Lukacs

Georg Lukács untuk Masa Kini (1): Pertobatan Lukács

Print Friendly, PDF & Email

Dari Saulus Menjadi Paulus

“Dengan kata lain, hanya ia yang mengakui dengan teguh dan tanpa ragu bahwa pembunuhan itu dalam situasi apapun tidak dapat dibenarkan, dapat melakukan tindakan membunuh yang sungguh-sungguh—dan secara tragis—bermoral. Tragedi kemanusiaan yang paling mendalam ini terekspresikan dalam kata-kata indah Judith yang tiada banding dalam drama Hebbel: ‘Bahkan jika Allah telah menempatkan dosa antara aku dan tindakan yang diperintahkan kepadaku—siapakah aku sehingga dapat melepaskan diri?”

(“Tactics and Ethics”—1919)

INILAH kata-kata yang Georg Lukács gunakan sekitar seratus tahun silam, untuk mengumumkan pertobatannya dari pandangan dunia yang tragis dan kuasi-eksistensialis, menuju Komunisme.

Lompatannya pada Bolshevisme—dalam kata-kata salah satu temannya, Anna Lesznai, dari “Saulus menjadi Paulus”—mendahului Revolusi Hongaria tahun 1918 sekitar beberapa bulan. Bagi Lukács, peristiwa ini adalah sebuah fajar yang mewartakan kedatangan zaman pembebasan dan kemajuan yang baru. Sebagai anggota Partai Komunis Hongaria yang berkomitmen penuh, Lukács mengawali dekade yang paling radikal dalam kehidupannya yang panjang dan bervariasi.

Menurut muridnya yang belakangan, Ágnes Heller, di masa ini ia memproduksi karya filsafat Marxis yang terpenting sejak Marx sendiri, History and Class Consciousness.


Fajar yang Baru

Pada tanggal 21 April 1919, Hongaria menjadi rumah dari revolusi Soviet yang kedua di Eropa. Persis pada momen ketika revolusi itu dideklarasikan, Lukács tengah menyampaikan ceramah yang berjudul “Kebudayaan Lama dan Kebudayaan Baru” dalam aula yang penuh. Dalam ceramah ini, Lukács berargumen bahwa:

“Pembebasan dari kapitalisme berarti pembebasan dari penjajahan ekonomi… Masyarakat Komunis, yang menghancurkan kapitalisme, memformulasikan posisinya persis di sini. Ia berupaya untuk menciptakan suatu tatanan sosial yang di dalamnya semua orang dapat menikmati gaya hidup yang tadinya hanya dinikmati oleh kelas penindas…”

Meski diinterupsi oleh revolusi, Lukács akhirnya menuntaskan ceramah ini beberapa minggu kemudian, sebagai Komisaris Pendidikan dan Kebudayaan, di Universitas Pekerja Marx-Engels yang ia (dan revolusi) bangun bersama.

Sebagai Komisaris, ada banyak pencapaian Lukács dalam waktu yang singkat.

Ia menasionalisasikan semua teater yang kepemilikannya privat dan mendistribusikan ulang semua tiket teater yang telah terjual dari kelompok borjuis dan aristokrat kepada para pekerja dan orang miskin. Komisariatnya menerbitkan pengumuman: “Mulai sekarang, teater adalah milik rakyat! Seni tidak akan lagi menjadi privilese dari orang kaya. Kebudayaan adalah hak dari kaum pekerja.” Lukács membangun serikat para aktor dan juga tempat-tempat penjualan karcis khusus untuk kelas pekerja yang menjual tiket dengan harga yang dipotong.

Lukács juga menginisiasi program nasionalisasi seni secara luas, di mana lukisan-lukisan klasik dari segala masa yang dikoleksi secara pribadi diambil alih, sehingga dapat dipajang untuk dinikmati semua. Ia membantu pendirian institusi pendidikan orang dewasa, yang melayani para pekerja. Fakultas-fakultas di Universitas direstrukturisasi secara radikal untuk melatih guru-guru sekolah menengah, sementara teks-teks klasik Marxis seperti The Civil War in France dan Socialism, Utopian and Scientific ditambahkan ke dalam daftar bacaan yang tadinya dipenuhi dengan teks-teks kuno dan religius. Komisariat Lukács juga melakukan pendaftaran atas penulis-penulis yang diakui, yang akan menerima gaji secara reguler.

Pendekatan ini secara kasar merangkum sikap terhadap seni dan kebudayaan yang Lukács pertahankan. Ia mengarang slogan “Seni adalah tujuan dan politik adalah sarananya”, dan menyusun deklarasi bahwa Komisariat akan mendukung seni klasik dan berkualitas, bahkan ketika ia berkontradiksi dengan garis politik di republik.

Komisariat Lukács mengorganisir terjemahan Kapital yang pertama dalam bahasa Hongaria. Karya-karya sastra klasik juga diterjemahkan—termasuk karya lengkap Dostoyevsky, Shakespeare, dan pengarang-pengarang dunia lainnya. Agar kebudayaan mudah diakses rakyat, Lukács mendirikan perpustakaan-perpustakaan modern yang dikelola oleh para pembersih toilet yang melayani pemukiman-pemikiman kelas pekerja.

Bahkan anak-anak pun tidak diabaikan. Komisariat tersebut mengadakan pendidikan seks yang ditujukan bagi anak-anak sekolah—sebuah inisiatif yang baru di Hongaria yang didominasi agama Kristen. Ada sebuah cerita yang diragukan kebenarannya bahwa ketika Ana Lesznai bertanya kepada Lukács apa yang akan menjadi cerita-cerita dongeng yang mereka berdua sukai, Lukács menyebut cerita-cerita yang akan menjadi kenyataan: di bawah komunisme, batu-batu dan pohon-pohon akan berbicara.

Singkatnya, Komisariat tersebut mendirikan Departemen Fabel, yang dikepalai oleh Béla Balázs dan Lesznai. Departemen ini mengorganisir pertunjukan boneka keliling dan juga dongeng-dongeng sore hari yang dibantu oleh seniman yang membuat gambar-gambar untuk mengilustrasikan tema-tema yang beragam, sehingga anak-anak dapat terekspos pada kebudayaan yang “indah dan instruktif”.


Lukács di Jalan Menuju Petrograd

Republik Soviet Hongaria didirikan secara prematur, baik secara politis maupun strategis. Ia dilumpuhkan oleh keterisolasian dan kurangnya kejelasan politis, dalam beberapa hal karena aliansi yang ditakdirkan untuk gagal antara Komunis Hongaria dan kelompok Sosial-Demokrat.

Meski dalam banyak hal Lukács membawa semangat tragis dari masa mudanya ke dalam masa-masa revolusionernya, ia juga berkomitmen pada keperluan mendesak pengorganisasian politik. Dalam masa-masa revolusioner awalnya, ia menggabungkan heroisme eksistensialis dengan pragmatisme. Misalnya, pada masa Perang Saudara Hongaria, selain memenangkan popularitas lewat perhatiannya yang mendetil pada keadaan dapur di medan perang, Lukács disebut-sebut kerap mengekspos dirinya pada tembakan musuh dengan berjalan di atas parit. Ia membela diri dengan alasan bahwa jika ia hendak mengambil nyawa orang lain, ia harus memberikan kepada musuhnya kesempatan untuk meniru gesturnya.

Ketika Republik Soviet Hongaria runtuh, Lukács melarikan diri ke Wina di mana ia berkolaborasi dengan pemimpin serikat buruh komunis Jenő Landler, untuk membangun kembali Partai Komunis Hongaria dari jauh. Dengan itu, ia menentang kepemimpinan Béla Kun. Kun adalah pengikut Grigory Zinoviev dan representasi Hongaria dalam Komintern. Di tahun-tahun itu, Zinoviev dan Kun cenderung memilih kebijakan birokratis dan sektarian yang ditujukan untuk memaksakan percepatan revolusi secara artifisial. Secara umum, kebijakan ini membawa malapetaka. Pengalaman tersebut menolong Lukács untuk menjadi lebih dewasa.

Faktor lain—dan seringkali diabaikan—yang mempercepat pendewasaan Lukács adalah perkembangan hubungannya dengan Gertrúd Bortstieber, kawan komunis dan istri kedua Lukács. Ia belakangan menyebutnya sebagai “…sintesis dari kesabaran dan ketergesaan; kombinasi toleransi kemanusiaan yang besar dengan kebencian atas segala yang dangkal.” Dan memang betul bahwa Lukács memberi kredit pada Gertrúd karena memperkenalkannya pada pendekatan yang konkret atas etika, ekonomi Marxian (khususnya Marx, Luxemburg, dan Bukharin), dan sejarah. Ia belakangan menulis: “Sementara saya seringkali hanyalah peminat tanpa keahlian—ia [Gertrúd] sungguh mencapai pemahaman tentang soal-soal yang paling krusial.”

Demikianlah Lukács bertransformasi. Sebagai ganti atas hasrat kematian yang tragis dan indah yang tidak sulit ditemukan dalam Dostoyevsky atau film fatalistik Nicolas Ray, Lukács mengembangkan pendekatan yang konkret dan membumi atas politik revolusioner. Ini berpuncak pada karya besar Marxis awalnya History and Class Consciousness [HCC].

Hingga kini, umumnya HCC dianggap sebagai sintesis yang tidak stabil dari filsafat Hegel, Neo-Kantian, dan Marx. Ketika muncul di tahun 1923, karya tersebut ditolak oleh para filsuf-aparat yang terhubung dengan perkembangan birokrasi di Rusia dan partai-partai Komintern. Penolakan ini dikarenakan Lukács, sebagaimana pemikir-pemikir semasanya, Trotsky dan Gramsci—merepresentasikan perspektif revolusioner yang semakin termarjinalkan, yang memediasi tendensi ultra-kiri dengan konservatisme. Ini tidak cocok dengan birokrasi Moskow yang berusaha memaksakan kepemimpinannya yang seringkali abstrak dan tidak terhubung dengan gerakan-gerakan kaum pekerja di Eropa.

Tidak kurang dari Grigory Zinoviev sendiri yang menolak Lukács—bersama dengan sekutu dan rekan pemikirnya, Karl Korsch—pada Kongres Kelima Komintern, dengan mengatakan kepada para utusan: “Jika kita mendapatkan sejumlah profesor seperti ini lagi yang memutar-mutarkan teori-teori Marxis, kita akan kalah.”

Sinyal ini dengan cepat dipahami oleh para aparat yang ingin membuktikan diri. Meski nama-nama mereka kebanyakan telah dilupakan, mereka berbicara, dalam kata-kata dari kawan Lukács dan filsuf radikal sejamannya Ernst Bloch, seperti “anjing-anjing tak terdidik.”

Namun sedihnya, proses ini menciptakan sebuah ortodoksi—termasuk di antara mereka yang seharusnya lebih berpengetahuan. Ini diulang kembali oleh Theodor Adorno, dan kemudian oleh pemikir Marxis dan teori kritis yang beragam seperti Althusser, Lucio Coletti, Habermas, Kolakowski, dan yang terkini Axel Honneth. Keseragaman kritik-kritik ini—termasuk tuduhan bahwa Lukács hendak mereduksi semua objektivitas pada subjektivitas, dan dalam beberapa kasus bahwa ia mendukung versi Leninisme yang otoritarian—adalah sedemikian mengherankannya sehingga Lukács tua sendiri akan mengulanginya, dalam bentuk otokritik.

Banyak hal mulai berubah. Beberapa tahun belakangan, untuk pertama kalinya, wacana yang dominan tentang Lukács mulai bergeser. Jarak seratus tahun mungkin membantu. Bebas dari prasangka dan agenda politik yang dibentuk oleh seabad pemisahan Barat yang liberal dan Blok Timur yang otoritarian, sekarang adalah masa yang menarik untuk membaca kembali Lukács.

Siapapun yang melakukannya dengan mata yang jernih akan menemukan gagasan-gagasan yang memacu pemikiran dan yang secara menakjubkan relevan untuk zaman ini (bersambung).***


Esai ini adalah versi pendek dan revisi dari artikel yang diterbitkan di jacobinmag.org. Artikel tersebut bisa ditemukan di tautan ini.


Daniel Lopez adalah Contributing Editor di Jacobin Magazine dan Honorary Research Associate di Thesis Eleven Forum for Social and Political Theory di La Trobe University, Melbourne. Buku pertamanya, Lukács: Praxis and the Absolute terbit pada bulan Oktober 2019.


Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.