Marx versus Zombie

Print Friendly, PDF & Email

KALI ini kita akan bicara tentang zombie, khususnya tentang zombie dalam Marxisme, dan tantangan yang ditimbulkannya. Zombie yang kita maksud bukanlah “zombie supernatural” seperti dalam film cult classic Night of the Living Dead, gim Plant versus Zombies ataupun lagu Bela Lugosi’s Dead besutan Bauhaus. Zombie yang dimaksud juga bukan “zombie biologis” yang digambarkan sebagai para pengidap virus misterius dalam film World War Z dan telenovela The Walking Dead. Yang kita maksud adalah suatu “zombie filosofis” atau zombie sebagai konsep dalam filsafat akal budi (philosophy of mind).

Ancaman zombie telah lama terbit di cakrawala. Kurang lebih sejak paruh kedua dekade 1990-an. Saya sebut “ancaman” karena keberadaan zombie memang sedikit demi sedikit menggerogoti fondasi filosofis Marxisme—filsafat materialisme. Pangkal soalnya adalah ini: keberadaan zombie membuat materialisme jadi tak mungkin dan bersama dengan itu juga seluruh school of thought yang mendasarkan diri pada materialisme, termasuk Marxisme. Celakanya, sebatas yang saya ketahui, belum ada respon dari kalangan Marxis. Maklum, zombie ini hanya kita temukan dalam relung-relung gelap perdebatan filsafat Analitik kontemporer. Tapi hanya soal waktu sebelum akhirnya zombie ini dilepas ke alam pemikiran secara umum. Kaum Marxis mesti bersiap untuk outbreak itu.

***

Marilah kita tinggalkan drama dan mulai berpikir tenang. “Ancaman zombie” pada intinya adalah sehimpun hipotesis yang diajukan oleh seorang profesor filsafat akal budi paling cemerlang dewasa ini sekaligus vokalis band Zombie Blues, David Chalmers. Pada tahun 1996, profesor yang mirip Steve Harris Iron Maiden ini menerbitkan buku berjudul The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. Di dalamnya, ia merumuskan apa yang disebut sebagai zombie dalam pengertian filosofis. Berangkat dari riset-riset filsafat akal budi dan neurosains sejak era 1970-an (antara lain artikel Thomas Nagel, What is it like to be a bat?), Chalmers mengartikan zombie sebagai entitas yang secara fisik identik dengan manusia tetapi tak memiliki apa yang disebut qualia atau “kesadaran fenomenal”. Qualia adalah segi subjektif dari pengalaman. Manusia dan robot sama-sama bisa memecahkan batu dengan martil. Tapi hanya manusia yang tahu “seperti apa rasanya” (what is it like) memecahkan batu dengan martil. Dengan kata lain, hanya dalam manusia dan binatang lah segi subjektif pengalaman itu ada. Zombie, dalam konstruksi Chalmers dan para filsuf akal budi, adalah makhluk seperti kita tetapi minus segi what is it like itu. Zombie bisa seakan-akan “merasa” sedih, padahal sebetulnya ia hanya memproses fakta yang ia terima dan menerapkan kategori umum tentang “kesedihan” padanya. Ia bisa mengkategorikan dirinya sebagai “sedang sedih” tanpa betul-betul merasakan kesedihan.

Soalnya tak berhenti sampai situ. Bermodalkan definisi zombie di muka, Chalmers mengajukan serangkaian salvo teoretis yang kemudian dikenal sebagai Argumen Zombie yang fungsinya adalah untuk menolak materialisme (atau apa yang dalam tradisi Analitik disebut “fisikalisme”). Intinya adalah ini:

  1. Jika keberadaan zombie mungkin secara epistemologis, maka keberadaannya mungkin secara metafisis
  2. Jika keberadaan zombie mungkin secara metafisis, maka fisikalisme keliru
  3. Keberadaan zombie mungkin secara epistemologis
  4. Maka, materialisme keliru

Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi sebelum kita bisa mengapresiasi keindahan argumen ini. Yang pertama adalah konstruksi Chalmers tentang materialisme. Menurut konvensi di kalangan filsuf Analitik kontemporer, materialisme atau fisikalisme merupakan pandangan bahwa sifat-sifat fisik meniscayakan sifat-sifat mental. Yang dimaksud “sifat fisik” adalah sifat seperti memiliki massa sekian, gaya sekian, energi sekian, dan seterusnya. Intinya, sifat-sifat yang diteliti dalam ilmu fisika (dan ilmu-ilmu alam yang bertumpu padanya). Sementara “sifat mental” adalah sifat seperti sedih, gembira, jeri, dan sifat-sifat psikologis lainnya. Dengan kata lain, materialisme menyatakan bahwa sifat-sifat mental dapat sepenuhnya direduksi ke sifat-sifat fisik. Hal ini berlaku baik secara ontologis (seluruh sifat mental dapat disusun dari variasi sifat fisik) maupun epistemologis (seluruh kategori mental dapat dijelaskan kembali hanya dengan menggunakan kategori fisik).

Hal kedua yang perlu diklarifikasi adalah hubungan antara kemungkinan epistemologis dan kemungkinan metafisis. Ini berkenaan dengan logika modal (modal logic), suatu cabang ilmu logika kontemporer yang membahas tentang nilai kebenaran dari proposisi-proposisi tentang kemungkinan dan keniscayaan. Kita berangkat dari definisi-definisi dasar:

  • Kemungkinan epistemologis (modalitas epistemis) berkenaan dengan segala bentuk proposisi yang dapat dipikirkan tanpa menyertakan suatu kontradiksi logis.

Contoh: “gajah bisa terbang”, “H2O adalah racun bagi tubuh manusia”.

  • Kemungkinan metafisis (modalitas metafisis) berkenaan dengan segala bentuk variasi keadaan (state of affairs) yang mungkin secara logis.

Contoh: gajah bisa terbang, H2O adalah racun bagi tubuh manusia.

 

Mudahnya, perbedaan antara kedua jenis kemungkinan itu adalah perbedaan antara sesuatu yang “dapat dipikirkan” dan “mungkin ada”. Kekuatan dan keindahan argumen Chalmers berpijak pada hubungan yang ia postulatkan antara kedua jenis kemungkinan itu. Kunci bekerjanya Argumen Zombie terletak pada anggapan bahwa apa yang dapat dipikirkan itu mungkin ada. Dengan kata lain, ada terowongan yang menghubungkan modalitas epistemis ke modalitas metafisis. Karena kita dapat memikirkan gajah yang bisa terbang, maka gajah yang bisa terbang itu mungkin ada. Terowongan ini juga berlaku secara negatif, yakni untuk membuktikan ketakmungkinan adanya sesuatu berdasarkan ketakmungkinan sesuatu itu untuk dirumuskan secara logis. Karena kita tidak dapat memikirkan persegi yang bulat, maka persegi yang bulat tidak mungkin ada.

Argumen Zombie berangkat dari terowongan semacam itu. Jelas bahwa zombie itu mungkin dipikirkan. “Entitas yang secara fisik identik dengan manusia tetapi tak memiliki kesadaran subjektif” bukanlah proposisi yang menyalahi hukum logika. Tak ada yang kontradiktif dengan proposisi itu, sama halnya seperti proposisi “gajah bisa terbang”. Artinya, zombie dapat dipikirkan. Di sini lah terowongan itu dipakai Chalmers: karena zombie dapat dipikirkan, maka zombie mungkin ada. Berikutnya salvo kedua Chalmers: karena zombie dimungkinkan secara metafisis, maka materialisme keliru. Mengapa bisa begitu? Sudah kita klarifikasi bahwa materialisme dalam anggapan Chalmers mensyaratkan determinasi niscaya dari sifat-sifat fisik pada sifat-sifat mental. Perhatikan kata “niscaya” di situ. Dalam logika modal, sesuatu dikatakan niscaya bila hal itu berlaku di seluruh dunia yang mungkin (in all possible worlds). Mengatakan bahwa “sifat-sifat fisik tertentu meniscayakan adanya sifat-sifat mental tertentu” sama artinya dengan mengatakan bahwa “tidak mungkin ada sifat mental X tanpa adanya sifat fisik X” sekaligus bahwa “tidak mungkin tiada sifat mental X apabila ada sifat fisik X”. Di sinilah masalahnya. Agar benar, materialisme mesti sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan adanya himpunan sifat fisik yang tidak menghasilkan sifat mental apapun. Dengan kata lain, agar materialisme benar, zombie seharusnya tidak mungkin ada. Nah, di sini pukulan finalnya diberikan Chalmers: ternyata zombie mungkin ada (sebab ia mungkin dipikirkan). Ergo, materialisme keliru.

Akibat selanjutnya, yang tidak dipikirkan Chalmers, kita bisa simpulkan sendiri: kalau materialisme saja keliru, apalagi Marxisme yang berdiri di atasnya.

***

Silakan bikin teh atau kopi dulu; yang mau merokok silakan merokok. Kita nikmati terlebih dahulu keindahan komposisi Argumen Zombie karangan Chalmers ini. Jangan buru-buru menyanggahnya. Kita akui dulu bahwa argumen ini cakeup. Ketika saya pertama kali menjumpai argumen ini beberapa tahun yang lalu, saya terpesona dengan konstruksi argumen yang kokoh, rapi dan efisien ini. Dalam empat langkah saja ia bisa menekuk materialisme. Saya kagum pada kerapian kerja filsafat orang Analitik ini: semuanya jelas kategorinya, semuanya ada penjelasannya, semua katanya akurat. Mungkin terasa kering bagi sebagian orang yang terbiasa berfilsafat sambil menulis puisi lirik. Tapi ya sudahlah, setiap orang punya caranya sendiri. Baiklah, mari kita mulai bekerja menyanggahnya.

Dalam menyanggah argumen Chalmers, ada baiknya kita identifikasi dulu beberapa sudut yang bisa kita pakai untuk mempermasalahkannya. Ada tiga rute utama yang mungkin kita ambil untuk menyanggah Argumen Zombie:

  1. Kita menolak anggapan bahwa zombie mungkin dipikirkan secara logis
  2. Kita menolak anggapan bahwa apa yang dapat dipikirkan itu mungkin ada
  3. Kita menolak anggapan bahwa materialisme mensyaratkan peniscayaan sifat-sifat fisik terhadap sifat-sifat mental

Mari kita periksa satu per satu kemungkinan-kemungkinannya. Rute pertama adalah sehimpun argumen yang pada intinya menyatakan bahwa tidak mungkin kita memisahkan sifat mental dari sifat fisik manusia tanpa membuat pernyataan kita jadi kontradiktif. Manusia adalah kesatuan psiko-biologis, sehingga tidak mungkin kita menyalin struktur biologisnya tanpa menyalin juga struktur psikologisnya. Problem dari rute ini adalah bahwa di situ ada kecenderungan begging the question. Sanggahan itu baru bisa dilayangkan kalau kita sudah mengasumsikan kebenaran materialisme bahwa struktur fisik meniscayakan struktur mental—sesuatu yang justru sedang diperkarakan oleh Argumen Zombie. Kebuntuan di rute ini masih dapat diretas dengan mempersoalkan distingsi antara apa yang logis dan kontradiktif melalui stratifikasi ranah logika yang lumayan ribet (pernah saya jajal sedikit di artikel Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa). Rute kedua adalah sehimpun argumen yang intinya mempersoalkan proses penyimpulan dari fakta epistemik ke fakta metafisis. Di sini, orang biasanya akan terpeleset ke argumen Bhaskarian bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu merupakan keadaan yang sesungguhnya di kenyataan. Saya sebut “terpeleset” sebab duduk soalnya lain sama sekali. Yang diperkarakan Chalmers bukanlah kesesatan antirealisme dalam epistemologi. Antirealisme atau pandangan bahwa kenyataan hanyalah sedikit/banyak konstruksi pikiran cuma bekerja pada ranah fakta. Begitu kita masuk pada ranah kemungkinan, soalnya jadi agak kabur. Di sini kita dituntut untuk berpikir dalam kerangka dunia-dunia yang mungkin (dengan hukum fisik yang sepenuhnya lain). Bisa jadi apa yang dapat dipikirkan itu memang mungkin ada di suatu dunia lain. Kebuntuan rute ini dapat diretas dengan membongkar argumen terkait “semantik dua dimensi” yang rumitnya ngeri-ngeri sedap. Rute ketiga adalah sehimpun argumen yang mencoba merampingkan materialisme sehingga lolos dari terjangan Argumen Zombie. Rute inilah yang akan kita jajaki dalam artikel ini.

Kita perlu membedakan dua jenis materialisme. Sebut saja materialisme metafisis dan materialisme alami. Materialisme metafisis adalah materialisme yang disasar Chalmers, yakni pandangan bahwa, di seluruh dunia yang mungkin, sifat-sifat fisik meniscayakan sifat-sifat mental. Sedang yang saya maksud materialisme alami adalah pandangan bahwa, dalam dunia aktual kita ini, setiap sifat fisik meniscayakan sifat mental. Tentu saja, pengertian “peniscayaan” di sini lebih ramping; ia hanya berlaku dalam rentang dunia aktual kita saja, tidak merambah ke dunia-dunia lain yang mungkin. Materialisme yang dibutuhkan oleh Marxisme, menurut hemat saya, adalah materialisme alami semacam ini. Marxisme tidak membutuhkan materialisme metafisis yang begitu ekstrem. Toh kita tidak hendak membuktikan kebenaran materialisme historis dan perjuangan kelas di dunia yang mungkin di mana tidak ada makhluk hidup selain ganggang biru.

Memanfaatkan distingsi itu di tangan, kita akan ikuti Argumen Zombie tapi dengan sentuhan kecil yang membuatnya berbelok arah dan meleset dari materialisme Marxis. Ini argumennya:

  1. Jika zombie dapat dipikirkan, maka ia mungkin ada
  2. Jika zombie mungkin ada, maka tidak benar bahwa, di semua dunia yang mungkin, seluruh sifat fisik meniscayakan sifat mental
  3. Jika zombie mungkin ada, maka adalah benar bahwa di sebagian dunia yang mungkin—sebut saja dunia-z—tidak semua sifat fisik meniscayakan sifat mental
  4. Jika zombie mungkin ada, maka adalah benar bahwa di sebagian dunia yang mungkin—sebut saja dunia-a—semua sifat fisik meniscayakan sifat mental
  5. Maka, apabila zombie mungkin ada, tiga kesimpulan berlaku: (1) materialisme metafisis keliru; (2) anti-materialisme berlaku di dunia-z; (3) materialisme alami berlaku di dunia-a

Di sini kita melihat titik terang, rute pelarian diri dari gempuran Argumen Zombie. Persoalannya kemudian adalah memastikan apakah dunia aktual kita ini merupakan tipe dunia-z atau tipe dunia-a? Sebelum hal itu bisa dipastikan, posisi materialis dan anti-materialis masih remis.

Argumen anti-materialisme memang belum sepenuhnya dipatahkan, tetapi setidaknya untuk sementara waktu Marxisme aman dari wabah zombie. Sanggahan yang lebih komprehensif terhadap anti-materialisme dan justifikasi yang lebih solid bagi materialisme mensyaratkan perombakan ulang atas seluruh kerangka filsafat: membongkar konsep kontradiksi dalam ilmu logika (melalui stratifikasi atas logical spaces) dan kerangka semantik logika modal matra-dua. Tampaknya jalan masih panjang (dan menyenangkan!).***

 

18 Juli 2016


comments powered by Disqus