. Massa menyambut baik kelahiran mereka; karut marut reformasi, siapa yang peduli. Hal ini membuat Rhoma geram. Berbagai upaya konfrontasi dilakukan untuk membuat mereka tenggelam di dasar dunia hiburan. Rhoma bersikap bak penguasa sekaligus pencipta dangdut; berulang kali dia mengeluarkan titah. Lagaknya serupa raja betulan.

Namun, keadaan ini tak menyurutkan kelompok penyanyi dangdut yang ‘terbuang’. bagi mereka, hal ini adalah jembatan emas menuju kesuksesan. Nyatanya benar: televisi tak bosan menampilkan Inul lengkap dengan gosipnya. Panggung-panggung kampanye partai tak bisa berdiri dan riuh tanpa penyanyi dangdut dengan goyangan heboh. Bibit penyanyi dangdut tumbuh subur di negeri ini. Kesengsaraan dan kegalauan diselesaikan dengan goyangan.

 

Dangdut Koplo

Rombongan penyanyi di atas kemudian menjadi cikal bakal lahirnya dangdut koplo. Masa-masa keemasan Ike Nurjanah, Iis dahlia, dkk. sudah habis. Penyanyi-penyanyi dangdut melayu melankolis nan santun itu mulai terjerembab dalam prahara rumah tangganya masing-masing. Mereka adalah ‘anak-anak yang baik’ bagi Rhoma, berbeda hal dengan Inul dkk.

Inul lahir dari panggung kecil di kampungnya di Jawa Timur dan dia berhasil mengguncang Indonesia setelah kemunculannya di Televisi. Disusul dengan penyanyi-penyanyi yang satu tipe dengannya. Rombongan ini pun membuat gebrakan besar dalam perjalanan dangdut di Indonesia. Ketika Inul mulai lewat masanya, gerbong rombongan penyanyi serupa tak kunjung surut kehadirannya. Mereka terus berdatangan.

Perubahan besar-besaran juga terjadi di panggung-panggung kampung. Kelompok kelompok orkes Melayu terus bercokol; terus hidup. Mereka terus bertahan dengan format orkes yang sama, sementara dangdut house music—dangdut yang dibalut alunan disko; ‘jedag-jedug’—mulai digemari. Alih-alih mengalah pada house music, orkes Melayu malah memodifikasi beragam aliran dangdut yang bermunculan. Irama-irama sendu mendayu-dayu digubah menjadi ketukan ritmis penuh semangat. Sementara dangdut house music marak digemari di diskotik-diskotik kelas coro, dangdut orkes ini menguasai hajatan-hajatan antar kampung.

Entah siapa yang memulai atau darimana asalnya, turunan baru dari dangdut orkes ini kemudian dikenal dengan nama dangdut koplo. Koplo adalah sejenis obat-obatan terlarang; berbentuk pil dan dijual dengan harga murah. Efeknya bisa menjadi doping saat berjoget, membuat mabuk, dan menjadikan sedikit ‘beringas’. Pil ini biasanya marak disebarluaskan di diskotik, tapi kini persebarannya telah lebih luas hingga ke pelosok-pelosok desa di pinggiran kota.

Mengapa bukan dangdut house music yang kemudian disebut dangdut koplo? Dengan mendasarkan pada dugaan yang serampangan, dangdut house music yang lebih dulu muncul lebih dikenal dengan istilah disco-dut. Disco dangdut dan dangdut koplo merupakan cabang aliran musik yang berbeda batang tubuhnya. Kebanyakan model dangdut seperti ini hanya ditemui pada vcd-vcd bajakan dengan DJ yang tidak begitu dikenal dan juga jarang sekali ditemui pertunjukan live-nya. Sementara dangdut orkes yang kemudian dikenal dengan dangdut koplo menitikberatkan pada penampilan langsungnya. Ketukan ketipung yang rancak membuat tak seorang pun mampu mengontrol kepala dan pinggulnya dari jeratan sihir dangdut tersebut[6].

Jika kita teliti satu persatu unsur dangdut koplo, maka kita akan menemukan beberapa hal yang membuatnya begitu marak saat ini. Dangdut koplo mengedepankan pertunjukkan langsung; rekamannya pun lebih banyak kita dapatkan dari rekaman pertunjukan langsung. Dangdut koplo mengandung unsur trance dalam musiknya. Trance yang dihadirkan pada dangdut koplo berbeda dengan trance yang dihadirkan oleh dangdut disko. Pada dangdut koplo instrumen asli seperti ketipung, suling, gitar, dan instrumen lainnya menggunakan instrumen asli yang dibunyikan oleh orang, sedangkan pada dangdut disko instrumen yang digunakan kebanyakan adalah instrumen remix model DJ; oleh mesin. Hal ini memberikan efek yang berbeda pada pendengarnya. Masyarakat rindu terhadap suguhan panggung hiburan dan dangdut koplo memberikannya.

 

Eny Sagita membawakan lagu “Ngamen 2”.
Salam Asolole (Icik-Icik Ehem)

 

Dalam sejarah kesenian daerah masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kesenian yang mengandung unsur trance. Sebut saja Kuda Lumping dari Jawa, Niti Naik Mahligai dari Jambi, Reog, serta beragam kesenian lainnya. Hal ini menunjukkan betapa masyarakat Indonesia menikmati dan hidup bersama kesenian yang mengandung unsur trance. Struktur musik dangdut koplo memberikan efek trance yang sesuai sehingga diterima oleh masyarakat indonesia.

Dangdut koplo memiliki formula musik yang hampir sama pada setiap nomor yang dibawakannya. Diawali dengan tempo pelan dan sedikit nuansa slow rock, lalu dilanjutkan dengan gempuran ketipung di sekujur lagu. Pada bagian bridge atau refrain, akan kita temui ketukan ketipung yang jadi penanda, biasanya dilakukan 2 sampai tiga kali, yang memberikan efek adrenalin semakin meningkat untuk bergoyang. Pada ketukan ini pun sering dijumpai senggakan pemimpin orkes dengan kata-kata semaunya, yang jelas, sedikit cabul; seperti: ‘bukak sithik jos!’, ‘tung gentak gentung crot!’, ‘sumuk-sumuk!’ dan yang paling pamungkas yaitu ‘Asolole!’. Hal ini membuat pendengarnya jadi kecanduan. Penyanyi-penyanyi yang dihadirkan oleh orkes dangdut koplo selalu luar biasa. Perempuan-perempuan muda berbusana minim yang dalam aksi panggungnya kadang-kadang tak bisa membedakan mana adegan ranjang mana menyanyi di panggung. Nama mereka pun kerap dimodifikasi sedemikian rupa supaya lebih indah; seperti Mela Barbie, Lina Geboy, Ajeng Ferarri, Yeni Parabola, dan masih banyak lagi.

 

Siasat Jitu Dangdut Koplo

Kemunculan dangdut Koplo tidak terlepas dari maraknya kemunculan dangdut bernuansa lokal kedaerahan. Dangdut semacam ini berkembang pesat pada masa pasca Orde Baru. Kemunculan dangdut ini hadir sebagai wacana tandingan atas wacana dangdut pada masa Orde Baru yang mendaku dangdut sebagai musik nasional Indonesia. Sebagaimana dangdut dibawa go Internasional oleh Rhoma, kehancuran ekonomi-politik masa-masa akhir Orde Baru memaksa musik nasional ini go local. Nada-nada dangdut yang yang mengandung unsur kedaerahan perlahan banyak bermunculan. Mereka menggelar pertunjukan di tempat-tempat lokal dan spesifik bagi komunitas tertentu. Vcd-vcd bajakan beraliran dangdut daerah tersebar di lapak-lapak kecil sesuai dengan akar budaya masing-masing. Hal ini hampir serempak terjadi di berbagai daerah. Dangdut koplo merupakan bagian dari fenomena ini. Di wilayah Sunda mengalir lagu-lagu dangdut tarling dan jaipongan, di ranah Minang kita jumpai Saluang dangdut, di Riau kita jumpai Dangdut Melayu, dan di Jawa Timur kita temui Dangdut koplo[7].

Setiap aspek yang melingkupi dangdut koplo merupakan pernyataan yang dapat dibaca sebagai pola bertahan hidup. Pertama-tama, kita akan melihat aspek formasi kelompok orkes dangdut koplo. Orkes dangdut koplo merupakan pelestarian formasi dari orkes yang diampu oleh Rhoma. Dalam orkes, terdapat beberapa orang yang menjadi pemain instrumen: peniup seruling, penabuh drum sekaligus ketipung, pemain organ, pemain gitar listrik, pemain bass, serta penyanyi. Pemain mandolin, yang sering digunakan oleh Soneta, jarang ditemukan dalam orkes dangdut koplo. Pada orkes Soneta, pemain mandolin menempati posisi penting dalam bebunyian; dia bekerja sebagai penyusun melodi beraroma melayu. Sementara, pada orkes dangdut koplo, melodi-melodi Melayu dari mandolin digantikan oleh lengkingan gitar listrik berdistorsi sebagai unsur musik slow rock. Hal ini menjelaskan bahwa ayah dari dangdut koplo adalah Dangdut milik Rhoma Irama, bukan A. Rafiq, Ellya Khadam, atau Meggy Z.

Selanjutnya, kita akan melihat bagaimana sebenarnya struktur musik dangdut koplo. Seperti yang telah dijelaskan di atas, struktur musik dangdut koplo tidaklah kaya. Mereka terus melakukan retorika yang sama. Hal yang membuatnya berbeda adalah cover version yang mereka lakukan. Dalam orkes dangdut koplo lagu apapun bisa menjadi versi koplo. Baik lagu-lagu pop dalam negeri atau lagu-lagu Barat. Struktur musiknya sama, pada awal lagu mereka memainkan versi aslinya, lalu pada bait selanjutnya sentuhan koplo memenuhi sekujur lagu. Nyaris tidak ada kebaruan dalam musik dangdut koplo. Hal ini menunjukkan betapa lenturnya dangdut koplo, sehingga, bisa dibilang, hampir tak satu pun lagu di dunia ini yang tak bisa dikoplokan. Modifikasi adalah senjata utama pegiat dangdut koplo untuk bertahan hidup.

 

Via Vallen membawakan lagu
milik penyanyi internasional

 

Pilihan musisi dangdut koplo untuk membawakan cover version bisa dibaca sebagai siasat bertahan hidup. Sebagai musisi, seniman-seniman dangdut koplo bisa dibilang kurang produktif dalam melahirkan karya. Namun, bagi mereka, hal ini tak menjadi soal. Bagi mereka, hal ini adalah penghematan produksi, karena mereka tak perlu repot untuk sering-sering membuat lagu; mereka tak mengalami kesulitan tidur nyenyak karena pertanyaan apakah lagu mereka akan laris dipasaran, atau dihantui mimpi buruk tentang pembajakan.

Siasat produksi ini pun terjadi pada pola distribusi musik mereka. Hal pertama yang perlu diketahui adalah panggung tempat diadakannya pertunjukan dangdut koplo. Pertunjukan dangdut koplo seringkali diadakan pada acara hajatan. Sebut saja pesta pernikahan, pesta khitanan, acara tradisi sedekah laut, atau kampanye partai politik. Dalam acara-acara ini, panitia pertunjukan hampir selalu menggandeng jasa dokumentasi video shooting. Dari dokumentasi inilah persebaran dangdut koplo dimulai. Dari dokumentasi ini, ada saja tangan-tangan jahil yang menggandakannya tanpa seizin panitia pertunjukan. VCD-VCD bajakan inilah yang kemudian tersebar di masyarakat. Format VCD yang menampilkan gambar dan suara tentu lebih menarik dibandingkan hanya format suara saja.

Selanjutnya, penggemar berat musik ini adalah sopir alat tranportasi lintas provinsi. Kita tentu dapat membayangkan bagaimana kesepiannya para sopir itu dalam perjalanan. VCD dangdut koplo-lah yang senantiasa menemani perjalanan mereka. Sopir-sopir ini memiliki peran penting dalam penyebaran musik dangdut koplo. Mereka layaknya kumbang yang membantu menempelnya serbuk sari kepada putik tumbuhan lainnya; mereka lah yang membantu penyerbukan dangdut koplo. Musik dangdut koplo yang disetel secara terus-menerus di sepanjang perjalanan sopir-sopir ini kemudian menempel pada telinga-telinga masyarakat yang dilintasinya. Hal inilah yang membuat kembang biak dangdut koplo begitu subur di Nusantara. Selama bertahun-tahun pembajakan ini berlangsung, tidak pernah ada komplain dari pihak panitia penyelenggara, meskipun kita selalu menjumpai teks berjalan di VCD tersebut yang berbunyi ‘DILARANG MEMPERBANYAK TANPA SEIZIN PANITIA’. Bagi orkes-orkes dangdut koplo, penyebaran musik secara ‘alamiah’ ini, justru membuat mereka semakin laris tanggapan; membuat mereka tetap bertahan hidup.

Menyangkut persoalan cover version, jangan dulu menyimpulkan bahwa dangdut koplo tak mampu melahirkan karya mereka sendiri. Mereka pun punya lagu orisinal. Sebutlah lagu ‘Ngamen’, diciptakan oleh anonim. Saat ini kita dapat menjumpai lagu ‘Ngamen’ dari volume satu sampai enam. Lagu ‘Ngamen’ memiliki lirik berbahasa Jawa, bernada lugu dan berpetuah kehidupan. Simak potongan lirik lagu ‘Ngamen 2’ berikut:

 

Eling-eling manungso bakale mati
Yen wes mati dikubur sanak famili
Dipendem jero diapit bumi

Ono kubur iku akeh pandoso
Ulo kelabang kolojengking podo moro
Ono setan membo-membo dadi perawan
Ben no kerasan yen ono kuburan

Neng akhirat ora ono montor liwat
Neng akhirat ora ono sego berkat
Neng akhirat ora ono mejo biliard
Onone godo ne malaikat

Dalam bahasa Indonesia:

Ingatlah bahwa manusia nantinya akan mati
Jika sudah mati dikubur sanak famili
Dikubur di dalam tanah diapit bumi
Di kuburan itu banyak keranda
Ular, Kelabang, Kalajengking menghampiri kita
Ada setan membo-membo jadi perawan
Supaya kerasan di kuburan
Di akhirat tidak ada motor lewat
Di akhirat tidak ada nasi berkat (nasi yang dihidangkan saat ada acara hajatan)
Di akhirat tidak ada meja billiar
Yang ada hanya gada milik malaikat

 

Petuah-petuah bijak tentang kehidupan di dunia dan kehidupan setelah mati tergambar jelas di lagu tersebut. Jika Rhoma menggunakan elemen dakwah moral bernada islami, maka penulis lagu dangdut koplo menggunkan cara petuah moral gaya orang tua bijak (Jawa). Hal yang membedakan adalah ironi yang dihadirkan pada kedua fenomena tersebut. Sementara Rhoma melagukan dakwah dengan serius tapi main gila di belakang, para penyanyi dangdut koplo melagukan lagu ‘Ngamen’ dengan seadanya; cenderung genit dan nakal. Ironi tersebut langsung tersuguh di panggung, tanpa tedeng aling-aling, mereka gila-gilaan langsung di atas panggung.

 

Ratna Antika membawakan lagu
“Alay”. OM. Monata

 

Selanjutnya, kita akan melihat hal yang menjadi pembeda karakter dasar antara musik pop Indonesia masa kini dengan musik dangdut koplo. Musik pop Indonesia masa kini acapkali mendapat kritik tajam dan pedas. Mereka seringkali disebut sebagai ‘penyanyi menye-menye’, ‘lirik cinta-cintaan generasi patah hati’, seolah tidak ada urusan lain di dunia ini, yang kemudian ini akan merujuk pada galauisme. Dibalut nada-nada yang bikin getir dan cara menyanyi yang memble, musik pop dewasa ini kerap dituduh sebagai sekadar pengulangan melankoli yang dulu pernah dikecam PJM Soekarno dan disebut ngak-ngik-ngok. Melankoli ini, pada masa Soekarno, dianggap melemahkan semangat revolusi, sementara melankoli yang sama juga pernah dilarang Pak Harto lewat Harmoko dengan sebutan ‘musik cengeng’ yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Pertunjukan panggung dangdut koplo pun lebih jujur ketimbang pertunjukan musik pop di televisi saat ini, ketika para penyanyi berpura-pura menyanyi (lipsync), ketika para pemain alat musik berpura-pura memainkan alat musiknya, mereka tetap percaya pada kekuatan penampilan langsung, tanpa pura-pura. Inilah yang merupakan kekuatan yang dimiliki oleh dangdut koplo: mereka berusaha untuk selalu menyuguhkan kejujuran. Tidak hanya itu, musik mereka seringkali disebut menggelikan karena mendayu-dayu dan kemelayu-melayuan. Apa yang salah dengan mengangkat musik dengan unsur Melayu dalam musik pop? Tentunya persoalan ini dapat kita bawa kepada dugaan yang menempatkan bahwa musik pop dan musik dangdut koplo berada pada ranah yang berbeda tempatnya. Untuk musik dangdut koplo, silakan saja; sah-sah saja bernada Melayu, namanya juga dangdut. Tapi, kalau musik pop, modern, berada dalam arus utama musik Indonesia, ya masa’ musiknya mau melayu juga?!

Lain hal dengan Dangdut koplo, yang namanya Dangdut, rumus formula utamanya adalah lirik yang sendu dan merana tapi musiknya bikin lupa daratan. Jangan pernah lupa lirik lagu ‘Pasrah’ milik Leo Waldy yang kira-kira begini bunyinya:

 

Lebih baik kau bunuh
Aku dengan pedangmu
Asal jangan
Kau bunuh aku dengan cintamu
 

Lebih baik aku mati di tanganmu
Daripada aku mati bunuh diri
Lebih baik aku mati di tanganmu
Daripada aku mati bunuh diri

Ku tak menyesali kalau diri ini
Engkau jadikan diriku
Cinta kedua darimu
Biarlah aku terima

 

Aduh biyung, kurang ngenes apa lagi liriknya! Tapi, begitulah musik dangdut, betapa pun sakitnya hatimu, betapa pun luluh lantaknya perasaanmu, tetap saja: goyang. Musik dangdut selalu menawarkan obat nyata yang terkandung sekaligus dalam musiknya. Begitu pula yang terjadi dalam musik dangdut koplo. Obat yang ditawarkan dangdut koplo dengan resep hentakan ketipung, lengkingan gitar yang memberikan efek gagah, dan penyanyi-penyanyi yang aduhai dinilai lebih mujarab. Kontras antara penyakit dan obatnya dihadirkan dalam satu ramuan musik dangdut (terutama dangdut koplo) merupakan elemen penting yang membuat musik dangdut koplo terus hidup dalam arus musik di Indonesia.

Tak peduli besok makan apa, tak peduli siapa presidennya, tak peduli cintaku gagal dan hatiku hancur; yang penting goyang dulu. Sukur-sukur nanti malam bisa mimpi ditemani genitnya Eny Sagita ‘Menthoel’.

Salam Asolole!

Irfan R. Darajat 24 tahun, Sarjana Ilmu Politik UGM Yogyakarta, Penggemar Musik. Penganut Paham Marhaenisme. 


[1] Tidak ada album Rhoma Irama yang berjudul The Complete Discogrphy of Rhoma Irama; penulis hanya mereka-reka saja nama tersebut untuk menjelaskan bahwa lagu yang diputar pada saat itu hanyalah lagu-lagu Rhoma Irama secara lengkap dari semua album yang pernah dibuatnya.

[2] Subtema ini tidak dimaksudkan sebagai pembahasan sejarah secara runut dan tertib.  Penulis hanya mencoba memotret secara sepintas gerak sejarah musik dangdut sesuai kebutuhan.

[3] Dangdut Is The Music Of My Country adalah lagu dari kelompok bernama Project Pop. Lagu ini merupakan Hits Single dari albumnya yang keempat yang bernama POP OK.  Album ini meraih penghargaan double Platinum dengan penjualan di atas 300.000. Karena sangat populernya album ini , maka Project POP pun berhasil membuat 6 video klip dari album ini .

[4] Dangdut Stories: A Sosial and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music, Andrew N. Weintraub, New York; Oxford University Press, 2010. Halaman 33-54.

[5]Rhoma Irama bersama Soneta juga merambahi dunia film dengan sederet film-film musikal dangdut yang laris dan diperanutamakan olehnya serta diilustrasikan musik Soneta. Film musikal dangdut yang dimainkan Rhoma Irama mencapai 24 judul yakni: Penasaran (1976), Gitar Tua, Darah Muda (1977), Berkelana, Berkelana II, Begadang, Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga, Camelia (1979), Perjuangan dan Doa, Melody Cinta (1980), Badai Diawal Bahagia (1981), Satria Bergitar, Cinta Kembar (1984), Pengabdian, Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari, Menggapai Matahari II (1986), Nada-nada Rindu (1987), Bunga Desa (1988), Jaka Swara (1990), Nada dan Dakwah (1991), dan Tabir Biru (1993). Kini, bersama putranya Ridho Rhoma, Rhoma Irama turut bermain dalam Dawai 2 Asmara (September 2010) dan Sajadah Ka’bah (November 2011). Diambil dari sumber: http://www.republika.co.id/berita/senggang/musik/12/04/16/m2kji3-rhoma-irama-sang-penghulu-mempelai-dangdut-dan-dakwah

[6] Lebih jelas tentang terminologi koplo baca: http://timoteuskusno.blogspot.com/2012/04/dangdut-koplo.html. Blog ini merupakan risalah dari penelitian yang dilakukan oleh Timoteus Anggawan Kusno sebagai penelitian akhir studinya di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM.

[7] Dangdut Stories: A Sosial and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music, Andrew N. Weintraub, New York; Oxford University Press, 2010. Halaman 201-217.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus