Ngaji Das Kapital: Sembilan Buku Pengantar untuk Memahami Ekonomi-Politik Marx

BATJAAN-LIAR-1-DEDE-MULYANTO
Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Deadnauval


Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melalui tangan Balai Poestaka berusaha membendung arus penerbitan buku dan artikel karya para aktivis anti-kapitalis dan anti-kolonialis. Barisan literatur yang berperan besar menyuburkan gerakan politik kelas di Indonesia ini dicap Belanda sebagai “batjaan liar”. Kami mengklaim kembali istilah tersebut untuk sebuah rubrik berisi rekomendasi bacaan yang disusun secara tematik untuk merespons berbagai macam isu.


EKONOMI-POLITIK boleh diartikan sebagai sistem hubungan-hubungan antar orang bertalian dengan urusan produksi, sirkulasi, dan konsumsi komoditas yang tersusun padu sedemikian rupa, sehingga syarat-syarat material kehidupan masyarakat dapat terpenuhi. Bahwa orang-orang—dengan satu atau lain cara—terhubung satu sama lain lewat komoditas, ialah sebuah fakta kasat mata.

Hari ini, nyaris tak satu pun komponen material pemenuh kebutuhan hidup kita yang bukan komoditas. Pangan dan pakaian, perumahan dan transportasi, layanan kesehatan dan pendidikan, bahkan tenaga kerja orang, semuanya mesti dibeli. Supaya bisa membelinya, kita mesti menjual tenaga kerja kita—kapasitas manual-mental kita untuk mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain—kepada orang lain, atau membeli sejumlah tenaga kerja orang lain, yang pada gilirannya kita dimanfaatkan dalam kegiatan produksi komoditas supaya kita bisa dapat uang lebih banyak.

Untuk hidup normal saat ini, nyaris tidak ada pilihan alternatif selain menjual-atau-membeli tenaga kerja dan terlibat dalam produksi, sirkulasi, dan konsumsi komoditas. Mengumpulkan orang-orang bersenjata, datangi sebuah desa, dan perbudak penduduknya untuk bekerja di ladang dan bengkel yang kita punya, sudah bukan cara memproduksi kebutuhan material yang normal.

Begitu pula kalau kita jadikan orang-orang lain sebagai hamba yang menggarap lahan kita, dengan dalih itu sudah kodrat ilahi. Satu-satunya cara yang masih mungkin—di bawah kapitalisme—adalah menukar tenaga kerja kita sendiri dengan membuat sesuatu yang bisa ditukar dengan sejumlah tertentu uang. Dengan uang itu, kita beli kebutuhan hidup.

Di balik fakta kasat mata bahwa setiap orang mesti memenuhi kebutuhan materialnya dengan terlibat dalam produksi, sirkulasi, dan konsumsi komoditas, ada realitas tak kasat mata yang mengorganisir—baik disadari ataupun tidak, bahkan memaksa—orang-orang melakukan ini-itu sesuai tujuan yang dipatok di realitas. Realitas ini semacam mekanisme, cara kerja, atau proses yang saking objektifnya—maksudnya, terlepas dari kita suka atau tidak, tahu atau tidak, ia sudah sedemikian adanya—membuat kita sebagai individu mau-tidak-mau mesti mengikutinya.

Realitas itu namanya kapitalisme. Dan untuk itu lahirlah ilmu yang mempelajarinya: ekonomi-politik.


Sebuah Pengantar untuk Pengantar Memahami Marx

Salah satu kitab yang ditulis khusus buat mempelajari cara kerja kapitalisme adalah Das Kapital (1867), karangan almarhum Karl Marx. Kitab ini terbit dibagi menjadi tiga jilid. Satu jilid terbit saat penulisnya masih hidup, sedangkan dua jilid lainnya diterbitkan setelah beliau wafat dan diangkat ke surga.

Mungkin sudah jutaan orang membaca, atau paling tidak berusaha membaca, dan mempelajari kandungan Das Kapital sejak jilid pertamanya terbit. Tentu macam-macam alasan kenapa orang sudi membaca teks tebal dari abad ke-19 yang konon pelik itu. Beberapa orang terdorong mempelajarinya guna mengukuhkan fikih politik anti-kapitalisme. Ada pula yang ingin memahami cara kerja kapitalisme sebagai objek kajian akademik saja. Beberapa lainnya, membaca sekadar buat mengisi waktu luang karena tidak ada unit kegiatan mahasiswa di kampus yang dianggap cocok dengan keinginan hati nurani. Atau, ada juga yang membacanya karena kebetulan kawannya membaca dan tak mau kalah.

Saya sendiri pernah mengorganisir kegiatan membaca bersama jilid pertama kitab itu. Pesertanya kebanyakan mahasiswa. Beberapa tahun kegiatan itu berlangsung, saya bisa tarik hikmah sebagai berikut. Tidak semua belasan peserta kelompok baca yang ikut pada pertemuan pertama tetap bertahan hingga bab terakhir jilid itu. Tapi, setelah pertemuan ke-5 atau ke-6 biasanya jumlahnya akan bertahan hingga akhir. Itu artinya, hanya 3 sampai 5 orang saja

Saya pikir mungkin alasannya perkara teknis: mengorganisir kursus yang terlampau berat buat mahasiswa yang banyak tugas dan aktivitas. Bayangkan saja, setiap orang wajib membaca bab per bab Das Kapital, lalu meringkaskan, menuliskan, dan memaparkan pemahamannya bergiliran secara lisan. Setelah itu, pemapar musti pula mempertahankan pemahamannya dari cecaran pertanyaan yang saya ajukan.

Saya pikir lagi, mungkin sebagian besar peserta mundur karena kecenderungan psikologis mahasiswa saat ini yang selalu ingin yang serba praktis. Padahal, membaca Das Kapital tak ada urusannya dengan hal-hal praktis. Ditambah cara belajarnya yang serupa santri kalong belajar kitab kuning. Buat sebagian orang yang lebih suka disuapi ‘kebenaran’, niscaya tak ada faedah yang bisa didapat dari berpikir.

Setelah kelas selesai pada bulan yang sama ketika kelas dimulai tahun sebelumnya, saya menemukan musababnya: bukan pada psikologis peserta, namun di dalam Das Kapital itu sendiri. Selidik punya selidik, pertemuan kedua hingga keenam membahas kategori/konsep yang memang paling pelik dari sekian banyak kategori di batang tubuh Das Kapital jilid satu.Terutama di pertemuan kedua dan ketiga, tentang kategori paling pokok: komoditas dan nilai. Paparan Marx tentang komoditas dan nilai memang abstraknya tingkat dewa. Menurut penulis filsafat, di sinilah konon bayang-bayang Hegel paling kuat pengaruhnya isi kepala almarhum Marx.

Pantesan, pikir saya, tidak semua peserta bertahan karena mereka pikir semua bab Das Kapital jilid satu isinya sama tingkat dewanya dengan bab-bab tentang komoditas dan nilai ini.

Das Kapital berakar di pemikiran abad ke-19 dan, karena itu, tumbuh dari tradisi intelektual yang agak asing buat pembaca abad ke-21. Di banyak kesempatan, Marx mengkritik gagasan-gagasan pendahulu dan sejamannya sembari membangun gagasannya sendiri yang sangat bercorak abad ke-19.

Yang paling parah, Das Kapital itu boleh dibilang semacam sistem, sebuah semesta mental padu, ketat, dan istiqomah. Satu bagian bertaut erat dengan bagian berikutnya. Jika kita melewati satu bagian, niscaya akan meluputkan gambar besar yang sedang Marx lukiskan. Atau, boleh juga dibilang, pemahaman atas bagian ditentukan pemahaman atas keseluruhannya dahulu. Tapi, begitu semesta itu dimasuki, pemahaman atas teks-teks dimudahkan, meski ambang masuknya memang tidak gampang dilewati.

Salah satu sumber kesulitan itu ada pada susunan perawian [penulisan, ed] Das Kapital sendiri, yang konon merupakan watak pemikiran Marx secara umum. Biasanya, perawian teoritik itu berangkat dari yang abstrak ke yang konkret (atau dari tingkat abstraksi lebih tinggi ke yang lebih rendah), dari watak paling hakiki produksi kapitalis yang paling tak kasat mata ke penampakan terindranya operasi kapitalisme.

Hal-ihwal yang hakiki biasanya sedikit tapi abstraknya bukan kepalang. Hakikat ini meliputi kenyataan begitu luas, lintas ruang-waktu, dan tak kasat mata pula. Karena tak kasat mata, hakikat-hakikat ini cuma bisa ditangkap pikiran.

Nah, di dalam Das Kapital, banyak konsep[i] dan kategori[ii] yang Marx tulis untuk mewadahi hakikat-hakikat realitas nan abstrak itu, rupanya sudah nongol di paragraf-paragraf pertama.

Namun, selain membaca Das Kapital, ada beberapa buku lainnya yang saya anggap bisa menjadi pengantar dan memudahkan memahami pemikiran ekonomi-politik Karl Marx. Saya akan urutkan dari yang paling sulit ke yang paling mudah dibaca. Berikut daftarnya.


  1. The Limits to capital (1982)

Mungkin, ribuan buku sudah orang tulis tentang kitab Das Kapital. Macam-macam pula jenisnya. Semisal, ada satu buku yang berisi tafsir Das Kapital, namun isinya sama peliknya dengan kitab yang ditafsirkan. Salah satunya buku The Limits to Capital, karangan sarjana dari Amerika Serikat, David Harvey. Untuk pembaca awam yang baru pertama kali kenalan dengan pemikiran Karl Marx secara umum, buku ini masuk golongan: “enggak usah dibaca!”

Ada beberapa alasan. Selain Anda perlu waktu yang sama banyaknya dengan waktu yang diperlukan untuk baca Das Kapital sendiri, sejak bagian pendahuluan, Anda juga akan dihajar berbagai macam istilah atau konsep yang sama peliknya ketika Anda membaca Das Kapital.

Ketika Anda memaksa terus lanjut membacanya sampai akhir, dijamin Anda akan bonyok tanpa dapat banyak faedah.

Percayalah.


2. Seventeen Contradictions and the Ends of Capitalism (2015)


Alih-alih buku nomor satu yang terlalu ‘sekolahan’ dan ‘akademis’, mungkin buku Harvey lainnya, Seventeen Contradictions and the Ends of Capitalism, bisa dijadikan bahan bacaan buat pemula. Dalam buku ini, konsep-konsep pokok dalam Das Kapital dan pertautannya, satu sama lain disajikan dengan contoh-contoh gampang dipahami.

Namun, ada satu kekurangan dalam buku ini yang musti pembaca waspadai, yaitu tawaran fikih politik di bab terakhirnya. Untuk para Marxis degil, yang yakin betul kapitalisme mustahil jadi “sistem lebih baik” tanpa revolusi, tawaran Harvey di bab itu berwatak reformis. Pasalnya sistem kapitalisme digambarkan secara teoritis bakal lestari. Kalau pun runtuh, ia hanya akan runtuh karena dirinya sendiri, tanpa campur tangan orang-orang seperti saya, Anda, dan jutaan orang yang dieksploitasi di dalamnya.

Bau-bau fatalisme ini memang belum tercium sebelum pembaca sampai ke bab terakhir. Oleh karena itu, kalau mau membacanya, alangkah baiknya berhenti sebelum sampai bab terakhir. Tapi, secara umum buku ini masuk golongan: Yang Bisa Dibaca!”


3. Marx’s ‘Capital’ (2004)

4. A Guide to Marx’s Capital, Vol. I-III (2012)

5. A Guide to Marx’s Capital (1984)

Selain buku nomor dua, saya menemukan tiga buku lainnya yang menawarkan fikih politik revolusioner di sela-sela pembahasannya, yang bisa masuk ke golongan: “yang bisa dibaca!”. Saya anggap tiga buku ini bisa jadi bekal membaca Das Kapital. Nawaitu si penulis-penulisnya memang agar orang lebih mudah ketika membaca Das Kapital secara langsung.

Buku nomor tiga adalah karya duo akademisi-cum-aktivis Ben Fine dan Alfredo Saad-Filho. Sedangkan buku nomor empat dan lima, kendati judulnya hampir serupa, namun lahir dari orang yang berbeda. Nomor empat adalah karya Kenneth Smith dan nomor lima merupakan karangan Anthony Brewer.



Menurut saya, tiga buku ini punya satu kesamaan: sama-sama memperkenalkan konsep dan kategori yang terdapat di dalam semua jilid Das Kapital. Tiga buku ini juga bisa mengurai semua konsep dan kategori tersebut dengan rinci dan seksama, sembari mengambil contoh dari dunia abad ke-20 dan ke-21, sehingga diharapkan mudah dijangkau oleh otak-otak kelahiran abad itu.

Jika mau perinci lagi berdasarkan tingkat kesulitannya: buku nomor tiga paling mudah dibaca, nomor empat sedang-sedang saja, dan nomor lima paling sulit dibaca.


6. Marx’s Das Kapital for Beginners (2012)

Kalau ternyata ketiga buku di atas terasa masih berat, mungkin ada baiknya Anda baca saja buku tipis nomor enam ini. Buku ini adalah karangan Michael Wayne, dengan ilustrasi bikinan Sungyoon Choi. Di dalam buku ini, ragam konsep dan kategori pokok seperti “komoditas”, “pertukaran komoditas”, “sirkulasi”, “nilai”, “kerja”, “reproduksi kapital”, “krisis”, dan “fetis komoditas”, diulas secara ringkas dan sangat-sangat mudah dibaca.

Namun, seperti semua buku for beginners lainnya, keterbatasan buku ini justru terletak pada dalam kesederhanaan periannya. Bisa-bisa kita terjebak dalam prasangka yang ujungnya membuat kita berdosa, karena takabur merasa sudah memahami padahal belum. Kalau pun hendak membaca buku ini, Anda mesti pegang wanti-wanti dan menempatkannya sekadar sebagai keset sebelum kita masuk rumah.


7. Outline of Marx’s Capital Volume One (1979)

Nah, kalau buku nomor tujuh ini adalah kegemaran saya sampai sekarang. Buku ini adalah karya Raya Dunayevskaya. Menurut saya, buku ini layaknya modul kuliah: isinya disusun berdasarkan tema-tema seperti termuat di bagian atau bab-bab Das Kapital jilid satu secara berurutan. Untuk pembaca awal, atau yang perlu panduan langsung ketika sedang membaca jilid satu Das Kapital, buku ini gampang dibaca dan mengarahkan.

Memang buku ini masih di taraf ustadz, belum kyai. Tapi, di pesantren mana pun, sebelum belajar langsung ke kyai, kita belajar dulu sama ustadz, kan?


8. Genealogi Kapitalisme (2012)


9. Asal-Usul Kekayaan (2013)

Kalau Anda masih saja merasa kesulitan untuk memahami Das Kapital lewat tujuh buku berbahasa Inggris di atas, baiklah, saya rekomendasikan dua buku terakhir yang lahir dari ‘karya anak bangsa’. Nomor delapan adalah karya saya sendiri. Setidaknya, buku ini relatif lebih gampang dibaca dan dipahami, kendati tidak sementereng buku nomor sembilan, karyanya Martin Suryajaya. Kalau nomor sembilan, sih, paparannya sudah tingkat dewa!***


Dede Mulyanto adalah dosen Universitas Padjajaran, Bandung


Proses penyuntingan Batjaan Liar dibantu oleh Haris Prabowo, jurnalis Tirto.id dan pembaca yang gigih


Catatan Akhir

[i]Kalau seseorang memahami sesuatu, itu artinya seseorang itu punya gambaran mental tentangnya. Inilah konsep (dari Latin conceptus). Kalau cuma buat diri sendiri, konsep saja cukup. Tapi kalau hendak dikomunikasikan kepada orang lain, konsep mesti dibungkus ke dalam bahasa. Bungkus bahasa dari konsep ialah istilah, kata atau sejumlah kata, yang dianggap mewakili konsep.

[ii]Kalau konsep ialah hubungan benak seseorang dengan realitas, kategori ialah konsep dalam relasinya dengan konsep-konsep lain di dalam semesta pikiran seseorang tentang sesuatu. Hubungan antarkategori disebut relasi konseptual. Relasi ini bisa langsung atau bertingkat. Sehimpunan relasi-relasi konseptuall ini lantas membentuk semacam susunan padu, suatu struktur.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus