Pancasila dan Alam

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

TANGGAL 1 Juni kemarin, kita memperingati hari kelahiran Pancasila. Banyak yang membicarakan mengenai Pancasila. Yang paling ramai, setahu saya, adalah unggahan-unggahan foto di Internet dengan kalimat “Saya Indonesia Saya Pancasila” di pinggir kanan. Akhir-akhir ini memang Pancasila sedang banyak diperbincangkan. Mungkin karena kegaduhan yang kerap kali terjadi di negeri ini. Kegaduhan-kegaduhan berbau agama yang sering berakhir dengan konflik horizontal antarmasyarakat.

Momentum ini saya rasa tepat untuk merefleksikan kembali Pancasila secara mendasar. Bagaimana posisi Pancasila di era kontemporer? Apakah Pancasila punya jawaban atas segala permasalahan saat ini? Apakah Pancasila, seperti yang diucapkan banyak orang, adalah yang terbaik? Di sini saya harus menyatakan: tidak. Menurut saya, ada satu hal mendasar yang terlewat dalam Pancasila. Hal tersebut ialah kesadaran akan tanggungjawab merawat alam.

Jika kita amati, kelima sila dalam Pancasila tak ada satu pun yang menyebutkan alam, bahkan satu kata pun. Menurut saya ada kejanggalan, sebab dari zaman dahulu kita selalu mendengar slogan-slogan seperti gemah ripah loh jinawi, Indonesia negeri yang kaya, tanah kita tanah surga, atau kalimat-kalimat indah lain. Namun, dengan ketiadaan aspek alam dalam Pancasila, kekayaan alam yang tercermin dalam slogan-slogan tersebut menjadi barang yang diterima begitu saja. Dalam arti, kita menganggap alam sebagai eksternalitas yang sifatnya tak terbatas dan selalu ada bagi manusia. Padahal, alam jelas bersifat terbatas. Bumi yang gemah ripah ini seakan dianggap akan selalu seperti itu, tak peduli bagaimana pun ia dieksploitasi.

Meski begitu, hal ini dapat dipahami mengingat Pancasila dirumuskan pada tahun 1945. Pada masa itu, kesadaran mengenai kerusakan alam belumlah ada. Tahun 1945 adalah tahun dimana dunia akan berubah drastis. Kondisi dunia pasca-Perang Dunia membuat perkembangan besar-besaran di berbagai bidang. Berdasarkan penelitian Steffen, dkk. yang berjudul Global change and the earth system: a planet under pressure (2004), dalam masa itu terjadi peningkatan populasi manusia dan populasi urban. Turut pula naik konsumsi berbagai hal seperti air, pupuk, kertas, kendaraan bermotor, dan alat komunikasi. Globalisasi yang santer terdengar pun mendorong naiknya investasi di negara-negara berkembang dan juga naiknya tingkat pariwisata internasional. Peristiwa yang terjadi pada era 1950-an ini disebut sebagai “The Great Acceleration”.

Sayangnya, hal itu diiringi pula dengan berbagai pengaruh manusia dalam merubah bumi dalam skala global. Konsentrasi CO2, N20, dan CH4 di atmosfer yang meingkat tajam. Pengikisan ozon dan naiknya suhu juga naik secara eksponensial. Frekuensi banjir pun makin meningkat. Di ekosistem laut, konsumsi ikan membuat eksploitasi perikanan meningkat tajam. Di daratan, pembukaan hutan membuat banyak hutan hujan tropis dan daerah berhutan hilang dengan sangat cepat. Berbanding lurus dengan hal tersebut, jumlah lahan yang digunakan manusia meningkat.

Awalnya, tak ada yang terlalu ambil pusing mengenai efek yang dihasilkan aktivitas manusia pada alam. Baru pada era ’90-an perhatian itu menyebar ke berbagai pihak. Bahkan, berdasarkan artikel Steffen, dkk. yang berjudul The Anthropocene: conceptual and historical perspectives (2011), komunitas ilmiah baru menyatakan bahwa iklim bumi memanas akibat aktivitas manusia pada 2001.

Dengan kondisi dunia yang sudah berubah, Pancasila pun harus turut berkembang. Ketiadaan aspek alam dalam Pancasila membuat alam menjadi hal yang luput dari perhatian. Kerusakan-kerusakan alam terus terjadi di Indonesia. Contohnya, kebakaran hutan tahunan yang membuat Indonesia pengimpor asap ke negara-negara tetangga, deforestisasi besar-besaran di Kalimantan, dan pembangunan pabrik-pabrik semen di wilayah pertanian untuk menyebut beberapa. Alam tak boleh lagi dianggap sebagai sumber daya yang tersedia begitu saja untuk kita ambil. Jika alam Indonesia terus-terusan di eksploitasi, masihkah ia gemah ripah loh jinawi? Masihkah tanah kita tanah yang kaya jika tiap harinya ia dikuras untuk kebutuhan manusia yang tak terbatas? Dimanakah surga yang disebut jika setiap sentimeter surga itu dibabat habis?

Bagaimana pula kita hendak menangani fenomena seperti perubahan iklim yang begitu mengkhawatirkan jika aspek alam bahkan tidak dipertimbangkan dalam dasar negara? Perubahan iklim bumi yang memanas berimplikasi pada sistem bumi secara keseluruhan. Berdasarkan berita NASA pada tahun 2016 yang berjudul Why a half-degree temperature rise is a big deal, peningkatan suhu global 2 derajat celcius saja dapat memberikan dampak luar biasa bagi bumi. Contohnya, panas berkepanjangan, badai, naiknya permukaan laut yang signifikan, karang-karang di daerah tropis akan hilang, dan pasokan air di daerah Mediterania akan semakin berkurang. Hal ini ditambah dengan dampak buruk bagi pertanian, khususnya bahan pangan primer.

Pancasila memang sudah mencakup banyak hal. Ia membahas tentang tuhan, kemanusiaan, kesatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Aspek-aspek tersebut memanglah penting dan sesuai pada zamannya. Dalam konteks negara yang baru saja merdeka dan menghadapi kenyataan dunia pasca-Perang Dunia, aspek dalam tiap sila tersebut pas. Namun, dalam menghadapi isu-isu ekologis semacam perubahan iklim, kita butuh aspek baru dalam Pancasila.

Dengan penjabaran di atas, menurut saya jelas kita perlu mempertimbangkan aspek alam dalam dasar negara. Ketiadaan aspek alam membuat Pancasila tak lagi relevan dalam menghadapi bumi yang sedang gonjang-ganjing ini. Di sini saya setuju dengan pernyataan Rocky Gerung bahwa Pancasila tidak pernah final dan Pancasila bukanlah Panacea. Kenyataan yang kita hadapi terus berubah dan semestinya pemaknaan kembali atas Pancasila harus mesti dilakukan. Maka dari itu, perubahan jelas dibutuhkan. Sebab, Pancasila tidak sama dengan kitab suci yang berlaku abadi dan bisa menjelaskan segala fenomena di segala zaman.***

 

Penulis saat ini sedang berkuliah jurusan Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Aktif di organisasi jurnalistik BPPM BALAIRUNG UGM

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus