Corbyn dan Politik Anti-Baper Ketika Kalah Pemilu

Print Friendly, PDF & Email

 

Jeremy Corbyn dalam sebuah acara Partai Buruh pada 2015 (ilustrasi: Independent.co.uk)

 

KANDIDAT Anda kalah dalam Pemilu? Tidak usah baper, bersedih hati, lantas membeli bunga dan menyalakan lilin untuk meratapi diri sendiri. Belajarlah dari teman kita yang baru-baru ini naik daun: Jeremy Corbyn.

Ada satu adagium politik yang cukup terkenal: dalam politik, kita bisa ditikam dan hidup kembali berkali-kali. Jeremy Corbyn, seorang aktivis Partai Buruh veteran, adalah buktinya. Ia memulai karier dari posisi yang kurang populer: dikenal sebagai politisi kiri hardcore di tahun 1980an, lalu terpilih menjadi anggota parlemen di Westminster ketika kekuatan sayap kiri di Partai Buruh baru saja kalah telak di Pemilu 1983 dan 1987, menghadapi Margaret Thatcher dan program-program neoliberalnya.

Masa-masa itu adalah masa yang kurang bahagia bagi serikat buruh dan gerakan kiri Inggris pada umumnya. Di pertengahan 1980an, Thatcher melancarkan skema pasar bebas di seantero negeri, menyerahkan BUMN pada mekanisme pasar, sehingga banyak pabrik di sekitar Yorkshire, Hull, dan Inggris bagian utara tutup. Aktivis serikat buruh marah besar. Mereka melancarkan senjata pamungkasnya: pemogokan, yang berhasil melumpuhkan fasilitas-fasilitas publik (terutama di Inggris bagian utara). Pemerintah Konservatif meresponsnya dengan tangan besi: mereka meregulasi ulang aturan pemogokan, menutup pabrik-pabrik di Yorkshire dan menyuruh buruh-buruhnya mencari pekerjaan lain.

Mungkin ini yang membuat nama Margaret Thatcher sangat buruk di kalangan Inggris utara, terutama Sheffield dan Yorkshire Selatan.

Di pemilu 1983, Partai Buruh pimpinan Michael Foot, seorang politikus sayap kiri yang cukup radikal, kalah telak. Kekalahan ini berimbas pada lolosnya undang-undang yang mengatur serikat buruh, merepresi gerakan buruh di seantero negeri, dan dengan sempurna menjadikan negeri itu pionir neoliberalisme (sebelum akhirnya ditransfer ke belahan dunia lain satu dekade setelahnya).

Corbyn mula-mula terpilih tahun 1987, ketika Neil Kinnock, politikus yang dikenal sebagai sayap ‘modernis’ (sering pula disebut sayap kanan dari Partai Buruh), mengambil alih komando Partai. Kinnock terpilih bersamaan dengan masuknya gerbong politikus Buruh sayap modernis, yang di dekade 1990an dikenal sebagai pionir New Labour: Tony Blair, Gordon Brown, Jack Straw, dan sederet politikus New Labour lain.

Posisinya kala itu tentu saja tidak begitu populer. Selain Corbyn, hanya ada beberapa politikus yang istiqomah dengan politik kiri—tentu Kiri dalam tradisi Inggris, yang sangat kental dengan tradisi serikat. Di antaranya ada Tony Benn, seorang aktivis anti-perang, anti-nuklir, dan anti-apartheid, plus Ken Livingstone, pentolan Partai Buruh di London yang punya visi ekonomi radikal. Pendekatan Corbyn dan Benn –belakangan dikenal sebagai kubu Bennite—sangat jelas: sosialisme (demokrasi) dalam ekonomi, anti-Perang dalam politik internasional, dan nasionalis dalam politik domestik.

Posisi ini mengantarkan Corbyn dalam konflik dengan kelompok anak-anak muda ‘sayap kanan’ yang lagi naik daun macam Tony Blair dan kawan-kawannya. Blair tidak begitu skeptis dengan politik neoliberal Thatcher. Bahkan dalam Manifesto Pemilu 1997, di mana Blair memperkenalkan New Labour secara terbuka, ia bahkan mengapresiasi keberhasilan Thatcher dalam membangun ekonomi Inggris. Lebih parah lagi, kelak ia malah mengirim tentara ke Perang Iraq.

Dengan posisi ini Corbyn mula-mula berhadapan bukan dengan Konservatif, tapi di partainya sendiri!

Tapi sejak terpilih di kursi parlemen tahun 1983, ia tetap kukuh. Di Prime Minister’s Questions, ajang debat mingguan antara anggota-anggota parlemen dengan perdana penteri, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dari backbench (posisi tanpa jabatan bagi partai pemenang pemilu) kepada Tony Blair, rekan separtainya sendiri, terutama ketika Perang Iraq. Corbyn pun dituduh mengakomodasi gerilyawan IRA di tahun 1980an—sebuah tuduhan yang kemudian tidak terbukti. Ia bahkan ditangkap ketika turun ke jalan memprotes perang.

Tapi kesabaran revolusioner Corbyn membawa berkah. Ketika krisis finansial global terjadi tahun 2008 dan mengantarkan Partai Buruh (waktu itu di bawah pimpinan Gordon Brown) kalah Pemilu tahun 2010. Pemilu masa itu berakhir dengan hung parliament. Partai terbesar, Konservatif pimpinan David Cameron, membangun pemerintahan koalisi dengan Liberal Demokrat. Lima tahun kemudian, Ed Miliband, pemimpin Partai Buruh sepeninggal Brown, gagal menyelamatkan Partai. Konservatif makin berjaya.

Tapi kekalahan Partai Buruh di tahun 2015 justru menuai berkah bagi Corbyn. Setelah 30 tahun lebih berada di backbench, ini saat dia untuk tampil –dan menang. Corbyn, yang hanya lulusan SMA, mengalahkan beberapa politikus sayap kanan Partai uruh lulusan Oxford dan Cambridge. Ia resmi menjadi Pemimpin oposisi tahun 2015, menghadapi Partai Konservatif yang kian berjaya.

Masalahnya, dengan track record Corbyn selama ini, musuhnya bukan hanya dari luar partai, tapi juga dari rekan-rekan sejawatnya. Berkali-kali Menteri Bayangan (anggota parlemen dari partai oposisi yang bertugas mengkritisi partai yang berkuasa) yang dipilih Corbyn mengundurkan diri. Puncaknya, ketika Inggris memilih keluar dari Uni Eropa, Corbyn didesak untuk mundur. Ia ditantang dalam sebuah pemilihan ketua Partai Buruh di tahun 2016 oleh seorang anak muda yang baru terpilih di parlemen, Owen Smith.
Tapi lagi-lagi Corbyn menang. Dengan dukungan kuat dari serikat buruh yang berafiliasi kepada Partai Buruh (terutama Unite, satu federasi Serikat Buruh terbesar di Inggris), Corbyn menghempaskan lawan-lawan politiknya di Konferensi Partai 2016. Situasinya tidak mengenakkan, karena Corbyn bukan hanya dituduh gagal memimpin Partai di kala kampanye referendum Uni Eropa, tapi juga dalam pemilihan kepala daerah dimana Partai Buruh harus turun pangkat di Skotlandia.

Tapi apakah Corbyn menjadi baper dengan kekalahan itu? Ternyata tidak. Alih-alih membeli ribuan karangan bunga dan menyalahkan massa, ia membangun ulang partai. Ia menghantam Theresa May, perdana menteri baru, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Sistem Kesehatan Nasional, Harga Perumahan yang kian melonjak, dan pendidikan yang makin tak terjangkau. Corbyn rutin membangun jaringan anak muda melalui Komunitas yang mendukungnya, Momentum.

Dan momentum itu akhirnya datang di Pemilu 2017, ketika Theresa May memutuskan untuk mengadakan Pemilu untuk membangun ‘Pemerintahan yang Kuat dan Stabil’. Pemilu itu mestinya menjadi pesta bagi Partai Konservatif, dengan Partai Buruh yang terbelah dan oposisi yang tercerai-berai. Seorang Politikus Konservatif bahkan melempar cuitan di twitter, ‘Kampanye kami jadi seperti jalan-jalan di taman’.

Dan memang Konservatif hanya bisa jalan-jalan di taman. Kampanye dibuka, dan Theresa May datang dengan Manifesto dan program-program yang membuat marah anak-anak muda Inggris. Sebaliknya, Corbyn tetap setia dengan program yang ia anut sejak 1980an: nasionalisasi sistem perkereta-apian nasional, perbaikan NHS, reformasi sistem perbankan, dan meninjau ulang politik luar negeri. Hasilnya, Hung Parliament! Partai Buruh mendapatkan suara terbesar sejak 2001 plus dapat tambahan 35 kursi, Konservatif kehilangan 27 Kursi, dan Partai Konservatif harus mengemis dukungan ke partai-partai kecil untuk membentuk Kabinet karena suara mereka tidak mencapai mayoritas.

Terakhir, Theresa May mengonfirmasi dukungan 10 suara dari Democratic Unionist Party, sebuah partai lokal di Irlandia Utara, untuk membangun pemerintahan. Persis 326 suara, jumlah sangat minimal untuk membangun Pemerintahan.

Well, Corbyn belum jadi perdana penteri. Mari kita lihat ke depan. Tapi ini adalah pesta bagi Corbyn dan Partai Buruh. Ditikam berkali-kali, dikucilkan dari partai, tapi tetap kekeuh dan—ini yang penting—tetap bersama massa. Beberapa lembaga survey macam YouGov melansir dukungan anak-anak muda yang kian besar ke Partai Buruh, membuat kocar-kacir politikus Konservatif dan Liberal Demokrat di beberapa konstituen. Sekarang, momentumnya kian besar: membangun jaringan politik alternatif melawan politik neoliberal Konservatif, dan menjadi pembelajaran bagi gerakan-gerakan progresif di seluruh dunia.

Dan dari Corbyn kita mungkin bisa belajar: tidak perlu baper dan menyalahkan massa jika kalah Pemilu. Mungkin, kita hanya perlu lebih istiqomah dalam prinsip, maju dalam pengetahuan, dan teguh dalam perbuatan….***


comments powered by Disqus