
Kiri dan Ahli
Judul Buku: Teks-teks Kunci Filsafat Marx Penulis: Karl Marx Penyunting & Penerjemah: Martin Suryajaya Penerbit: Resist Book Tahun terbit: 2016 Jumlah hlm.: 198 + x

Judul Buku: Teks-teks Kunci Filsafat Marx Penulis: Karl Marx Penyunting & Penerjemah: Martin Suryajaya Penerbit: Resist Book Tahun terbit: 2016 Jumlah hlm.: 198 + x

“Akan tetapi, jika sesuatu yang begitu besarnya seperti Bumi ini berputar satu kali sehari, pastilah ia akan bergerak begitu cepatnya. Semua yang ia ketahui pasti
Who control the past control the future, Who control the present, control the past. ( George Orwell ) DARI pelajaran sejarah kita menjadi maklum, betapa
JURNAL Socialist Register edisi 2011, memilih judul “The Crisis This Time”, menanggapi krisis kapitalisme yang meledak di Amerika Serikat (AS) tahun 2007 dan efek bola saljunya ke belahan dunia lain hingga sekarang.1 Leo Panitch dan Sam Gindin,2 dalam pengantar untuk jurnal itu membawa pembaca mengingat peristiwa lebih 150 tahun lalu di New York. Saat itu, bangkrutnya “Ohio Life Insurance Company” menjadi pemicu “Krisis Besar 1857-8.”
Ketika itu, seperti diingatkan Panitch dan Gindin, Karl Marx berusaha mengerti krisis tersebut dan tiba pada kesimpulan bahwa pemulihan krisis kemungkinan akan dilakukan melalui konsolidasi kapital. Di antaranya dengan ekspor kapital dari Eropa ke wilayah-wilayah koloni, khususnya dalam kasus ini adalah industri-industri Inggris yang merajai akumulasi kapital secara global saat itu. Langkah ini memungkinkan akumulasi kapital kembali ke jalannya, tetapi dalam waktu yang sama akan kembali menciptakan kontradiksi dalam sistem ini. Krisis akan datang lagi.3 Marx benar, hanya dalam beberapa dekade setelah kematiannya krisis berulang, pada 1890an, 1907, dan akhir 1920an/1930an.

DALAM lima tulisan terakhir kita telah mendiskusikan perihal pergerakan benda-benda langit kasat mata dan mengenai filsafat Aristoteles yang mendasari model geosentris. Dari pengamatan-pengamatan benda-benda langit

Kredit foto: Megapolitan Kompas إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ
Kata Pengantar untuk IndoPROGRESS Edisi Cetak II IJINKAN saya mengawali catatan ini dengan sebuah pengakuan tentang keterbatasan. Saya bukan pembaca tetap IndoPROGRESS. Beberapa tulisan dari jurnal ini

Kredit foto: Wrong Kind of Green SATU dimensi yang tidak saya suka dari teori-teori liberalisme ekonomi adalah dimensi ketimpangan (inequality) yang mengakar dan tak
Islamophobia, demikian para para ahli mendefinisikan perlakuan diskriminasi dan rasisme terhadap Islam ini, bekerja di dua level: level institusional dan individual. Secara institusional Islamophobia mewujud pada kebijakan polisi yang melakukan tindakan pengawasan (surveillance) terhadap individu-individu maupun kelompok-kelompok muslim, baik di kampus maupun di lingkungan tempat tinggalnya; infiltrasi intelijen oleh FBI terhadap individu, keluarga, maupun organisasi Islam yang diduga memiliki jaringan dengan kelompok teroris luar negeri; proses pengadilan yang bertentangan dengan konsitutisi terhadap terduga teroris; penelusuran aliran keuangan individu dan kelompok-kelompok Muslim, serta penggambaran media (media profiling) yang sangat bias secara intensif dan sistematis pada tingkat nasional. Sementara itu, secara individual warga Muslim juga mengalami diskriminasi, mulai dari caci-maki (hate speech) hingga tindakan pemukulan, pengrusakan masjid, dan penembakan yang berujung kematian.

APA yang langsung terbayang ketika anda mendengar kata ‘liberal’ atau ‘liberalisme?’ Apakah Anda langsung mengidentikkannya dengan sesuatu yang berhubungan dengan kebebasan? Atau sesuatu yang berhubungan dengan pluralisme? Atau mungkin dengan kelompok tertentu? Apakah anda juga langsung mempertentangkannya dengan hal lain?

Sumber ilustrasi: Akkadium.com LESBIAN, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) atau orientasi seksual yang dianggap “menyimpang” tersebut akhir-akhir ini marak diperbincangkan di Indonesia. Tidak hanya

Egosentrisme yang muncul dalam bentuk mengorbankan individu lainnya demi ibadah di masjid pada saat pandemi adalah langkah yang memberangus kesakralan Islam
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.