Kapitalisme versus Iklim

Print Friendly, PDF & Email

Judul             : This Changes Everything
Penulis           : Naomi Klein
Penerbit         : Penguin Group
Kota Terbit    : New York
Tahun             : 2014
Tebal              : 566 halaman

this-changes-everything-9781451697391_hr

 

DI PENGHUJUNG 2014, Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan bahwa dia akan membuka 35 Gigawatt pembangkit tenaga listrik baru, dimana 22 ribu Megawatt-nya berasal dari batu bara. Untuk tujuan itu, ia merevisi target produksi batu bara, dari 425 juta ton menjadi 460 juta ton. Penggenjotan produksi batu bara ini bukan tanpa sebab. Menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, batu bara dapat digunakan sebagai sumber energi listrik yang diproduksi Perusahaan Listrik Negara (PLN). Terlebih menurutnya distribusi listrik masih sangat kurang. Diprediksi, dengan penambahan ini, pemasukan negara dari sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) akan bertambah hingga 10 triliun.[1]

Langkah yang diambil oleh pemerintah tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang sedang dilakukan oleh negara lain seperti Jerman, Denmark, dan Cina. Negara-negara itu justru berusaha menekan dan meninggalkan penggunaan batu bara dan menggantinya dengan energi alternatif. Negara-negara tersebut sadar betul dengan dampak lingkugan dari pengguaan batu bara. Mereka sadar bahwa penggunaan energi itu berkontribusi besar terhadap pemanasan global dan bencana alam lain yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Riset dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa industri batu bara menghasilkan polusi yang terdiri dari zat-zat beracun seperti merkuri, arsenik, timbal serta partikel-partikel kecil berbahaya lainnya, yang menyebar terutama melalui udara dan menyebabkan kematian prematur. Kematian prematur akibat polusi batu bara di Indonesia tercatat sebanyak 6.500 orang per tahun. Greenpeace menyebut bahwa rencana pemerintah membuka pembangkit tenaga listrik batu bara itu akan meningkatkan angka kematian prematur hingga 28.300 orang per tahun. [2] Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa batu bara, sebagai salah satu sumber bahan bakar utama, selain berdampak buruk terhadap kesehatan manusia juga berdampak buruk terhadap pertanian, perikanan, lingkungan serta merusak ekosistem.

Dalam hal ini, buku Naomi Klein yang berjudul This Changes Everything menjadi penting untuk diulas. Buku ciptaan aktivis sosial asal Kanada itu mengupas dampak perubahan iklim yang sedang dialami oleh seluruh makhluk bumi, serta apa yang sebenarnya mendorong perubahan iklim hingga menjadi masif dan cepat.

 

Apa yang Sedang Terjadi

Argumen Klein dalam buku ini dapat diringkas sebagai berikut: selama pasar bebas atau kapitalisme masih menjadi corak produksi utama dunia, dan model ekonomi itu tidak diubah, maka masalah-masalah perubahan iklim akan selalu ada dan semakin memburuk. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kapitalisme-lah yang menyebabkan terjadi dan mempercepatnya perubahan iklim.

Perubahan iklim terjadi sangat cepat selama 200 tahun terakhir. Perubahan tersebut berakibat pada rusaknya ekosistem serta munculnya berbagai bencana alam.[3] Pengaruh dari perubahan iklim terlihat jelas dari meningkatnya intensitas bencana dari tahun 1970an hingga 2000an sebesar lima kali lipat. Belum lagi fenomena gagal panen, keasaman air laut yang meningkat, serta kepunahan berbagai makhluk hidup yang jelas menunjukkan hal ini bukanlah kejadian biasa.

Didorongnya privatisasi, deregulasi, serta rendahnya pajak korporasi atas nama pertumbuhan ekonomi mengakibatkan semakin cepatnya perubahan iklim. Selain Klein, hal ini juga dinyatakan oleh geografer Marxis David Harvey. Menurutnya, ada hubungan kuat antara neoliberalisasi yang mulai menggeliat pada 1970an dengan kerusakan lingkungan. Harvey menambahkan bahwa neoliberalisasi menyebabkan perubahan iklim yang cepat dan ‘berhasil’ membuat spesies-spesies punah dan merusak bumi, hingga tidak mengherankan jika suatu saat planet ini tak bisa lagi menjadi tempat tinggal makhluk hidup.[4]

Walaupun ada banyak bukti valid mengenai perubahan iklim, namun tidak sedikit juga kelompok maupun individu yang tidak percaya dengan fenomena ini. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, Partai Republik menganggap perubahan iklim adalah mitos. Klein memperjelas bahwa posisi politik seseorang berpengaruh terhadap pandangan mereka tentang perubahan iklim. Mereka biasanya menolak hasil penelitian ilmiah itu juga dengan riset ‘ilmiah’ yang dikeluarkan oleh wadah pemikir (think tank) yang didanai oleh Partai Republik.

Salah satu think tank yang aktif menepis perubahan adalah Heartland Institute. Mereka giat mengeluarkan hasil penelitian melalui jurnal maupun buku, serta mengadakan konferensi tandingan. Mereka menganggap bahwa isu perubahan iklim merupakan taktik untuk menyetir AS menjadi negara sosialis.

 

Kontradiksi-kontradiksi dalam Memerangi Perubahan Iklim

Dengan fakta-fakta tersebut, idealnya perubahan iklim menjadi kesempatan untuk menyatukan kembali kelompok-kelompok masyarakat untuk menemukan alternatif lain di luar kapitalisme. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Perubahan iklim dipakai oleh korporasi-korporasi sebagai pasar baru guna mengakumulasi kekayaan. Kontradiksi ini misalnya terjadi dalam perjanjian perdagangan bebas dengan perjanjian perubahan iklim, kontradiksi dalam tubuh Gerakan Hijau, pemerintah, ilmuwan dan juga pengusaha maupun korporasi yang melabeli diri mereka dengan sebutan ‘hijau’.

Banyak kasus dimana jika ada negara menggunakan energi alternatif/terbarukan, maka mereka akan diperkarakan dengan dalih pelanggaran terhadap perjanjian perdagangan bebas. Hal ini pernah dialami oleh Kanada yang memperkenalkan kebijakan feed-in tariffs program.[5] Karena kebijakan ini, Kanada dianggap proteksionis dan melanggar perjanjian World Trade Organization (WTO) dengan mempromosikan industri yang menyerap tenaga kerja lokal serta menggunakan bahan-bahan lokal.

India juga pernah memperkenalkan penggunaan energi terbarukan yang menekankan pada industri lokal. Namun, sama dengan Kanada, usaha ini diserang oleh AS karena mereka dianggap melakukan kebijakan proteksionis.

Perjanjian-perjanjian terkait perubahan iklim bukannya tidak ada. Namun perjanjian tersebut akan selalu kalah jika ‘dibenturkan’ dengan perjanjian perdagangan bebas. Salah satu perjanjian paling penting terkait perubahan iklim adalah Kyoto Protocol tahun 1997, yang diadakan oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), sebuah lembaga khusus di bawah PBB. Garis besar Kyoto Protocol adalah untuk mengikat negara-negara yang meratifikasinya agar berpartisipasi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, perflourocarbon, hidroflourokarbon dan sulfur hexaflourida). Namun, ketika ada negara mengambil langkah konkrit untuk menerapkannya, mereka dihadapi oleh perjanjian perdagangan bebas yang juga mengikat. Padahal, dalam perjanjian perdagangan bebas, tidak ada aturan mengenai sumber energi apa yang seharusnya digunakan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perjanjian perdagangan bebas lebih mengikat dibanding perjanjian terkait perubahan iklim. Perjanjian perdagangan bebas juga menjadi tameng korporasi-korporasi multinasional untuk terus melakukan ekstraksi di luar negara asal mereka. Selama perdagangan serta pasar bebas masih diagungkan, maka usaha-usaha dalam memperkenalkan dan menerapkan program ramah lingkungan untuk memerangi perubahan iklim akan sia-sia.

Kontradiksi juga terjadi dalam tubuh Gerakan Hijau. Dalam bukunya, Klein mengatakan bahwa tidak sedikit dari Gerakan Hijau justru bermitra dan turut serta dalam pelanggengan penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan seperti batu bara, minyak dan gas. Disebutkan, salah satu Gerakan Hijau yang dimaksud adalah The Nature Consevation, Conseravtion International dan World Wildlife Fund (WWF). Mereka mendapatkan donasi sangat besar dan bermitra dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang bahan bakar serta perusahaan-perusahaan yang merupaka penghasil polusi utama seperti Walmart, Chevron, dan ExxonMobile. Selain hubungan dalam bentuk donasi dan kemitraan, ada juga hubungan struktural antara keduanya. Misalnya, orang-orang dari British Petroleum Amerika, Chevron dan Shell adalah dewan bisnis The Nature Conservation.

Lebih jauh lagi, The Nature Conservation disebut turut serta dalam proses ekstraksi minyak dan gas di tempat konservasi. Organisasi tersebut awalnya mengambil alih usaha konservasi Attwater’s Prairie Chicken (sejenis burung yang hampir punah akibat ekstraksi minyak dan gas di daerah Texas, AS). Namun, beberapa tahun kemudian, The Nature Conservation justru menjadi operator ekstraksi minyak dan gas di tempat itu. Laporan investigatif ini dilansir oleh Los Angeles Times dan The Washington Post. Mereka memakai data statistik yang menunjukkan jumlah burung yang semakin sedikit, dan akhirnya benar-benar punah.Tentu sikap berbagai kelompok yang tergabung dalam Gerakan Hijau tetapi tidak menunjukkan resistensi terhadap perusahaan-perusahaan ini perlu dipertanyakan.

Suksesi pemerintahan di AS pada 1980, dimana menempatkan Ronald Reagan sebagai presiden, turut serta mempengaruhi orientasi Gerakan-gerakan Hijau. Reagan (bersama Margaret Thatcher di Inggris) adalah sesepuh neoliberalisme, dan sejak kepemimpinannya, kebijakan pro lingkungan yang berhasil direalisasikan pada medio 1960 hingga 1970 perlahan dipreteli.[6] Pemerintahan Reagan resisten, dan mencabut kebijakan-kebijakan pro lingkungan. Pasca perubahan ini, Gerakan Hijau yang tadinya diikutsertakan dalam pembuatan kebijakan dan aktif dalam menuntut korporasi-korporasi perusak lingkungan menjadi tidak punya posisi tawar.

Pasca perubahan posisi politik itu, Gerakan Hijau kemudian mengadopsi pendekatan pro-korporasi dan pro-pasar. Implikasinya, mereka menjadi sulit mengambil langkah yang bersebrangan dengan korporasi, plus juga sulit mendesak pemerintah mengawasi dan menghukum perusahaan perusak lingkungan. Di satu sisi, Gerakan Hijau justru semakin memberatkan peran pelestarian lingkungan ke pundak konsumen. Mereka, misalnya, mulai menyerukan agar konsumen membeli produk-produk ramah lingkungan, yang biasanya dibanderol dengan harga lebih mahal daripada produk-produk konvensional. Sementara sedikit dari mereka yang menyuarakan agar korporasi diregulasi dan bertanggung jawab atas polusi yang dihasilkan.

Selain itu, Gerakan Hijau (yang disebut Klein dengan Big Greens) mendorong cap-and-trade, yang justru menjadikan karbon sebagai komoditas. Kebijakan cap-and-trade menetapkan batasan emisi karbon yang dapat dikeluarkan oleh korporasi. Namun, jika mereka ingin mengeluarkan emisi karbon lebih dari batasan yang ditentukan, maka mereka diperbolehkan membeli kredit karbon dari korporasi-korporasi yang tidak menggunakan batasan mereka secara maksimal. Melalui cap-and-trade, korporasi-korporasi penghasil polusi terbesar tetap bisa berjalan seperti biasa karena dapat dengan mudahnya membayar melalui kredit karbon.

Korporasi-korporasi dan multimiliuner dunia (seringkali mereka yang disebut sebagai tokoh inspirasional seperti Bill Gates dan Richard Branson) tidak mau ketinggalan turut serta dalam memerangi perubahan iklim. Akan tetapi, solusi mereka lagi-lagi masih dalam usaha untuk mengejar keuntungan.

Richard Branson, pemilik perusahaan Virgin Grup yang merambah berbagai bidang termasuk transportasi misalnya, mulai ‘tergerak’ utnuk ikut mengambil langkah terkait perubahan iklim pada tahun 2006. Saat itu, Al Gore (mantan Wakil Presiden AS dan aktivis lingkungan) mendatangi Branson untuk mempresentasikan sejauh mana bahaya perubahan iklim dan bagaimana perubahan iklim dapat terjadi. Branson kemudian berjanji mengucurkan dana sebesar 3 miliar dolar selama 10 tahun. Ia juga menggelar sayembara dengan nama earth challenge. Tujuannya, ia mengundang siapapun yang punya ide bagaimana caranya menghilangkan gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Pemenang dari sayembara ini akan diberikan uang sebesar 25 juta dolar.[7]

Konyolnya, di saat yang bersamaan Branson justru sedang gencar-gencarnya menambah destinasi pesawat komersil di berbagai negara seperti AS, Inggris, dan Australia. Faktanya pesawat adalah salah satu sumber penghasil emisi gas rumah kaca terbesar. Dengan demikian, menambah destinasi, jadwal jam terbang, serta harga yang semakin murah justru membuat keadaan semakin buruk. Dapat dikatakan, Branson adalah tipikal orang yang berharap adanya teknologi untuk dapat menyedot gas-gas rumah kaca, tapi tanpa mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi utama itu.

Kelompok ilmuwan juga tidak ketinggalan dalam menawarkan alternatif dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu organisasi ilmuwan ternama, Royal Society asal Inggris, dalam salah satu risetnya mengatakan bahwa cara mendasar untuk menghadapi perubahan iklim adalah dengan geoengineering. Ada dua cara utama dalam geoengineering, Solar Radiation Management (SRM) dan Carbon Dioxide Removal (CDR). SRM merupakan teknik yang berusaha untuk memblokir sinar matahari yang masuk ke bumi agar memantul kembali ke angkasa.[8] Tujuannya adalah untuk mengurangi panas matahari ke bumi, dan dengan dengan begitu diharapkan pemanasan global bisa dikurangi.

Menurut Klein, serta didukung oleh beberapa riset lain, SRM justru menimbulkan lebih banyak kerugian. Para ilmuwan pendukung SRM misalnya, tak pernah sama sekali mempromosikan pemangkasan emisi sebagai masalah paling fundamental. Mereka juga relatif tidak mendorong pengembangan energi alternatif. SRM juga belum pernah diuji sama sekali sehingga justru berpotensi memperburuk iklim dunia. Padahal ini berbanding terbalik dengan energi terbarukan sudah teruji penerapannya.

Alternatif-alternatif di atas, selain pengembangan energi alternatif atau terbarukan, menurut Klein bukan alternatif nyata karena justru menimbulkan masalah-masalah baru, yang tetap memiliki andil besar pada perubahan iklim. Pihak-pihak yang menawarkan alternatif lain itu tidak ingin mengubah sistem ekonomi dunia yang menguntungkan mereka. Tujuannya jelas, agar mereka terus bisa mengeruk kekayaan tanpa adanya halangan struktural seperti perjanjian pengendalian emisi. Alternatif yang demikian tidak signifikan, apalagi jika dibandingkan dengan perubahan iklim yang semakin hari semakin buruk.

Di bagian selanjutnya, Klein menunjukkan alternatif yang terbukti berhasil dalam usaha untuk memerangi perubahan iklim, yaitu melalui gerakan-gerakan akar rumput.

Naomi Klein
Naomi Klein

 

Yang Dimarjinalkan, Yang Bergerak

Di bagian selanjutnya buku ini, Klein kemudian menjabarkan beragam perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat akar rumput, yang diistilahkan dengan sebutan blockadia. Gerakan-gerakan akar rumput berusaha mengintervensi industri ekstraktif dengan turun langsung menghadapi korporasi-korporasi yang bersangkutan, menuntut balik mereka, serta pemerintah yang berpihak pada korporasi. Di berbagai belahan dunia, blockadia seringkali direpresentasikan oleh kelompok masyarakat adat. Masyarakat adat termasuk salah satu kelompok masyarakat yang terkena langsung dampak perubahan iklim.

Masyarakat adat mendapatkan kebutuhan hidup mereka sehari-hari langsung dari alam. Ketika butuh air, maka ke sumber mata air terdekat, mereka juga berburu binatang untuk makanan sehari-hari serta bercocok tanam. Sementara itu, kebanyakan dari masyarakat urban mendapatkan semua itu dari pusat-pusat perbelanjaan, sehingga tidak merasakan dampak langsung ketika ada pengeboran minyak atau gas terhadap sumber mata air.

Dengan kata lain, masyarakat adat memiliki pandangan yang berbeda dengan korporasi dalam memandang alam. Mereka tinggal dan hidup dari dan dalam alam, sedangkan korporasi melihat alam hanya sebagai komoditas yang bisa diekslopitasi. Oleh karena itu, ketika korporasi bekerja sama dengan pemerintah untuk mengeruk kekayaan alam di tempat mereka tinggal, masyarakat adat tidak tinggal diam. Beberapa catatan perlawanan masyarakat adat terjadi di Nigeria, Bolivia dan Ekuador.

Di Nigeria dan Bolivia, masyarakat adat berhasil mendorong keluar perusahaan yang bergerak di bidang ekstraktif. Salah satu kelompok masyarakat adat Nigeria yang tinggal di sepanjang delta sungai Niger­, Ogoni, di tahun 1993 melawan Shell dengan membentuk gerakan bernama Movement for the Survival of the Ogoni People (MOSOP). Gerakan tersebut menuntut Shell yang telah menduduki tanah Ogoni dan mengekstraksi sepanjang tahun 1958 hingga 1993. Gerakan ini–melalui long march dan protes damai­–selain menuntut agar Shell memberikan ganti rugi materil dan untuk segera pergi meninggalkan tanah mereka, juga menuntut pemerintah memberikan hak bagi mereka mengatur sumber daya yang ada di tanah Ogoni.

Sementara di Yunani, gerakan akar rumput melakukan resistensi terhadap perusahaan tambang. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Skouries bergerak melawan perusahaan tambang asal Kanada bernama Eldorado Gold, yang mencoba membabat hutan tempat mereka bergantung. Tidak sendirian, masyarakat didukung oleh gerakan progresif Yunani serta Partai Kiri Syriza. Pergolakan antara masyarakat anti pertambangan kemudian melawan pemerintah yang mendukung Eldorado Gold untuk tetap berjalan di Skouries. Masyarakat memblokir jalan sepanjang Skouries dan berhadapan dengan aparat yang menghadapi demonstrasi damai dengan gas air mata. Resistensi melawan pertambangan emas di Skouries kemudian menjadi isu nasional dan diperdebatkan dalam parlemen serta acara-acara televisi.

Pola resistensi gerakan akar rumput secara damai dalam melawan eksploitasi bumi biasanya ditentang oleh negara melalui aparatus represifnya. Militer dan polisi, lengkap dengan tank-tank serta senjata lainnya, diturunkan untuk menghadapi aksi massa. Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi korban. Namun, resistensi tersebut sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Misalnya, korporasi yang akhirnya batal melakukan ekstraksi, pengakuan hak masyarakat adat untuk mengatur lingkungan mereka, dan juga kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah terkait pengelolaan energi dan sumber daya alam.

Bentuk-bentuk blockadia yang dijelaskan Klein dalam buku ini juga serupa dengan bentuk resistensi gerakan akar rumput yang ada di Indonesia. Kejadian serupa ditanggapi oleh pemerintah Indonesia dengan cara yang kurang lebih sama dengan negara-negara pro korporasi lain. Blockadia yang yang dimaksud berlokasi di pegunungan Kendeng Utara, Rembang. Masyarakat adat Samin berusaha menjaga keseimbangan alam dimana mereka tinggal dari PT. Semen Indonesia yang ingin membangun pabrik. Masyarakat adat yang digerakkan oleh perempuan-perempuan Samin menolak rencana tersebut karena pabrik semen akan mencemari sumber mata air, dan akhirnya akan berpengaruh besar pada aktivitas utama mereka sebagai petani. Semangat seperti inilah yang menurut Klein dapat menjadi mesin penggerak dalam menghadapi kapitalisme dan perubahan iklim.

 

Penutup

Klein berargumen dengan gamblang bahwa hal fundamental yang harus diubah dalam memerangi perubahan iklim adalah sistem ekonomi dunia yang mengangungkan pasar dan perdagangan bebas. atau dengan kata lain, kapitalisme. Di satu sisi, Klein menaruh harapan besar pada gerakan akar rumput yang menurutnya dapat menggerakan massa untuk melawan kapitalisme. Tanpa melawan kapitalisme, memerangi perubahan iklim merupakan hal yang sia-sia.

Perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab kelompok Gerakan Hijau atau konsumen saja, melainkan seluruh penduduk bumi. Masyarakat bumi tidak cukup hanya menjadi konsumen yang baik dan membeli peralatan ramah lingkungan, sementara perusahaan-perusahaan penghasil polusi utama bisa melenggang bebas meraup keuntungan. Harus ada gerakan akar rumput yang dapat menginisiasi ini, dengan tetap belajar kultur masyarakat adat dalam memelihara alam dan hidup selaras dengannya.

Mimpi memiliki alam yang lestari dapat direalisasikan dengan pengelolaan sumber daya secara komunal, sebagaimana yang terjadi di Jerman. Langkah tersebut berhasil menekan emisi gas rumah kaca, membuka peluang untuk mengembangkan sumber energi terbarukan dengan meninggalkan batubara, minyak serta gas bumi, bahkan hingga membuka lapangan kerja. Ide seperti ini yang kemudian digabungkan dengan pengetahuan-pengetahuan masyarakat adat mengenai alam. Inilah solusi yang ditawarkan Klein dalam menghadapi perubahan iklim.

Tantangan terbesar dalam merealisasikan gerakan massa ini adalah bagaimana gerakan akar rumput mampu membangkitkan kesadaran masyarakat luas. Mereka akan terus berhadapan dengan kelompok-kelompok penantang yang menyebarkan isu tandingan, seperti Heartland Institute, yang berjuang keras untuk mengatakan bahwa perubahan iklim hanya fiktif belaka. Langkah yang bisa diambil oleh gerakan akar rumput dalam memerangi perubahan iklim adalah bersatu dengan gerakan-gerakan sosial lain. Dan, karena gerakan tersebut bersifat politis, maka gerakan akan rumput pun harus berkonsolidasi dengan Partai Kiri yang ada. Langkah tersebut menurut saya merupakan taktik yang paling konkrit sekaligus menjadi fondasi dalam memerangi kapitalisme secara menyeluruh.

 

Alwiya Shahbanu, Mahasiswa Ilmu Politik UI 2011

***

 

Daftar Bacaan

Aguirre, Jr., Adalberto , Volker Eick, & Ellen Reese. Neoliberal Globalization, Urban Privatization, and Resistance. Social Justice. Vol. 33, No. 3. 2006.

Department of Ecology State of Washington. What Is Climate Change. Diakses dari http://www.ecy.wa.gov/climatechange/whatis.htm pada 5 Mei 2016.

Harvey, David. A Brief History of Neoliberalism. New York: Oxford University Press, Inc. 2005.

Greenpeace. Human Cost of Coal Power: How Coal-Fired Power Plants Threaten The Health of Indonesians. Agustus 2015.

Jati, Gentur Putro.“Industri Pertambangan: Menkeu Bongkar Alasan Jokowi Genjot Produksi Batubara”. CNN Indonesia. 23 Desember 2014. Diakses dari

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141223095408-85-19942/menkeu-bongkar-alasan-jokowi-genjot-produksi-batubara/

Li, Minqi. Climate Change, Limit Growth, and the Imperative for Socialism. Monthly Review. Vol. 60. Issue. 03. Juli-Agustus 2008.

Robock, Alan. 20 Reasons Why Geoengineering May Be A Bad Idea: Carbon Dioxide Emissions Are Rising So Fast That Some Scientists Are Seriously Considering Putting Earth on Life Support as a Last Resort. But Is This Cure Worse than the Disease?.Bulletin Of The Atomic Scientists. Vol. 64, No. 2. Mei/Juni 2008.


 

[1] Gentur Putro Jati, “Industri Pertambangan: Menkeu Bongkar Alasan Jokowi Genjot Produksi Batubara”,CNN Indonesia,23 Desember 2014, diakses dari

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141223095408-85-19942/menkeu-bongkar-alasan-jokowi-genjot-produksi-batubara/pada 30 April 2016.

[2] Greenpeace, “Human Cost of Coal Power: How Coal-Fired Power Plants Threaten The Health of Indonesians”, Agustus 2015, hlm. 3.

[3] Department of Ecology State of Washington. What Is Climate Change, diakses dari http://www.ecy.wa.gov/climatechange/whatis.htm pada 5 Mei 2016.

[4] David Harvey, A Brief History of Neoliberalism, (New York: Oxford University Press, Inc.), 2005, hlm 172-173.

[5] Feed-in Tariffs merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah untuk mendorong industri energi terbarukan dalam skala kecil dan menekan emisi karbon. Melalui Feed-in Tariffs, pemerintah mendorong indusrti lokal untuk mengembangkan teknologi tersebut. Lihat www.fitarrifs.co.uk

[6] Kebijakan neoliberalisme Reagan bisa dilihat, misalnya, melalui pemotongan anggaran untuk kesejahteraan, pembatasan kekuatan serikat buruh, deregulasi, pelarangan tarif serta penghilangan pelarangan dalam pasar bebas.

[7] Saymebara tersebut berhasil mengumpulkan 11 finalis, namun tidak ada satupun yang disebutkan sebagai pemenang yang sesuai dengan visi dan misi dari sayembara tersebut.

[8] Oxford Geoengineering Program, What Is Geoengineering, diakses dari http://www.geoengineering.ox.ac.uk/what-is-geoengineering/what-is-geoengineering/ pada 5 Mei 2016.


comments powered by Disqus