Pancasila dan Alam: Kembali Ke Pidato 1 Juni

Tanggapan Atas Muhammad Unies Ananda Raja

 

APA jadinya jika berbicara Pancasila tapi tak jeli dalam melihat Pancasila itu sendiri? Barangkali, sekali lagi barangkali, itulah yang dilakukan oleh bung Muhammad Unies Ananda Raja. Dalam tulisannya yang berjudul Pancasila dan Alam, ia mempersoalkan dan menyatakan Pancasila bukanlah yang terbaik dan—mengikuti Rocky Gerung—belum selesai. Kesimpulan ini diambil Unies, karena dalam Pancasila tidak memuat kesadaran untuk merawat alam. Hal ini sebagaimana yang dapat dilihat dari paragraf berikut:

‘[…]Apakah Pancasila punya jawaban atas segala permasalahan saat ini? Apakah Pancasila, seperti yang diucapkan banyak orang, adalah yang terbaik? Di sini saya harus menyatakan: tidak. Menurut saya, ada satu hal mendasar yang terlewat dalam Pancasila. Hal tersebut ialah kesadaran akan tanggungjawab merawat alam.

Jika kita amati, kelima sila dalam Pancasila tak ada satu pun yang menyebutkan alam, bahkan satu kata pun.”

Pertanyaan yang layak diajukan kepada Unies adalah, benarkah dalam Pancasila tidak memuat sama sekali kesadaran untuk merawat alam, sebaimana yang dituduhkannya? Pertanyaan ini harus dijawab, karena via argumen ini, ia membangun kesimpulan bahwa Pancasila bukanlah yang terbaik dan belum selesai. Artinya, dapat dikatakan juga, pertanyaan ini akan membawa kita pada diskusi yang lebih fundamental lagi—seperti yang juga digelisahkan, tapi sekaligus dijawab, sendiri oleh Unies: Apakah Pancasila punya jawaban atas segala permasalahan saat ini? Apakah Pancasila seperti yang diucapkan banyak orang, adalah yang terbaik?

Sebelum menjawab pertanyaan di muka, untuk membuktikan bahwa Unies kurang jeli, saya ingin mengapresiasi dulu keberaniannya untuk mempertanyakan dan mengkritik Pancasila. Apalagi, dengan melihat posisinya yang merupakan salah satu mahasiswa dari Universitas yang mendaku diri sebagai Kampus Pancasila: Universitas Gadjah Mada (UGM). Hal itu ditambah lagi, dengan lebih khusus, ia adalah mahasiswa UGM yang mengambil Fakultas yang paling getol mengotak-atik Pancasila: Fakultas Filsafat.

Muhammad Unies Ananda Raja adalah generasi yang mesti disambut. Di tengah kampusnya hanya menjadikan Pancasila sebagai euforia, kebanggaan, bahkan candu, ia berani mempertanyakan dan, bahkan, menggugat Pancasila itu sendiri. Akan tetapi, semoga saja, keteledorannya menyatakan Pancasila tidak memiliki kesadaran untuk merawat alam, bukanlah dampak dari gagapnya Kampus dan Fakultas Pancasila itu. Semoga bukan akibat dari selama ini Unies dijejali oleh Pancasila dalam tafsiran Notonegoro yang menjadi tafsiran wajib di Fakultas Filsafat.

Unies memulai tulisannya dengan fenomena perayaan Hari Pancasila, 1 Juni kemarin. Menurutnya, perayaan itu sepatutnya dijadikan momen untuk kembali merefleksikan Pancasila. Dari refleksi itulah Unies kemudian mengemukakan kesimpulan seperti yang sudah disinggung di muka. Di titik ini, saya ingin mengatakan: cara untuk menjadikan perayaan Hari Pancasila sebagai momen untuk kembali merefleksikan Pancasila yang terbaik, bisa dimulai dengan membaca kembali Pidato 1 Juni-nya Sukarno. Lewat pidato itulah, Pancasila pertama kali dirumuskan, itupula sebabnya, 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Jika saja, Unies mau membaca kembali pidato yang disampaikan Sukarno dalam sidang BPUPKI, tahun 1945 silam, saya yakin ia tidak akan gegabah menarik argumen yang menyatakan Pancasila tidak memiliki kesadaran untuk merawat alam. Pasalnya, dalam pidato tersebut, Sukarno memaparkan teori-teori bangsa. Selain menyandarkan argumen (yang Sukarno sebut) dari Ernest Renan[1] dan Otto Bauer, Sukarno juga melengkapi teori bangsanya dengan bersandar pada teori yang ia sebut Geopolitik. Berikut ini yang disampaikan oleh Sukarno dalam Pidato 1 Juni 1945:

“Kemarin kalau tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo atau tuan Moenandar, mengatakan tentang “Persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dan bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan “Germeinschaft”nya dan perasaan orangnya, ‘I’ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan”.[2]

Kendati tidak secara eksplisit disebutkan oleh Sukarno bahwa dengan Pancasila kita harus menjaga alam, namun setidaknya, di sana sudah termuat kesadaran akan kelestarian alam secara implisit. Melalui term “persatuan manusia dan tempatnya”, ”rakyat dan bumi yang ada di bawah kakinya”, Sukarno mengantisipasi kesadaran akan kelestarian alam (bumi yang dipijak itu!) untuk terus membangun dan menjaga kehidupan berbangsa.

Mari kita pikirkan, apabila alamnya, buminya tidak dijaga dan dibiarkan rusak, bukankah dengan begitu maka kesatuan antara manusia dan tempatnya, kesatuan antara rakyat dan bumi di bawah kakinya, akan rusak dan hilang pula? Dengan begitu bukankah apa yang disebut sebagai “Indonesia” akan lenyap? Jika buminya rusak dan lenyap, apa yang terjadi pada manusianya?

Persoalan geopolitik atau persatuan manusia dan tempatnya bukan hanya perkara pertahanan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, yang katanya harga mati) ini. Menjaga geopolitik Indonesia bukan hanya menjadi tugas Tentara Nasional Indonesia (TNI), tapi tugas kita semua. Bukan hanya tugas yang dijalankan dengan bersenjata, tapi juga tugas untuk menjaga kelestaraian alam.

Untuk memiliki kesadaran merawat alam, Pancasila tidak harus mengeksplisitkannya dalam salah-satu sila yang ada pada dirinya. Begitupun kita, untuk melihat bahwa alam memiliki posisi yang signifikan dalam Pancasila, tidak harus terpaku dari disebut atau tidaknya kata “alam” dalam sila-silanya, seperti yang dilakukan Unies. “Jika kita amati, kelima sila dalam Pancasila tak ada satu pun yang menyebutkan alam, bahkan satu kata pun” demikian kata Unies, yang menunjukan betapa kakunya ia dalam melihat Pancasila.

Saya tidak tahu, apakah Unies membangun argumen dan kesimpulannya hanya dari analisa sekilas, hanya dengan melihat sila-sila yang ada pada Pancasila? Ataukah Unies membangun itu, dengan menyandarkan pada literatur dan tafsir lain soal Pancasila? Apakah, karena ia hanya membaca Pancasila via Yudi Latief, Rocky Gerung, atau Notonegoro?

Jika iya, Unies harus kembali membaca pidato-pidato Sukarno sendiri soal Pancasila, terutama Pidato 1 Juni-nya. Karena hanya dengan membaca dan mengikuti Sukarnolah—sebagai penggali dari Pancasila itu sendiri—kita mendapat pemahaman yang utuh tentang Pancasila, apalagi jika kita sama-sama menyepakati 1 Juni sebagai Hari Lahr Pancasila. Selain itu, yang terpenting, dengan menyandarkan pada yang disampaikan Sukarnolah, kita tidak kehilangan nilai revolusioner dari Pancasila.

Tapi, bagaimanapun, karena Unieslah, saya akhirnya memiliki kesempatan dan mood untuk menulis soal ini—yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan. Semoga kita bisa cepat bersua, ngopi sambil diskusi di kantin Fakultas.

Seperti yang saya sampaikan di atas, kesadaran kelestarian alam dalam Pancasila, memang masih implisit. Namun bukan berarti dengan begitu, kita sebut tidak ada sama sekali. Justru menjadi tugas kita untuk mengeksplisitkan kesadaran itu, agar Pancasila tidak melulu dijadikan slogan dan dikhianati. Dengan begitu, kita akan memiliki dasar yang semakin kuat untuk mengutuk Ganjar dan Jokowi yang mengaku nasionalis tapi merusak alam lewat pembangunan-pembangunan infrastruktur yang dilakukannya.***

 

Penulis adalah Mahasiswa Filsafat non-aktif dan Mantan Wakabid Kaderisasi GMNI 2014-2016.

 

———–

[1] Argumen Sukarno soal Ernest Renan ini pernah dibantah oleh Daniel Dekadae dalm tulisannya di Jurnal Prisma Edisi Khusus ‘Membongkar Sisi Hidup Putra Sang Fajar”. Tapi ketika saya menulis ini, jurnal tersebut tidak ada didekat saya, jadi saya tidak bisa menuliskan keterangan lengkap soal ini.

[2] Pidato 1 Juni Soekarno dalam Sukarno. 2008. Pancasila Dasar Negara: Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila. Yogyakarta: PSP UGM. Hal. 12-13

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus