
Black Panther
Inilah yang membuat BPP tak sekadar gerakan politik identitas; mereka berangkat dari tujuan substantif memperjuangkan hajat hidup manusia lewat identitas sosial sebagai metode pemersatu barisan perjuangan rakyat.

Inilah yang membuat BPP tak sekadar gerakan politik identitas; mereka berangkat dari tujuan substantif memperjuangkan hajat hidup manusia lewat identitas sosial sebagai metode pemersatu barisan perjuangan rakyat.

Ritual kampung seperti Temmu Taung di Sulsel merawat kerentanan rakyat kecil sekaligus memperkuat posisi kelas atas untuk terus mengakumulasi modal.
Pertengahan 1990an, ketika mengunjungi sebuah desa di pedalaman Sulawesi, yang berbatasan dengan sebuah kawasan konservasi, saya ikut mendengar pengarahan seorang Kepala Desa kepada warganya di Balai Pertemuan desa. Kata yang keluar berulang dari Pak Kepala Desa adalah ‘pembangunan berkelanjutan.’ Saat itu, dia mengajak warganya harus mulai menerapkan gagasan itu. Giliran tanya jawab, seorang lelaki tua bertanya, apa arti kosa kata itu. Dengan jujur, sang Kepala Desa mengakui bahwa dia sendiri juga tidak tahu pengertiannya. Tetapi, dengan semangat dia bilang, tidak penting pengertian “pembangunan berkelanjutan” dipercakapkan, yang perlu pelaksanaannya, karena merupakan program pemerintah. ‘Saya juga tidak tahu artinya, tetapi itu yang diulang-ulang Pak Bupati dalam pertemuan dengan seluruh kepala desa minggu yang lalu.’ Kira-kira begitu komentarnya menanggapi sang penanya.

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) Semua manusia menurut saya lebih sepakat mengenai apa yang baik dan apa yang buruk daripada mengenai mengapa hal-hal tersebut baik

Kredit ilustrasi: sway.qa SEPERTI dicatat dalam sejarah Islam, pada usianya yang ke 40, Rasulullah semakin sering melakukan uzlah (mengasingkan diri) dari kehidupan publik untuk memperbanyak

Kredit foto: Bangsa Online SAMBUTAN “baik” Jokowi atas rencana restrukturisasi dan revisi UU TNI sebagai solusi dari jalan buntu surplus perwira menengah, dengan membuka pos-pos

Kredit ilustrasi: Russia Beyond PANKAJ Mishra. Dunia Barat, terutama sirkuit kebudayaan Anglo-Saxon, mengenalnya karena esai-esai dan bukunya yang kritis tentang anti-kolonialisme, pertemuan Barat dan Timur,

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) TANGGAL 1 Juni kemarin, kita memperingati hari kelahiran Pancasila. Banyak yang membicarakan mengenai Pancasila. Yang paling ramai, setahu saya,

DALAM tulisan kali ini saya akan memperkenalkan pembaca pada sosiobiologi. Di sini belum akan ada ulasan kritis apalagi membongkar logika gerakannya, seperti yang Martin lakukan
Pendahuluan BEBERAPA hari lalu, perhatian publik kita banyak tertuju pada proses penggusuran warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur. Pro dan kontra muncul dalam opini publik

KALI ini kita akan bicara tentang zombie, khususnya tentang zombie dalam Marxisme, dan tantangan yang ditimbulkannya. Zombie yang kita maksud bukanlah “zombie supernatural” seperti dalam
AKSI BUNGKAM dan pembiaran pemerintah pusat terhadap pembantaian Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, rupanya mulai ditiru pemerintah lokal. Bukannya mengutuk dan mengusut tindak kekerasan
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.